Home > Semua Berita > Archive April 2018

Revolusi Hijau 2.0: Semua yang lama kembali baru..

Belasan desa di Sulawesi Selatan menemukan kembali metode pertanian tradisional yang meningkatkan kualitas pangan dan keuangan mereka. Melalui sekolah lapang pesisir yang diadakan Blue Forests, penduduk desa belajar untuk membuat pupuk organik dan budidaya sayur organik. Blue Forests juga mengadakan sekolah lapang untuk budidaya udang organik karena budidaya udang konvensional adalah ancaman terbesar ekosistem pesisir termasuk hutan mangrove.

Dari Kerentanan Menuju Ketahanan

Ada banyak contoh keberhasilan program rehabilitasi ekosistem mangrove berskala besar (5.000-10.000 hektar) dari seluruh dunia, sayangnya usaha rehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia, baik skala besar maupun kecil, seringkali mengalami kegagalan. Mayoritas proyek-proyek tersebut (baik program pemerintah maupun non-pemerintah) terlalu menyederhanakan hal-hal teknis dari rehabilitasi mangrove. Mereka lebih suka menanam langsung sub-kelompok spesies mangrove terbatas (dari family Rhizophoracea) umumnya di bagian bawah sistem intertidal (dari level lautan rata-rata sampai atmospheric tide terbawah), di mana mangrove secara alami tidak tumbuh. Selain dari kurangnya evaluasi hal-hal teknis, rehabilitasi seringkali menargetkan rawa-rawa karena hutan mangrove yang benar-benar terdegradasi seringkali dikaitkan dengan isu tenurial yang membutuhkan usaha dan investasi lebih.

Pulau Tanakeke Dulu dan Kini

Kurang lebih setelah 1 jam perjalanan dengan perahu dari Kota Takalar (populasi 10.000) di Sulawesi Selatan, kami mulai melihat botol-botol plastik kosong terapung di permukaan laut, bukan hanya satu-dua, tapi ribuan. Mereka bukanlah bagian dari armada sampah yang konon terhanyut menuju tengah-tengah Samudera Pasifik. Botol-botol ini terapung dalam barisan yang rapi, seperti memang disusun secara sengaja. Sampah seseorang adalah harta bagi orang lain. Botol-botol kosong ini, setelah dengan begitu saja dibuang, merupakan modal usaha dari banyak penduduk di Pulau Tanakeke. Tali plastik tebal yang dipasang tepat di bawah permukaan laut mengikat semua botol-botol tersebut. Dan oleh karena teriknya matahari iklim tropis yang menembus hingga kedalaman air, rumput-rumput laut tumbuh sepanjang tali. Botol-botol bekas dan tali-tali yang kuat merupakan modal yang diperlukan untuk mendirikan pertanian rumput laut di daerah Indonesia ini.

Memperkenalkan Direktur Baru Blue Forests: Rio Ahmad

Kami dengan senang hati mengumumkan bahwa Rio Ahmad telah terpilih sebagai Direktur Blue Forests dan akan segera efektif bekerja. Penunjukan Rio sebagai Direktur baru dilakukan dalam Rapat Anggota yang diadakan pada 28-29 Maret 2018 di Makassar. Pertemuan ini juga merupakan momentum refleksi bersama melalui Laporan Pertanggungjawaban Pengurus 2015 – 2018 yang merangkum kegiatan, kinerja program, kemitraan, kondisi keuangan, dan agenda ke depan.