Home > Semua Berita > Archive May 2018

Merayakan Hari Kemerdekaan di Pulau Tanakeke

Ada hal yang unik saat merayakan hari kemerdekaan Indonesia di Pulau Tanakeke. Banyak permainan tradisional yang menguji kemampuan fisik peserta dan pengetahuan mereka tentang lingkungan di desa. Anak-anak, wanita, remaja dan orang tua berkumpul untuk memaknai kemerdekaan dengan caranya sendiri. Permainan tradisional yang tidak biasa ini dimainkan pada 16 Agustus 2016 namun Blue Forests memadukannya dengan pendidikan Lingkungan. Kami menamakannya dengan Lomba Balap Karung Ekosistem Perdesaan dan Lomba Balap Kelereng Kehidupan Laut

Misi Menyelamatkan Mangrove

Benjamin Brown menyatakan bahwa teknologi digunakan untuk memperbaiki hutan mangrove yang rusak di Indonesia. Tetapi, ide ini membutuhkan dukungan politik dan pemilik lahan.

Perkenalkan: Abdul, Sang Champion di Building with Nature Indonesia

Abdul adalah petambak ikan dan udang berusia 47 tahun dari Tambak Bulusan. Ketika beliau diberi tahu bahwa peserta ToT diharapkan menjadi agen perubahan untuk praktik pertambakan di desanya, beliau berkata ekspektasi itu terlalu tinggi. Beliau merasa tidak banyak memberikan pengaruh dan sangat yakin penduduk desa tidak akan ada yang mau mendengarkannya.

Sekolah Lapang Pesisir Budidaya Ikan/Udang: Harapan Baru untuk Petambak Lokal di Pesisir Demak

Saya masih ingat pertama kali bertemu dengan Supardi (47 tahun) pada hari pertama ToT (Training of Trainer) Sekolah Lapang Pesisir. Beliau dalah salah satu dari 21 peserta yang terpilih menjadi pengurus kelompok dalam program revitalisasi tambak yang merupakan bagian dari Building with Nature (BwN) untuk mengurangi dampak erosi pesisir di Demak. Program ini memelihara ketahanan pesisir dengan menggabungkan smart engineering dan rehabilitasi mangrove, dengan mengenalkan praktik penggunaan lahan berkelanjutan. Di Demak, kami memiliki target revitalisasi 300 ha tambak terdegradasi untuk budidaya kepiting dan udang.

Selamat Hari Mangrove Internasional!

Meski mangrove semakin hilang dalam beberapa tahun terakhir dalam kondis yang mengkhawatirkan. Ini sama halnya dengan hilangnya mangrove di Filipina dan Thailand setiap tahun.

Roy “Robin” Lewis tentang Restorasi Ekosistem Pesisir

Roy R. “Robin” Lewis III telah mempelajari dan melakukan upaya restorasi ekosistem pesisir selama hampir setengah abad. Sebagai seorang ahli ekologi lahan basah dan presiden Lewis Environmental Services, Inc., spesialisasi beliau adalah bidang ekologi, manajemen, restorasi dan pembentukan rawa air bersih dan air asin, hutan mangrove, hutan air tawar dan padang lamun. Robin telah mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam ratusan proyek di seluruh dunia dan lebih dari 100 karya tulis berfokus pada restorasi lahan basah. Beliau adalah presiden dari Coastal Resource Group, Inc., sebuah organisasi edukasi dan ilmiah non-profit yang juga merupakan tenaga di balik situs-situs berisikan informasi, yaitu Mangrove Restoration dan Seagrass Restoration Now.

Resep Mangrove Bubble Tea

Selama beberapa tahun bekerja dalam dunia mangrove Indonesia, kami mendatangi beberapa komunitas nelayan yang mengonsumsi buah dan daun mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada tahun 1999 dalam rangka mencari resep baru, studi wisata yang dibuat oleh MAP – Indonesia mengajak suatu kelompok wanita dari Pusat Sumber Daya Masyarakat Pesisir di Tiwoho, Sulawesi Utara ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Kelompok Kreasi Mangrove Lestari Balikpapan (Kelompok Penciptaan / Konservasi Mangrove) dengan bersemangat membagikan beberapa resep baru kue dan ikan dengan kontigen Sulawesi.

Pemberhentian berikutnya: Hollywood!

Konsultan video, Mohammad Ridwan, sering bepergian ke lapangan bersama kami. Pada Juni 2015, ia turut berlayar ke Pulau Tanekeke, di mana dia membantu siswa sekolah dasar di Desa Balangdatu menemukan keajaiban pembuatan video dan mengajari beberapa keterampilan teknis di bidang yang berharga ini.

Sekolah Lapang Petambak

'Tambak' adalah nama lokal yang umum untuk kolam ikan air payau, biasanya untuk budidaya polikultur ikan bandeng (Chanos chanos) dan udang air payau. Terdapat bukti berumur 400 tahun, tambak di Sulawesi Selatan dibangun secara alami pada liku sungai yang dangkal dekat muara. Hingga sebelum 1964, untuk memenuhi permintaan udang yang meningkat dari Jepang (akibat dampak paska-perang dunia ke-2), dilakukan ekspansi besar-besaran dan intensifikasi budidaya tambak. Pada tahun 1984/85, pemerintah pusat Indonesia mengembangkan kebijakan untuk meningkatkan ekspansi dan produksi melalui program INTAM yang menyasar 12 provinsi di Indonesia. Sebagian besar perluasan tambak mengambil area hutan mangrove karena baik tambak dan mangrove memerlukan banjir pasang surut dan drainase yang cukup.