Dari kerentanan menuju ketahanan

Ketika ada banyak contoh keberhasilan program rehabilitasi ekosistem mangrove berskala besar (5.000-10.000 hektar) dari seluruh dunia, sayangnya usaha rehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia, baik skala besar maupun kecil, seringkali mengalami kegagalan. Mayoritas proyek-proyek tersebut (baik program pemerintah maupun non-pemerintah) terlalu menyederhanakan hal-hal teknis dari rehabilitasi mangrove. Mereka lebih suka menanam langsung sub-kelompok spesies mangrove terbatas (dari family Rhizophoracea) umumnya di bagian bawah sistem intertidal (dari level lautan rata-rata sampai atmospheric tide terbawah), di mana mangrove secara natural tidak tumbuh. Selain dari kurangnya evaluasi hal-hal teknis, rehabilitasi seringkali menargetkan rawa-rawa karena hutan mangrove yang benar-benar terdegradasi seringkali dikaitkan dengan isu tenurial yang membutuhkan usaha dan investasi lebih.  

Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) telah diimplementasikan dan didokumentasikan selama beberapa dekade terakhir di sistem mangrove New World dan rehabilitasi ini dipilih sebagai alternatif terbaik untuk diadopsi dan dicoba di Indonesia. Ketika di Amerika Serikat, kelima proses difokuskan kepada evaluasi biophysical dan perbaikan eco-hidrologi, di Indonesia sendiri, EMR membutuhkan pendekatan dengan biophysical biaya rendah dan perhatian yang lebih kepada pendekatan politik sosiokultural yang umum ditemukan pada program pengembangan berkelanjutan dan manajemen sumber daya pesisir.  

Adaptasi dari EMR pertama kali diuji cobakan dalam proyek-proyek kecil, sekitar 12-33 hektar di Pulau Sumatera dan Sulawesi. Adaptasi biophysical meliputi metode evaluasi low-cost biophysical, kebergantungan akan tenaga kerja manual, strategic breaching akan tanggul kolam aquaculture, konstruksi manual dari saluran pasang, dan penyebaran propagule yang dibantu manusia. Di sisi lain, adaptasi sosio-politik meliputi penetapan penguasaan lahan, peningkatan program pelatihan untuk trainer, penilaian gender dan sensitivitas, peningkatan pengorganisasian masyarakat, koordinasi dengan berbagai lembaga pemerintah dan monitoring secara partisipatif. Proyek pertama berhasil dalam mengrehabilitasi area mangrove dan keberagamannya, sambil mengkatalisis manajemen kolaborasi atau berbasis masyarakat. Proyek Community based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR) terbaru dilaksanakan di Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan, di mana 1.776 hektar ekosistem mangrove ditebang menjadi 576 hektar dalam dua dekade oleh karena adanya pengembangan 1.200 hektar kolam aquaculture. Kurang lebih 800 hektar kolam di pulau tersebut dinon-aktifkan pada awal dari sebuah proyek berjangka 4 tahun untuk mengembalikan 400 hektar mangrove dengan biaya 590.000 USD dan menginisiasi manajemen adaptif kolaboratif. Penduduk lokal dari 6 desa dengan sukarela menyediakan kolam mereka untuk rehabilitasi karena mata pencaharian utama mereka telah beralih ke mariculture rumput laut dan mereka menyadari kebutuhan mendesak untuk merestorasi ekosistem mangrove untuk meningkatkan usaha perikanan dan perlindungan dari badai. Area pertama yang berhasil dipulihkan (43 hektar) telah berhasil mencapai density rata-rata 2.171 batang/ hektar, 32 bulan setelah restorasi pertama. 

Tiga situs lainnya telah berhasil menunjukkan pertumbuhan alami antara 767-1.450 bibit dalam waktu 7-10 bulan setelah restorasi. Masyrakat lokal telah mendirikan grup manajemen ekosistem mangrove dan peraturan untuk baik hutan mangrove yang tersisa dan area rehabilitasi yang telah diakui oleh pemerintah. Implementasi dari analisis gender, sensitivitas gender dan pengembangan grup Womangrove terbukti sangat krusial untuk membentuk partisipasi seimbang dari wanita dalam proses manajemen dan rehabilitasi mangrove. Proses CBEMR dalam poin ini telah dipertimbangkan untuk ditingkatkan dan direplika, dan telah ditetapkan sebagai metode terbaik di Sulawesi Selatan maupun di Indonesian National Mangrove Stategies. Prosedur CBEMR telah direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia sebagai langkah utama dalam memulihkan 4.000 hektar ekosistem mangrove Konservasi Alam Tanjung Panjang di Gorontalo, yang secara ilegal dialih-fungsikan menjadi kolam aquaculture selama dua dekade. CBEMR dan strategic breaching juga telah dipertimbangkan untuk program restorasi hutan mangrove yang dikonversi, meliputi 60.000 hektar kolam udang yang sudah tidak terpakai dan tidak terurus di Mahakam Delta, Kalimantan Timur. Efektivitas dari CBEMR yang telah terbukti pada skala kecil dan menengah, bergantung pada kemampuannya untuk menyelesaikan isu biophysical  dan sosio-politik yang mendasari degradasi hutan mangrove di Indonesia. Apabila hal ini diaplikasikan ke proyek restorasi dalam skala besar, dipastikan bahwa perhatian berkelanjutan diperlukan untuk kedua pendekatan. 

Fakta dan Angka

Lokasi:

Pulau Tanakeke terletak tidak jauh dari pulau utama di Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah atol koral, pulau ini memampangkan terumbu karang, rumput laut dan ekosistem hutan bakau overwash, dengan proporsi wilayah terestial yang kecil. Mata pencaharian utama dari kebanyakan penduduk adalah pertanian rumput laut yang berlokasi di laguna sub-tidal yang luas. Memancing sepanjang karang dan lepas pantai dilakukan oleh seluruh masyarakat yang berjumlah 10.073 orang ini. 

A: Foto dari satelit ini diambil pada tahun 1976, menangkap  1.776 hektar hutan bakau overwash. (Sumber: Landsat.org, Global Observatory for Ecosystem Services, Michigan State University, http://landsat.org.)

Selama tahun1990an, 1.200 hektar dari 1.776 hektar hutan mangrove diubah menjadi kolam aquaculture udang dan ikan. Dari total lahan tersebut, 800 hektar merupakan milik masyarakat namun tidak digunakan, karena penduduk Tanakeke kesulitan membeli input eksternal, merawat dinding tanggul dan produktivitas, dan sebagian besar telah beralih ke mariculture rumput laut. Lebih dari 400 hektar hutan bakau yang telah dialih-fungsikan diberikan kepada Kementerian Transmigrasi dan belum dipastikan akan digunakan untuk rehabilitasi mangrove. Sisa 576 hektar hutan bakau telah dibersihkan untuk keperluan produksi arang, kayu bakar, tiang konstruksi, peralatan memancing dan dukungan struktural untuk mariculture rumput laut. 

Dari 800 hektar kolam milik masyarakat, 400 hektar telah disediakan untuk Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) untuk periode 4 tahun, di mana proses dan hasilnya didiskusikan seperti di bawah ini. 

Pengorganisasian sosial dan kerja fisik dimulai dan diimplementasikan oleh Mangrove Action Project – Indonesia sebagai bagian dari proyek Restoring Coastal Livelihood (RCL) 4.5 tahun berdana 7.7 juta USD yang didanai oleh Canadian International Development Agency (CIDA) dan OXFAM-GB. Yayasan Konservasi Laut, sebuah partner LSM lokal berbasis di Makassar, menyediakan pengorganisasian sosial dan bantuan kebijakan. Sejumlah badan pemerintahan juga turut berpartisipasi dalam koordinasi, training, dan pengembangan kebijakan dalam 4 level:

  1. Level desa: Pemerintah Desa, Badan Perwakilan Daerah (BPD)
  2. Sub-area/ Level area: Departemen Perikanan, Departemen Kehutanan, Departemen Perencanaan, Social Agency, Technical Outreach and Extension Agency (PPL), Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD)
  3. Level provinsi: Departemen Perikanan, Departemen Kehutanan, Departemen Perencanaan, PPL, dan KKMD
  4. Level nasional: Kementerian Lingkungan, Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM I) dan Kelompok Kerja Mangrove Nasional (KKMN)

Universitas Hasannudin memberikan dukungan teknis, studi latar belakang, bimbingan dan 8 relawan S1 dan S2. Sebagai tambahan, dukungan teknis yang sedang berjalan difasilitasi oleh National University of Singapore – Fakultas Geografi (modeling, substrate elevation measurements) dan Charles Darwin University – Research Institute for Environment and Livelihoods (carbon stock assessment, livelihood monitoring guidance). 

Tujuan utama:

  • Peningkatan hidrologi dan mempromosikan revegetasi natural dalam 400 hektar lahan kolam aquaculture yang sudah tidak digunakan dengan kebutuhan penanaman mangrove yang minim.
  • 1.250 – 3.750 bibit (tidak ditanam) dapat tumbuh sehat (dibandingkan dengan benchmark) 3 tahun setelah rehabilitasi hidrologi pertama.
  • Rehabilitasi biodiversitas natural dari fauna hutan bakau (spesies dan asosiasi komunitas) berdasarkan survey-survey dan wawancara dengan para tetua.
  • Pengembangan dari regulasi manajemen mangrove berbasis masyarakat; terutama menggambarkan praktik dan zona penebangan kayu berkelanjutan serta hutan pangandriang. 
  • Peningkatan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat melalui pembentukan forest management learning groups (FMLG) dan Womangrove, pengembangan alternatif mata pencaharian berkelanjutan dan dukungan edukasi lingkungan untuk anak sekolah. 
  • Formasi KKMD dalam level distrik jangka panjang untuk membimbing proses konversasi dan pemanfaatan ekosistem mangrove Pulau Tanakeke berkelanjutan.
  • Legitimasi dari rencana pengelolaan masyarakat desa oleh KKMD.

Manfaat untuk masyarakat:

  • Perlindungan dari badai. Desa-desa di bagian barat pulau telah mengalami banjir besar dan erosi tanah setelah peralihan ekosistem mangrove menjadi aquaculture.
  • Memperkuat perikanan. Walaupun tidak secara ilmiah, masyarakat tengah mengawasi populasi kepiting, udang dan ikan di daerah anak sungai dua kali setahun melalui pemantauan partisipatif. Studi perikanan akan dibangun untuk proyek ke depannya, dengan tujuan untuk  membangun kembali 75% perikanan fungsional yang setara dengan kawasan mangrove dalam restorasi selama 7 tahun. 
  • Peningkatan pertumbuhan biomassa pohon. Praktik tebang habis (siklus 6-8 tahun) dan dense regrowth  telah menghasilkan produksi biomassa yang rendah. 
  • Peningkatan ketahanan dari sistem mangrove oleh karena peningkatan biodiversitas; terutama pembangunan kembali spesies-spesies bakau di ketinggian intertidal rendah (Sonneratia alba, Avicennia marina dan A. alba).
  • Pengembangan produk hutan non-kayu untuk penggunaan substansial dan pasar lokal.

Dari awal usaha rehabilitasi mangrove, masyarakat lokal dan para stakeholder mengekspresikan kepedulian mereka bahwa peningkatan manajemen mangrove sangat penting untuk keberlangsungan ekosistem jangka panjang dan manfaat lainnya. Penggunaan dari kayu pohon bakau tidak bisa dihindari mengingat kurangnya lahan terestrial dan jarak ke pulau utama di mana BBM dijual. Meskipun demikian, kurangnya manajemen hasil kayu diidentifikasi akan menjadi ancaman terbesar bagi ekosistem mangrove di Tanakeke. Penebangan (atas) untuk produksi arang menempatkan desa-desa dalam risiko pasang, angin, dan banjir. Desa-desa sepanjang bagian barat pulau telah mengalami banjir besar oleh karena penebangan dari ekosistem mangrove di pesisir untuk produksi arang dan pengembangan kolam. Bawah: Penduduk Desa Lantang Peo, Pulau Tanakeke, berpartisipasi dalam perbandingan antara kompor masak hemat bahan bakar dan kompor masak tradisional. Aktivitas ini dijalankan sebagai bagian dari Forest Management Field School, yang bertujuan untuk mengembangkan sistem sosio-ekologis yang tangguh.

Ini merupakan potongan dari CASE STUDY: Community Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR) in Indonesia
From small (12-33 ha) to medium scales (400 ha) with pathways for adoption at larger scales (>5000 ha) oleh
Ben Brown, Ratna Fadillah, Yusran Nurdin, Iona Soulsby dan Rio Ahmad. Download the full paper and find it and many more useful research resources – all available copy-left – in our resources section.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Scroll to Top