Menyelamatkan Mangrove, Menyelamatkan Manusia

Mangroves adalah hutan yang hidup di kawasan pasang surut air laut. Meski memiliki sejuta manfaat, namun kehadirannya sering dinafikkan dibanding hutan lainnya. Sementara mangrove merupakan benteng terakhir antara perairan dan daratan. Jika benteng ini jebol maka kehidupan di darat akan rusak bahkan musnah,  Selain alam, kerusakan mangrove tidak lepas dari peran besar manusia. Mangrove sering dieksploitasi besar-besaran oleh manusia untuk bahan bakar, bahan bangunan, arang, sumber makanan bahkan dijadikan tambak yang membuat disintegrasi fungsi mangrove di alam. 

Tragedi Tsunami 2004 menjadi bukti nyata. Lebih dari 200.000 jiwa menjadi korban (PBB, 2005). Salah satu pemicu tingginya dampak tsunami karena hilangnya mangrove di pesisir pantai Aceh. Pasca tsunami banyak negara yang datang memberi bantuan, bukan hanya bantuan kemanusiaan tapi juga menanam mangrove agar mengurangi dampak bencana. 

Kerusakan mangrove juga terjadi di Sulawesi Selatan. Berbeda dengan di Aceh, kerusakan mangrove terjadi karena eksploitasi berlebihan menjadi tambak. Tambak menghilangkan lebih dari 60 % atau 191.000 ha kawasan mangrove Sulawesi Selatan (FAO, 2005). Kerusakan mangrove mempengaruhi kehidupan di pesisir, jumlah ikan, kepiting, udang mulai berkurang, abrasi makin sering terjadi, Hal ini menpengaruhi pendapatan masyarakat, tidak terkecuali petambak. Kerusakan ini diperparah karena masyarakat pesisir terlampau bergantung pada alam. Mereka kurang menggunakan potensi diri dalam mengelola sumber daya 

Berbagai upaya telah dilakukan untuk memperbaiki kerusakan mangrove, namun belum menunjukkan hasil yang diharapkan.  Tingkat keberhasilan penanaman mangrove hanya 10 %.

Lalu apa yang harus dilakukan utamanya bagi masyarakat pesisir??? yang pertama adalah masyarakat pesisir harus sadar akan pentingnya mangrove. Kedua, bagaimana masyarakat dapat mengelola kawasan mangrove/ pesisir yang ramah lingkungan, ketiga, masyarakat mampu memanfaatkan kawasan mangrove lebih bijak. Disinilah peran KITA untuk membantu masyarakat agar tetap menjaga alam dan membantu meningkatkan taraf hidup mereka. 

Sejak awal, Blue Forests tidak hanya melakukan perbaikan kawasan mangrove tetapi juga peningkatan kesadaran manusianya melalui pendidikan. Bukan pendidikan formal seperti di bangku sekolah pada umumnya, tetapi pendidikan yang bertujuan meningkatkan keterampilan berfikir kritis yang akan menggugah kesadaran dan bermuara pada perubahan sikap perilaku untuk melestarikan alam.

Sekolah Lapang Tambak.  Organik

Bagaimana cara yang tepat untuk dapat menjaga alam dan juga menjaga kelangsungan hidup manusianya. Kami melakukan  Sekolah Lapang Pesisir/ SLP. di SLP kami mulai mengorganisir masyarakat secara berkelompok. Bersama masyarakat, kami mulai dengan melakukan pemetaan ekosistem untuk mengetahui potensi desa dan masalah yang dihadapi. Setelah itu, kita menggali potensi yang belum dimanfaatkan untuk memecahkan masalah yang ada. 

Sebagai contoh di Desa Bontomanai, Kecamatan Labbakkang Kabupaten Pangekep. Desa ini memiliki luasan tambak lebih dari 1000 ha (DKP SulSel 2015). Namun dari hasil pemetaan di Sekolah Lapang, lebih dari separuh tambak disana  kritis dan tidak produktif. Sering terjadi kematian udang dan bandeng, bahkan lebih dari 10 tahun tidak ada lagi produksi udang windu.

Selanjutnya kami membuat  demplot penelitian bersama bagaimana cara melakukan budidaya tambak yang ramah lingkungan. Sebanyak 25 petambak berkumpul setiap minggu untuk melakukan pengamatan. Pengamatan yang diamati tentang hubungan lingkungan (air, suhu, cuaca), model pengelolaan (jenis dan jumlah pupuk)  dengan pertumbuhan udang dan bandeng (berat, panjang dan penyakit). Pengamatan ini dilakukan selama 1 siklus budidaya sehingga diperoleh kesimpulan berbasis data lapangan.

Dalam sekolah lapang, proses pengamatan, diskusi kecil dan presentasi setiap minggunya, memberi dampok positif. Selain perubahan sikap dan perilaku, proses belajar pendidikan orang dewasa yang diterapkan memberi peningkatan kapasitas masyarakat, membangun kepercayadirian. Proses yang lengkap, dinamis dan menyeluruh menjadikan sekolah lapang menjadi pendekatan yang sangat efektif dalam pegorganisasian masyarakat.

Jenis sekolah lapang yang pernah dilakukan beragam: SL padi air asin, SL pupuk kompos, SL pengolahan mangrove, SL Bambu, SL Sag, SL EMR.

Dari kegiatan Sekolah Lapang yang dilakukan, kesimpulan yang diperoleh dari pembelajaran SL adalah penurunan produktifitas tambak diakibatkan karena: penurunan kualitas air karena hilangnya mangrove, penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan. Kehadiran mangrove sangat penting dalam mendukung produktifitas tambak. Mangrove  menghasilkan nutrisi untuk makanan udang dan bandeng, menjaga kualitas dan salinitas air, mencegah abrasi dan melindungi tambak.

Selain itu pengelolaan tambak yang tidak ramah lingkungan memunculkan persoalan baru. Karena mengejar produksi tinggi, petambak menggunakan berbagai pupuk dan pestisida tanpa kontrol. Akibatnya produktifitas menurun, bahkan udang dan bandeng sering mengalami kematian. Pupuk yang diharapkan mendongkrak produktifitas justru menjadi racun bagi udang dan bandeng. dalam sekolah lapang tambak organic yang kami lakukan berikutnya adalah mengganti pupuk kimia dengan pupuk alami dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan potensi lokal. Cara ini juga mampu mengurangi biaya produksi petambak . Selain itu, produksi udang dan bandeng lebih meningkat dan tahan dari serangan hama dibanding saat menggunakan pupuk kimia.

Ternyata, masyarakat mengakui bahwa produksi tambak mereka dahulu masih bagus ketika dikelola secara alami dengan lingkungan mangrove yang terjaga. 

“Sekolah Lapang membuktikan bahwa dengan proses yang tepat petambak mampu melakukan perubahan menjadi lebih baik”

Mangrove Lestari

Tambak Produktif

Masyarakat Sejahtera

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Scroll to Top