Roy “Robin” Lewis tentang Restorasi Ekosistem Pesisir

Roy R. “Robin” Lewis III telah mempelajari dan melakukan upaya restorasi ekosistem pesisir selama hampir setengah abad. Sebagai seorang ahli ekologi lahan basah dan presiden dari Lewis Environmental Services, Inc., spesialisasi beliau adalah dalam bidang ekologi, manajemen, restorasi dan pembentukan rawa air bersih dan air asin, hutan bakau, hutan air tawar dan padang lamun. Robin telah mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam ratusan proyek di seluruh dunia, dan lebih dari 100 karya tulis berfokus pada restorasi lahan basah. Beliau adalah presiden dari Coastal Resource Group, Inc., sebuah organisasi edukasi dan ilmiah non-profit yang juga merupakan tenaga di balik situs-situs berisikan informasi, yaitu www.mangroverestoration.com dan www.seagrassrestorationnow.com. Oleh karena passion beliau dalam meneruskan tonggak kepemimpinan kepada generasi profesional restorasi ekosistem pesisir berikutnya, Robin secara sukarela mengajar tentang hal tersebut kepada  U.S. Army Corps of Engineers, Ohio State University, University of Wisconsin dan Louisiana State University. Beliau juga telah mengajar tentang restorasi lahan basah di 22 negara, termasuk Guyana, Jamaica, Bonaire, Nigeria, India, Sri Lanka, Thailand, Indonesia dan Vietnam. Beliau juga telah bertugas sebagai anggota direksi dari Society of Wetland Scientists, Association of State Wetland Managers, Mangrove Action Project, WildLaw, Inc., dan Putnam County Environmental Council. Tahun lalu, beliau telah terpilih sebagai anggota IUCN’s Species Survival Commission Mangrove Specialist Group.

Apakah beberapa daerah pesisir lebih mudah direstorasi dibanding yang lain? Mengapa?

Di dalam sebuah artikel yang dimuat pada National Wetlands Newsletter tahun 2011,  saya membuat sebuah hirarki yang menunjukkan tingkat keberhasilan sebuah restorasi. Di tingkat paling atas adalah rawa muara dan hutan bakau. Di tingkat bawah adalah vegetasi akuatik terendam. Menurut pengalaman, saya telah mengamati bahwa tingkat keberhasilan untuk restorasi rumput laut sangat rendah.

Apabila membicarakan lahan basah pesisir, kunci dari keberhasilan adalah apakah kita bisa mendapatkan hidrologi yang tepat. Hidrologi dalam sistem pesisir pada umumnya dapat ditebak. Ketika saya mengajar tentang hal ini, saya memberi tahu murid-murid bahwa di dalam komputer saya terdapat sebuah program yang memberi informasi tentang pasang laut di ratusan lokasi di seluruh dunia selama 100 tahun. Dengan sedikit survey dan PR, kita dapat memprediksi dengan baik tentang baseline normal hidrologi di sebuah area. Pada umumnya ini merupakan proses yang relatif terprediksi. Namun kebanyakan orang gagal .

Apabila kita berpindah ke sistem air bersih, hidrologi tidak bisa ditebak. Musim kemarau, curah hujan, debit air tanah yang tidak terduga…. semua hal ini menimbulkan kesulitan dalam mendapatkan hidrologi yang tepat. Begitu kita berpindah ke vegetasi akuatik terendam, kita akan berurusan dengan kombinasi hidrologi dan kualitas air. Di beberapa daerah tertentu di dunia, kita juga berurusan dengan dampak fisik yang overlapping – sebagai contoh dari perahu-perahu atau iklan atau memancing untuk hiburan. Kecuali kita bisa memperbaiki dampak fisik dan biologis tersebut, proses restorasi akan terus menemukan permasalahan.

Dalam sebuah artikel yang dipublikasi dalam Wetland Science and Practice di tahun 2010, Anda menulis bahwa “restorasi hutan bakau biasanya berhasil apabila beberapa prinsip-prinsip ekologi dasar diaplikasikan pada tahap perencanaan awal,” namun Anda juga menulis bahwa bukti keberhasilan restorasi mangrove dalam skala besar “hampir tidak ada”. Apakah prinsip-prinsip ekologi tersebut dan mengapa kebanyakan orang gagal mengaplikasikannya?  

Apabila berbicara tentang kebanyakan proyek yang saya familiar – dan ini meliputi ratusan proyek baik di luar negeri maupun di AS – di awal diasumsikan bahwa yang harus kita lakukan hanyalah menanam pohon bakau. Pohon-pohon bakau itu kemudian ditanam di tempat-tempat di mana mereka belum pernah tumbuh, sebuah foto memperlihatkan seorang anak sedang menanam pohon mangrove diambil dan dicetak sebagai cover dari sebuah laporan keberhasilan, dan sudah selesai begitu saja. Itu adalah monitoring terakhir yang dilakukan. Namun, kita sering menemukan kegagalan-kegagalan yang sangat spesifik. Artikel saya mendokumentasikan usaha untuk memulihkan 100.000 acre ekosistem mangrove di Filipina yang gagal sebagian besar. 

Seringkali, orang-orang tidak mengerjakan PR mereka. Banyak program restorasi ekosistem mangrove dilakukan oleh petugas hutan. Petugas hutan adalah orang-orang yang ahli pohon, mereka menanam pohon. Ketika kita bertanya kepada seorang petugas hutan yang belum pernah berurusan dengan mangrove tentang restorasi, mereka berkata, “Itu sangat mudah. Kita hanya perlu menumbuhkan mereka dalam lokasi perawatan, menemukan area yang belum ada mangrove, dan menanam di sana. Itulah yang kita lakukan dengan spesies-spesies lain, jadi pasti itu juga akan bekerja kepada mangrove.” Selama hal ini terus saja terjadi, kita akan terus melihat semakin banyak cerita-cerita horor. Jumlah uang yang tidak bisa terbayangkan banyaknya telah dihabiskan dalam proyek-proyek yang bahkan tidak punya kesempatan. 

 

Penanaman pohon bakau yang gagal, Gorontalo, Indonesia

 

Pada tahun 1997, kami mengembangkan 6 langkah sederhana untuk restorasi ekosistem mangrove [illustrated resource]. Metodologi tersebut telah diadopsi di sejumlah tempat di mana saya mengajar, termasuk Thailand dan Indonesia. Langkah pertama adalah mengetahui ekologi dari spesies tumbuhan yang ingin kita pulihkan. Proyek restorasi apapun dan komunitas apapun, termasuk karang, harus kembali kepada pertanyaan ini: Bagaimana komunitas ekologi ini secara alami memulihkan diri? Semua komunitas ekologi di planet ini telah mendapat dampak dari banyak hal … badai, tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir. Tanpa campur tangan manusia, mereka berhasil memulihkan diri sendiri. Kita harus melihat proses restorasi natural mereka sebagai guideline. 

 

Apabila Anda telah mengambil kelas dalam ekologi, Anda tahu ada istilah primary succession dan secondary succession. Primary succession adalah ketika tumbuhan atau karang telah sampai pada daerah terendam atau pulau vulkanik. Secondary succession adalah hal yang sering kita lihat pada vegetasi pesisir pada umumnya. Primary succession mungkin telah terkubur oleh timbunan material atau telah tereliminasi oleh suatu sebab lain. Namun mungkin ada beberapa tumbuhan yang tumbuh di sekitarnya, dan apabila berbicara tentang mangrove, mereka mempunyai biji berat dan dapat mengambang. Bergantung sesuai lokasi, biasanya terdapat rumput-rumput atau herba, spesies tumbuhan rendah yang memenuhi situs ini pada awalnya. Belum banyak penelitian yang mempelajari bagaimana penduduk awal ini telah memodifikasi tanah, namun tampaknya mereka meningkatkan kondisi tanah – mungkin dengan oksigenasi anaerobik – untuk hutan bakau. Hal ini terjadi tanpa campur tangan manusia. Namun apabila kita ingin mempercepat proses tersebut, mungkin kita harus menggunakan penduduk awal atau spesies “perawat”, seperti cordgrass halus (Spartina alterniflora) dalam proyek restorasi ekosistem mangrove kita. 

 

Avicennia germinans (mangrove hitam) tumbuh dengan bantuan cordgrass halus (Spartina alterniflora) Pelican Island National Wildlife Refuge, Sebastian, FL

 

Di daerah teluk, dan dalam beberapa situasi, pantai Atlantik, di mana hutan mangrove tumbuh, kita sering melihat Spartina, dan beberapa tahun kemudian, mangrove tumbuh secara alami dalam rumpun Spartina.Ini sangat istimewa. 5 kaki dari sana, apabila tidak ada Spartina, tidak ada mangrove. Beberapa peneliti lain telah mendokumentasikan proses natural ini. Spartina, di mana sangat baik sebagai pengatur erosi, dapat digunakan di tahap awal untuk menstabilkan garis pantai yang terkikis. Lalu, dalam fungsi ekologis, cordgrass dan mangrove dapat menstabilkan garis pantai yang terkikis berat dengan sedikit bantuan manusia. 

 

Konsep dari “garis pantai hidup” ini adalah ide yang muncul dari orang-orang yang mengamati koloni tumbuhan natural yang mendiami garis pantai dan berkata, “Mungkin kita dapat menggunakan ini dibanding tembok laut.” Ini merupakan konsep yang hebat, namun telah runtuh, karena kita tidak memiliki pelatihan yang formal. Praktisi harus dapat membedakan antara “garis pantai hidup” secara ekologis dan alasan untuk menaruh batu di garis pantai. 

 

Di luar negeri, di Asia Tenggara, mereka mempunyai spesies rumput lokal yang mendiami, dan belakangan ini, penduduk telah memotongi mereka dan sebagai gantinya menanam mangrove karena mereka tidak mengerti proses natural tersebut. Mereka sebenarnya sedang menghabiskan uang untuk melawan secondary succession. Namun, kita bisa melihat para praktisi – bahkan di luar negeri – sedang berusaha mengadopsi konsep ini.  

 

Penanaman mangrove di Jakarta, Indonesia yang berlokasi di tingkat air yang terlalu dalam untuk mendukung mangrove. Semua tanaman mati. 

 

Beberapa kekurangan pada restorasi lahan basah telah dilaporkan. Salah satu contoh terbaru adalah sebuah studi di tahun 2012 yang dilakukan oleh David Moreno –Mateos, seorang postdoctoral fellow dari University of California yang menemukan bahwa, secara rata-rata, tingkah produktivitas lahan basah hasil restorasi lebih rendah 25% dibandingkan lahan basah alami. Tahun lalu, sebagai sebuah usaha untuk menemukan alasan di balik kekurangan teresebut dan langkah yang bisa diambil untuk menanganinya, Association of State Wetland Managers membuat suatu kelompok yang disebut Wetland Restoration Working Group. Kelompok tersebut mengembangkan suatu rangkaian webinars gratis tentang “Improving Wetland Restoration Success,” yang mengundang ahli-ahli dari seluruh AS. Anda dan Joy Zedler, member dari group tersebut, adalah salah satu pengarang dari white paper berdasarkan webinars tersebut yang berjudul “Wetland Restoration” Contemporary Issues & Lessons Learned.”  Paper tersebut sangat penuh dengan informasi-informasi berguna bagi orang-orang yang terlibat dalam usaha restorasi lahan basah pesisir. Di mana pembaca kami dapat mengakses paper ini ketika telah dipublikasi?

White paper tersebut akan selesai pada musim gugur ini, namun, draft telah tersedia secara online. 

Banyak dari pembaca kami terlibat dalam tahap perencanaan dan perancangan restorasi lahan basah di lingkungan pesisir. Paper ini meliputi beberapa rekomendasi terkait kedua tahap tersebut, namun apabila Anda hanya memiliki 30 detik untuk berbagi saran dengan seorang perancang, apa yang akan Anda bagikan?

Carilah seorang peneliti lahan basah profesional yang bekerja dalam hal yang sama dengan yang akan Anda lakukan. Kami memiliki sekitar 1.500 peneliti lahan basah bersertifikasi di AS. Banyak dari mereka adalah ahli dalam restorasi. Apabila Anda akan membangun sebuah jembatan, Anda harus mencari seorang insinyur jembatan. Apabila Anda ingin merestorasi sebuah lahan basah, Anda harus mencari seorang profesional restorasi lahan basah dengan track record dan kualifikasi terpercaya. 

Seperti yang Anda utarakan di white paper, dalam kasus restorasi lahan basah, kita sebenarnya berkontribusi dalam degradasi lahan basah daerah pesisir. 

Apabila kita mengasumsikan hal dasar yang kita inginkan dari proyek mitigasi apa saja adalah one-to-one replacement (berdampak pada satu acre, memulihkan satu acre), telah ada bukti bahwa kita sama sekali tidak mendekati hal tersebut. Beberapa studi yang telah ditulis tentang ini – salah satunya National Academy of Sciences tahun 2001 – mengindikasikan bahwa kita bahkan tidak mencapai setengah. Saya tidak akan kaget apabila hal itu menjadi lebih parah. Orang-orang seperti saya, yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun, tidak akan menjadi lebih muda, dan para profesional dalam lingkungan pengaturan yang telah mengalami telah pension. Namun masih belum ada program formal untuk meneruskan tonggak untuk pelaku restorasi berikutnya. 

Iklim yang berubah juga dimasukkan dalam white paper tersebut sebagai salah satu penghalang utama dalam memenuhi kriteria restorasi lahan basah. Tentu saja perubahan iklim merupakan faktor besar dalam restorasi ekosistem pesisir. Rekomendasi apa yang dapat group Anda berikan terkait hal ini?

kolam aquaculture udang di Indonesia yang terbengkalai

Intinya, kita harus mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari tentang sistem alami dan proses-prosesnya dan menerapkannya dalam proyek restorasi pesisir atau manajemen pesisir apapun.

Manajemen pesisir adalah tempat di mana kita harus memberikan penekanan pada dampak dari perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Apabila kita menunggu terlalu lama, tipe lahan basah pesisir manapun akan begitu terdegradasi sehingga tidak bisa merespons kenaikan permukaan laut secara alami. Hanya ekosistem mangrove, rawa-rawa dan rumput laut sehat yang dapat beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut – hingga titik tertentu. Telah ada bukti ilmiah bahwa [habitat pesisir], ketika sehat, dapat beradaptasi dengan kenaikan air laut 10 kali dari yang kita temukan di kebanyakan tempat. (lihat paper  # 501, 502 and 503 di bagian “downloads” di situs www.mangroverestoration.com)

Restorasi hidrologi awal, kolam aquacultur udang terbengkalai, Sulawesi Utara, Indonesia

Ini masalahnya…. bagaimana kita merespons? Apakah kita bisa merespons komunitas tumbuhan pesisir saat mereka sedang stress? Apakah kita bisa mengintervensi lebih awal dan setidaknya memberi mereka kesempatan untuk secara natural beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut? Ini mungkin terdengar simple, namun ini bukan yang ditekankan. Di AS, jutaan biaya didistribusikan untuk mengatasi permasalahan kenaikan air laut atau resiliency, dan sebagian besar diberikan untuk proyek-proyek yang berfokus pada komunitas tumbuhan lahan basah yang mengalami kerusakan serius. Apabila dilakukan dengan benar, itu mungkin akan memiliki peran, namun mengusahakan restorasi pada komunitas tumbuhan yang telah rusak merupakan isu restorasi dan teknik ekologi yang benar-benar sulit. 

 

Penelitian saya menunjukkan bahwa mangrove yang sedang stress bisa dideteksi. Kita harus memiliki pola pikir untuk memutar-balikkan trend sebelum komunitas itu benar-benar hilang. Mangrove dan rawa-rawa dapat membuat substrat mereka sendiri. Entah dengan menjebak sedimen anorganik atau mereka membuat sedimen organik dari pertumbuhan akar. Mereka membuat gambut. Di banyak tempat, seperti Louisiana, terdapat area luas yang didominasi oleh tanah gambut organik yang ditemukan hilang saat tumbuhan menjadi stress. Dalam beberapa kasus, kita melihat akumulasi gambut selama beberapa dekade atau ratusan tahun. Bahkan terdapat hutan mangrove yang berumur 8.000 tahun. Apabila kita membiarkan komunitas itu mati, dan membiarkan tanah organik itu untuk teroksidasi, lalu apa yang kita lakukan dengan restorasi? Kita tidak bisa mengembalikan akumulasi tanah ratusan atau ribuan tahun dalam semalam. Apabila kita telah kehilangan tanah ditambah dengan kenaikan air laut, ini bukanlah pendekatan yang logis. 

 

Jadi berdasarkan 40 tahun pengalaman Anda dalam usaha restorasi habitat pesisir, Anda berkata bahwa sangat penting untuk memilih situs restorasi karena adanya titik kritis di mana kita tidak akan mendapat keuntungan (dan tentu bukan hanya secara finansial)?

 

Sederhanya pengeluaran kita harus worth it. Apabila kita ingin menginvestasi dana untuk melindungi garis pantai, di mana investasi terbaik? Saya menyarankan kita tidak melihat hal itu. Banyak orang tidak melihat cost sebenarnya dari sebuah restorasi pesisir. Data terbaru dari Corps of Engineers di New York dan New Jersey menunjukkan bahwa mereka telah menghabiskan setengah juta dollar per acre untuk restorasi rawa-rawa. Kita tidak mampu mencapai dana itu. 

Google “biaya restorasi mangrove” dan lihat apa yang akan kamu dapat. Kalian akan mendapat beberapa paper saya, tapi tidak lebih. Ternyata itu bisa jadi sangat mahal, namun bisa menjadi lebih murah apabila kalian mengerjakan PR dan mencoba untuk mengintervensi ketika ada masalah stress pada tumbuhan (dibanding restorasi komunitas tumbuhan yang sudah hilang). Begitu kita melibatkan teknik yang berat, biaya akan naik.

7 tahun setelah pekerjaan selesai. Kebanyakan adalah mangrove yang tumbuh secara alami.

Apakah kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk mempraktikkan deteksi dini ini? Anda menyebutkan paper Anda, tapi apakah sudah ada penelitian yang cukup tentang stress pada ekosistem pesisir?

Belum. Agensi-agensi menghabiskan jutaan dolar untuk isu “coastal resiliency” tapi mereka tidak melirik proyek-proyek untuk hal ini. Tidak ada cukup biaya dan cukup penelitian. Namun kami sedang mengembangkan proses dengan mangrove. Kami mempunyai beberapa situs dan semua itu tidak dibiayai, penelitian ad hoc, tapi kami akan mendapat informasi yang cukup tentang tumbuhan bakau stress dalam setahun atau dua tahun. Ini masuk akal: mengantisipasi dan mengukur stress, mengintervensi dini, dan memulihkan stress itu. 

Tentu saja, secara paralel, apabila pemerintah ingin melakukan usaha restorasi, saya bukannya menyarankan jangan. Namun, proyek tersebut harus berjalan dan harus ada dokumentasi bahwa proyek ini berhasil. Di dalam setiap proyek harus ada semacam penilaian dan laporan kuantitatif. Ketika kita membahas tentang melaporkan apa yang bekerja dan tidak, semua seringkali gagal karena dalam banyak kasus, tidak ada dana yang cukup untuk sampai ke publikasi. Kita tidak belajar dari kesalahan.Kita menggunakan term manajemen adaptif setiap saat. Tapi apa arti sesungguhnya dalam kehidupan nyata usaha lahan basah? Dalam slogannya, “belajar dari kesalahan, publikasikan itu, dan beradaptasi supaya tidak mengulang kesalahan yang sama.” Saya harus berkata bahwa hal itu terjadi dalam restorasi lahan basah pesisir. 

 

Anda telah mengkosultasikan, meneliti, atau bekerja dengan proyek restorasi habitat pesisir di seluruh dunia. Apakah negara lain melakukan pekerjaan yang lebih baik dari AS apabila kita membahas manajemen adaptif dalam usaha restorasi habitat pesisir?

 

Negara Inggris sedang merencanakan program “planned retreat”. Mereka melihat garis pantai mereka, breaching tanggul yang mungkin sudah ribuan tahun dan membiarkan ombak untuk kembali. Di AS, metode “planned retreat” adalah tabu. 

Bekerja dalam negara-negara seperti Vietnam, Cuba, Thailand dan Nigeria, yang berbeda secara ekologis, kultural, politik, apakah Anda menemukan kesamaan dalam faktor yang bisa meningkatkan efektivitas restorasi habitat pesisir?

Expertise dan training. Kita membawa expertise dari seorang profesional, lalu mengadakan training (program train the trainer) untuk masyarakat lokal. Kita harus memikirkan generasi selanjutnya dari para pelaku restorasi.

 

Di dalam skill dan pengetahuan yang Anda targetkan untuk ditransfer dalam situasi tersebut, apa yang paling penting untuk inisiatif restorasi dalam jangka panjang?

Pemahaman akan autoekologi: ekologi dari setiap spesies. Kita harus mengerti keadaan biologis dan ekologis dari spesies target kita dan kita harus turun sampai level botani. Saya telah mengerjakan proyek di Filipina di mana saya bertanya, “Komunitas tumbuhan apa yang akan kita restorasi?” dan mereka berkata, “Kami tidak tahu. Kami hanya ingin merestorasi mangrove.” Well, ada 26 spesies di Filipina dan setiap spesies tersebut memiliki sebuah asosiasi dengan 10-20 spesies tumbuhan rawa-rawa lainnya. Apa kebutuhan hidrologis mereka? Di mana mereka tumbuh sepanjang garis pantai?

Kita juga harus mengetahui ekologi pesisir lokal sebelum mulai berpikir tentang restorasi. Ini mencakup dataran tinggi, margin antara dataran tinggi dan mangrove, pantai, dll. Peran esar dari ahli ekologi restorasi seringkali dilupakan.

Apakah sebagai seorang ahli dalam restorasi lahan basah pesisir, Anda pernah datang ke sebuah negara dan belajar dari masyarakat lokal tentang pengetahuan ekosistem tradisional?

Hal itu terjadi di setiap tempat yang saya kunjungi. 22 negara, 22 pelajaran tentang ekologi mangrove dan rawa-rawa. Saya akan memberi Anda contoh. Salah satu spesies bakau yang tumbuh di Filipina dan area sekitarnya, Rhizophora mucronata, memiliki biji hampir sepanjang satu meter. Apabila mau, Anda bisa mengumpulkan biji-biji itu dan menanamnya di sembarang tempat, dan mereka akan tumbuh. Orang-orang telah menanamnya dan berhasil menumbuhkan mangrove di tempat-tempat yang saya kira tidak mungkin. Namun, mereka menanamya di area rumput laut sebab di daerah itu, mereka tidak pernah menghargai rumput laut. Jadi saya belajar bahwa kita bisa mengubah area rumput laut yang sehat menjadi hutan mangrove Rhizophoamucronata. Tapi apakah itu adalah hal yang baik?

 

Saya ingin kembali ke jawaban Anda terhadap 2 pertanyaan pada suatu publikasi NOAA tentang Restoring Coastal Habitats padatahun 1998. Pertanyaan pertama: Seberapa efektif restorasi habitat dalam mengulas dampak manusia pada lingkungan pesisir? Dalam jawaban Anda di tahun 1998, Anda berkata bahwa “Restorasi habitat pesisir, apabila dirancang dan dibangun dengan baik, akan sangat efektif dalam memulihkan tipe habitat tertentu seperti rawa pasang surut dan hutan bakau” namun “banyak proyek restorasi habitat pesisir untuk semua tipe, kalau tidak berhasil hanya sebagian, akan gagal total. Seringkali kegagalan ini terjadi karena individual yang kurang berpengalaman berusaha merancang dan membangun proyek tanpa pelatihan yang cukup.” Apakah jawaban Anda berubah sekarang?

Jawaban saya masih kurang lebih sama. Usaha restorasi akan efektif apabila dilaksanakan dengan benar, dan hal ini telah dilakukan. Telah ada banyak proyek-proyek besar yang berhasil di AS. Namun proyek-proyek tersebut tidak direplikasi dan kita tidak belajar banyak. Kebanyakan kita tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan investasi kita dalam restorasi habitat pesisir. 

Pertanyaan kedua: Pengembangan apa yang paling penting sebelum restorasi habitat pesisir dapat menyelesaikan dampak manusia pada pesisir? Dalam jawaban Anda di 1998, Anda berkata, “Kesalahan rutin dalam perancangan dan konstruksi restorasi habitat pesisir terus diulang karena pengetahuan yang dikumpulkan oleh para profesional restorasi ekologi berpengalaman seringkali kalah dengan pertimbangan teknis.” Bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan itu sekarang?

Dalam jawaban saya, saya juga berkata bahwa teknologi restorasi pesisir modern tidak secara formal diajarkan di universitas manapun, namun ditransfer kepada generasi baru dalam restorasi ekologi dari peneliti yang berani yang mengakui bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban, dan yang sering membuat kesalahan sebelum belajar melalui pengalaman.” Kelompok kecil dari pelaku restorasi berpengalaman ini berusaha untuk membuat pengajaran akan restorasi masuk ke dalam pendidikan formal.” Kami melakukan progress di sini, namun kami belum dapat menjangkau mayoritas masyarakat yang ingin kami jangkau. Masih sangat sedikit sekali program pelatihan restorasi habitat pesisir. 

 

Sebagai contoh, satu tahun sekali, saya mengajar sebuah kursus singkat tentang restorasi lahan basah pesisir kepada U.S. Army Corps of Engineers. Apabila Anda berada di cabang ijin kerja, Anda harus mereview aplikasi permit. Beberapa partisipan telah mempunyai 20 tahun pengalaman. Ketika saya bertanya, “Training seperti apa yang Anda dapatkan sebelum datang ke kelas ini tentang apa yang efektif dan tidak di restorasi lahan basah pesisir?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” Mereka dilatih dalam legalitas, yang tentu saja penting, namun mereka tidak dilatih untuk menentukan apakah orang-orang yang mengirimkan aplikasi dalah profesional, atau setidaknya apakah mereka ada kemungkinan berhasil. Jadi tidak ada downside dari melakukan suatu proyek restorasi lahan basah yang tidak bagus. Proyek-proyek jarang ditinjau atau diperiksa kembali. Saya tidak berbicara untuk terdengar menghakimi, namun apabila suatu proyek dirancang dengan salah atau berjalan ke arah yang salah, hal itu perlu diobservasi dan dilaporkan, dan koreksi di tengah jalan diperlukan.

 

Di saat-saat ini di mana ada pemotongan dana dan politik yang memegang kekuasaan di AS, ada beberapa orang yang akan berkata, “Kami sangat senang untuk melakukan mitigasi, namun apabila anda mulai datang dan menceramahi kami tentang apa yang akan bekerja dan tidak, kami akan mundur.” Hal ini terjadi di North Carolina, dan ada satu artikel tentang itu di publikasi terbaru National Wetlands Newsletter. North Carolina menyadari bahwa mereka tidak mendapatkan hasil yang sepadan dengan dana yang dikeluarkan. Jadi mereka mendapat hibah, dan mereka melakukan penyelenggaraan dan monitoring yang disiplin. Tiba-tiba, tingkat kegagalan mereka mulai menurun. Namun dana mulai habis dan kedisiplinan berhenti. Mereka mundur. Saya rasa itu karena mereka tidak mendapat dorongan.

Jangan salah paham. Mereka adalah profesional yang bekerja keras dan selalu berusaha untuk melakukan hal yang benar. Namun apabila pemegang kuasa di departemen Anda berkata, “Tentu, saya akan menaruh tanaman itu di tanah” dan tidak ada penyelenggaraan atau monitoring disiplin, dan seseorang mengambil foto ketika tanaman itu ditanam, bingo. Anda bebas. Anda mendapat ijin Anda. Untuk apa orang mau bertahan dengan seorang ahli biologi lahan basah tua berumur 71 tahun seperti saya yang meminta biaya besar untuk melakukan hal yang benar?

Siapa yang menurut Anda memiliki kemampuan untuk meningkatkan standar edukasi dan profile dari restorasi habitat pesisir? 

Saya akan bilang NOAA, sebagai permulaan, sebab ada banyak badan pemerintah yang berurusan dengan manajemen dan ijin, [NOAA’s Office for Coastal Management] mempunyai sebuah training center di Charleston, SC. Namun itu pertanyaan yang bagus, dan saya penasaran ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh yang lain.

Apa perubahan paling positif yang pernah Anda lihat di restorasi habitat pesisir selama 40 tahun terakhir?

Telah ada banyak minat akan hal ini, terutama dalam kalangan mahasiswa. Salah satu mantan murid saya sedang di Brazil sekarang dan dia bilang ingin menjadi “Robin Lewis” Brazil. Seorang rekan kerja yang saya latih sekarang tinggal di Indonesia dan mengambil PhD dan ingin menjadi “Robin Lewis” Indonesia. Ada banyak profesional muda berbakat datang, dan itu memberikan saya harapan. Mereka lebih cerdas dari saya. Minat sudah ada, dan apabila kita dapat menjangkau orang-orang dengan baik, kita benar-benar bisa membawa perubahan.

Sumber : Biohabitats

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share This
Scroll to Top