{"id":4908,"date":"2015-04-20T13:46:19","date_gmt":"2015-04-20T13:46:19","guid":{"rendered":"https:\/\/blue-forests.org\/ruang-berita\/kabar-dari-kami\/roy-robin-lewis-tentang-restorasi-ekosistem-pesisir\/"},"modified":"2020-04-22T09:33:32","modified_gmt":"2020-04-22T09:33:32","slug":"roy-robin-lewis-tentang-restorasi-ekosistem-pesisir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/roy-robin-lewis-tentang-restorasi-ekosistem-pesisir\/ruang-berita\/kabar-dari-kami\/","title":{"rendered":"Roy \u201cRobin\u201d Lewis tentang Restorasi Ekosistem Pesisir"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Roy R. \u201cRobin\u201d Lewis III telah mempelajari dan melakukan upaya restorasi ekosistem pesisir selama hampir setengah abad. Sebagai seorang ahli ekologi lahan basah dan presiden dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lewis Environmental Services, Inc.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, spesialisasi beliau adalah dalam bidang ekologi, manajemen, restorasi dan pembentukan rawa air bersih dan air asin, hutan bakau, hutan air tawar dan padang lamun. Robin telah mengaplikasikan pengetahuannya ke dalam ratusan proyek di seluruh dunia, dan lebih dari 100 karya tulis berfokus pada restorasi lahan basah. Beliau adalah presiden dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Coastal Resource Group, Inc., <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebuah organisasi edukasi dan ilmiah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">non-profit <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang juga merupakan tenaga di balik situs-situs berisikan informasi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yaitu www.mangroverestoration.com dan www.seagrassrestorationnow.com. Oleh karena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">passion <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">beliau<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">dalam meneruskan tonggak kepemimpinan kepada generasi profesional restorasi ekosistem pesisir berikutnya, Robin secara sukarela mengajar tentang hal tersebut kepada\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">U.S. Army Corps of Engineers, Ohio State University, University of Wisconsin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Louisiana State University<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Beliau juga telah mengajar tentang restorasi lahan basah di 22 negara, termasuk Guyana, Jamaica, Bonaire, Nigeria, India, Sri Lanka, Thailand, Indonesia dan Vietnam. Beliau juga telah bertugas sebagai anggota direksi dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Society of Wetland Scientists, Association of State Wetland Managers, Mangrove Action Project, WildLaw, Inc.,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Putnam County Environmental Council<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tahun lalu, beliau telah terpilih sebagai anggota <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">IUCN\u2019s Species Survival Commission Mangrove Specialist Group<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><b>Apakah beberapa daerah pesisir lebih mudah direstorasi dibanding yang lain? Mengapa?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam\u00a0<\/span><a href=\"http:\/\/www.mangroverestoration.com\/pdfs\/Lewis%202011%20NWN.pdf\"><b>sebuah artikel yang dimuat pada <\/b><b><i>National Wetlands Newsletter<\/i><\/b><b> tahun 2011, <\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0saya membuat sebuah hirarki yang menunjukkan tingkat keberhasilan sebuah restorasi. Di tingkat paling atas adalah rawa muara dan hutan bakau. Di tingkat bawah adalah vegetasi akuatik terendam. Menurut pengalaman, saya telah mengamati bahwa tingkat keberhasilan untuk restorasi rumput laut sangat rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila membicarakan lahan basah pesisir, kunci dari keberhasilan adalah apakah kita bisa mendapatkan hidrologi yang tepat. Hidrologi dalam sistem pesisir pada umumnya dapat ditebak. Ketika saya mengajar tentang hal ini, saya memberi tahu murid-murid bahwa di dalam komputer saya terdapat sebuah program yang memberi informasi tentang pasang laut di ratusan lokasi di seluruh dunia selama 100 tahun. Dengan sedikit <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">survey<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan PR, kita dapat memprediksi dengan baik tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">baseline<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> normal hidrologi di sebuah area. Pada umumnya ini merupakan proses yang relatif terprediksi. Namun kebanyakan orang gagal .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila kita berpindah ke sistem air bersih, hidrologi tidak bisa ditebak. Musim kemarau, curah hujan, debit air tanah yang tidak terduga&#8230;. semua hal ini menimbulkan kesulitan dalam mendapatkan hidrologi yang tepat. Begitu kita berpindah ke vegetasi akuatik terendam, kita akan berurusan dengan kombinasi hidrologi dan kualitas air. Di beberapa daerah tertentu di dunia, kita juga berurusan dengan dampak fisik yang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">overlapping<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 sebagai contoh dari perahu-perahu atau iklan atau memancing untuk hiburan. Kecuali kita bisa memperbaiki dampak fisik dan biologis tersebut, proses restorasi akan terus menemukan permasalahan.<\/span><\/p>\n<p><b>Dalam <\/b><a href=\"http:\/\/www.mangroverestoration.com\/pdfs\/Lewis%202010%20Mangrove%20Field%20of%20Dreams%20complete%20with%20cover.pdf\"><b>sebuah artikel yang dipublikasi dalam <\/b><b><i>Wetland Science and Practice <\/i><\/b><b>di tahun 2010<\/b><\/a><b>, Anda menulis bahwa \u201crestorasi hutan bakau biasanya berhasil apabila beberapa prinsip-prinsip ekologi dasar diaplikasikan pada tahap perencanaan awal,\u201d namun Anda juga menulis bahwa bukti keberhasilan restorasi mangrove dalam skala besar \u201champir tidak ada\u201d. Apakah prinsip-prinsip ekologi tersebut dan mengapa kebanyakan orang gagal mengaplikasikannya?\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila berbicara tentang kebanyakan proyek yang saya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">familiar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 dan ini meliputi ratusan proyek baik di luar negeri maupun di AS \u2013 di awal diasumsikan bahwa yang harus kita lakukan hanyalah menanam pohon bakau. Pohon-pohon bakau itu kemudian ditanam di tempat-tempat di mana mereka belum pernah tumbuh, sebuah foto memperlihatkan seorang anak sedang menanam pohon mangrove diambil dan dicetak sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cover<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari sebuah laporan keberhasilan, dan sudah selesai begitu saja. Itu adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">monitoring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terakhir yang dilakukan. Namun, kita sering menemukan kegagalan-kegagalan yang sangat spesifik. Artikel saya mendokumentasikan usaha untuk memulihkan 100.000 acre ekosistem mangrove di Filipina yang gagal sebagian besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali, orang-orang tidak mengerjakan PR mereka. Banyak program restorasi ekosistem mangrove dilakukan oleh petugas hutan. Petugas hutan adalah orang-orang yang ahli pohon, mereka menanam pohon. Ketika kita bertanya kepada seorang petugas hutan yang belum pernah berurusan dengan mangrove tentang restorasi, mereka berkata, \u201cItu sangat mudah. Kita hanya perlu menumbuhkan mereka dalam lokasi perawatan, menemukan area yang belum ada mangrove, dan menanam di sana. Itulah yang kita lakukan dengan spesies-spesies lain, jadi pasti itu juga akan bekerja kepada mangrove.\u201d Selama hal ini terus saja terjadi, kita akan terus melihat semakin banyak cerita-cerita horor. Jumlah uang yang tidak bisa terbayangkan banyaknya telah dihabiskan dalam proyek-proyek yang bahkan tidak punya kesempatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Penanaman pohon bakau yang gagal, Gorontalo, Indonesia<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 1997, kami mengembangkan 6 langkah sederhana untuk restorasi ekosistem mangrove [<\/span><a href=\"http:\/\/www.mangroverestoration.com\/pdfs\/EMR%202011%20summary%20for%20web%20site.pdf\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">illustrated resource<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">]. Metodologi tersebut telah diadopsi di sejumlah tempat di mana saya mengajar, termasuk Thailand dan Indonesia. Langkah pertama adalah mengetahui ekologi dari spesies tumbuhan yang ingin kita pulihkan. Proyek restorasi apapun dan komunitas apapun, termasuk karang, harus kembali kepada pertanyaan ini: Bagaimana komunitas ekologi ini secara alami memulihkan diri? Semua komunitas ekologi di planet ini telah mendapat dampak dari banyak hal &#8230; badai, tsunami, letusan gunung berapi, dan banjir. Tanpa campur tangan manusia, mereka berhasil memulihkan diri sendiri. Kita harus melihat proses restorasi natural mereka sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">guideline.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila Anda telah mengambil kelas dalam ekologi, Anda tahu ada istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">primary succession <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">secondary succession. Primary succession<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah ketika tumbuhan atau karang telah sampai pada daerah terendam atau pulau vulkanik. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Secondary succession<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah hal yang sering kita lihat pada vegetasi pesisir pada umumnya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Primary succession <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mungkin telah terkubur oleh timbunan material atau telah tereliminasi oleh suatu sebab lain. Namun mungkin ada beberapa tumbuhan yang tumbuh di sekitarnya, dan apabila berbicara tentang mangrove, mereka mempunyai biji berat dan dapat mengambang. Bergantung sesuai lokasi, biasanya terdapat rumput-rumput atau herba, spesies tumbuhan rendah yang memenuhi situs ini pada awalnya. Belum banyak penelitian yang mempelajari bagaimana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">penduduk awal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini telah memodifikasi tanah, namun tampaknya mereka meningkatkan kondisi tanah \u2013 mungkin dengan oksigenasi anaerobik \u2013 untuk hutan bakau. Hal ini terjadi tanpa campur tangan manusia. Namun apabila kita ingin mempercepat proses tersebut, mungkin kita harus menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">penduduk awal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau spesies \u201cperawat\u201d, seperti cordgrass halus (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Spartina alterniflora) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dalam proyek restorasi ekosistem mangrove kita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Avicennia germinans (mangrove hitam) tumbuh dengan bantuan cordgrass halus (Spartina alterniflora) Pelican Island National Wildlife Refuge, Sebastian, FL<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di daerah teluk, dan dalam beberapa situasi, pantai Atlantik, di mana hutan mangrove tumbuh, kita sering melihat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Spartina, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan beberapa tahun kemudian, mangrove tumbuh secara alami dalam rumpun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Spartina.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sangat istimewa. 5 kaki dari sana, apabila tidak ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Spartina<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tidak ada mangrove. Beberapa peneliti lain telah mendokumentasikan proses natural ini. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Spartina, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di mana sangat baik sebagai pengatur erosi, dapat digunakan di tahap awal untuk menstabilkan garis pantai yang terkikis. Lalu, dalam fungsi ekologis, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cordgrass <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan mangrove dapat menstabilkan garis pantai yang terkikis berat dengan sedikit bantuan manusia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep dari \u201cgaris pantai hidup\u201d ini adalah ide yang muncul dari orang-orang yang mengamati koloni tumbuhan natural yang mendiami garis pantai dan berkata, \u201cMungkin kita dapat menggunakan ini dibanding tembok laut.\u201d Ini merupakan konsep yang hebat, namun telah runtuh, karena kita tidak memiliki pelatihan yang formal. Praktisi harus dapat membedakan antara \u201cgaris pantai hidup\u201d secara ekologis dan alasan untuk menaruh batu di garis pantai.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di luar negeri, di Asia Tenggara, mereka mempunyai spesies rumput lokal yang mendiami, dan belakangan ini, penduduk telah memotongi mereka dan sebagai gantinya menanam mangrove karena mereka tidak mengerti proses natural tersebut. Mereka sebenarnya sedang menghabiskan uang untuk melawan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">secondary succession.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Namun, kita bisa melihat para praktisi \u2013 bahkan di luar negeri \u2013 sedang berusaha mengadopsi konsep ini.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Penanaman mangrove di Jakarta, Indonesia yang berlokasi di tingkat air yang terlalu dalam untuk mendukung mangrove. Semua tanaman mati.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Beberapa kekurangan pada restorasi lahan basah telah dilaporkan. Salah satu contoh terbaru adalah\u00a0<\/b><a href=\"http:\/\/journals.plos.org\/plosbiology\/article?id=10.1371\/journal.pbio.1001247\"><b>sebuah studi di tahun 2012<\/b><\/a> <b>yang dilakukan oleh David Moreno \u2013Mateos, seorang <\/b><b><i>postdoctoral fellow<\/i><\/b><b> dari University of California yang menemukan bahwa, secara rata-rata, tingkah produktivitas lahan basah hasil restorasi lebih rendah 25% dibandingkan lahan basah alami. Tahun lalu, sebagai sebuah usaha untuk menemukan alasan di balik kekurangan teresebut dan langkah yang bisa diambil untuk menanganinya, <\/b><b><i>Association of State Wetland Managers<\/i><\/b><b> membuat suatu kelompok yang disebut <\/b><b><i>Wetland Restoration Working Group. <\/i><\/b><b>Kelompok tersebut mengembangkan <\/b><a href=\"http:\/\/www.aswm.org\/aswm\/aswm-webinarscalls\/6773-improving-wetland-restoration-success-project\"><b>suatu rangkaian webinars gratis tentang \u201cImproving Wetland Restoration Success,\u201d<\/b><\/a><b>\u00a0yang mengundang ahli-ahli dari seluruh AS. Anda dan Joy Zedler, member dari group tersebut, adalah salah satu pengarang dari <\/b><b><i>white paper<\/i><\/b><b> berdasarkan webinars tersebut yang berjudul \u201cWetland Restoration\u201d Contemporary Issues &amp; Lessons Learned.\u201d \u00a0<\/b><b><i>Paper <\/i><\/b><b>tersebut sangat penuh dengan informasi-informasi berguna bagi orang-orang yang terlibat dalam usaha restorasi lahan basah pesisir. Di mana pembaca kami dapat mengakses <\/b><b><i>paper<\/i><\/b><b> ini ketika telah dipublikasi?<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">White paper<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tersebut akan selesai pada musim gugur ini, namun, <\/span><a href=\"http:\/\/www.aswm.org\/pdf_lib\/wetland_restoration_whitepaper_041415.pdf\"><b><i>draft<\/i><\/b><\/a><b>\u00a0<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">telah tersedia secara online.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Banyak dari pembaca kami terlibat dalam tahap perencanaan dan perancangan restorasi lahan basah di lingkungan pesisir. <\/b><b><i>Paper<\/i><\/b><b> ini meliputi beberapa rekomendasi terkait kedua tahap tersebut, namun apabila Anda hanya memiliki 30 detik untuk berbagi saran dengan seorang perancang, apa yang akan Anda bagikan?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Carilah seorang peneliti lahan basah profesional yang bekerja dalam hal yang sama dengan yang akan Anda lakukan. Kami memiliki sekitar 1.500 peneliti lahan basah bersertifikasi di AS. Banyak dari mereka adalah ahli dalam restorasi. Apabila Anda akan membangun sebuah jembatan, Anda harus mencari seorang insinyur jembatan. Apabila Anda ingin merestorasi sebuah lahan basah, Anda harus mencari seorang profesional restorasi lahan basah dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">track record<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan kualifikasi terpercaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Seperti yang Anda utarakan di <\/b><b><i>white paper, <\/i><\/b><b>dalam kasus restorasi lahan basah, kita sebenarnya berkontribusi dalam degradasi lahan basah daerah pesisir.\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila kita mengasumsikan hal dasar yang kita inginkan dari proyek mitigasi apa saja adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">one-to-one<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">replacement <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(berdampak pada satu acre, memulihkan satu acre), telah ada bukti bahwa kita sama sekali tidak mendekati hal tersebut. Beberapa studi yang telah ditulis tentang ini \u2013 <\/span><a href=\"http:\/\/www.nap.edu\/catalog\/10134\/compensating-for-wetland-losses-under-the-clean-water-act\"><b><i>salah satunya National Academy of Sciences<\/i><\/b><b> tahun 2001 <\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u2013 mengindikasikan bahwa kita bahkan tidak mencapai setengah. Saya tidak akan kaget apabila hal itu menjadi lebih parah. Orang-orang seperti saya, yang telah memiliki pengalaman bertahun-tahun, tidak akan menjadi lebih muda, dan para profesional dalam lingkungan pengaturan yang telah mengalami telah pension. Namun masih belum ada program formal untuk meneruskan tonggak untuk pelaku restorasi berikutnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Iklim yang berubah juga dimasukkan dalam <\/b><b><i>white paper<\/i><\/b><b> tersebut sebagai salah satu penghalang utama dalam memenuhi kriteria restorasi lahan basah. Tentu saja perubahan iklim merupakan faktor besar dalam restorasi ekosistem pesisir. Rekomendasi apa yang dapat group Anda berikan terkait hal ini?<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">kolam aquaculture udang di Indonesia yang terbengkalai<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, kita harus mengaplikasikan apa yang telah kita pelajari tentang sistem alami dan proses-prosesnya dan menerapkannya dalam proyek restorasi pesisir atau manajemen pesisir apapun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manajemen pesisir adalah tempat di mana kita harus memberikan penekanan pada dampak dari perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut. Apabila kita menunggu terlalu lama, tipe lahan basah pesisir manapun akan begitu terdegradasi sehingga tidak bisa merespons kenaikan permukaan laut secara alami. Hanya ekosistem mangrove, rawa-rawa dan rumput laut sehat yang dapat beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut \u2013 hingga titik tertentu. Telah ada bukti ilmiah bahwa [habitat pesisir], ketika sehat, dapat beradaptasi dengan kenaikan air laut 10 kali dari yang kita temukan di kebanyakan tempat. (lihat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">paper<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0 # 501, 502 and 503 di bagian \u201cdownloads\u201d di situs\u00a0<\/span><a href=\"http:\/\/www.mangroverestoration.com\/\"><b>www.mangroverestoration.com<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Restorasi hidrologi awal, kolam aquacultur udang terbengkalai, Sulawesi Utara, Indonesia<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini masalahnya&#8230;. bagaimana kita merespons? Apakah kita bisa merespons komunitas tumbuhan pesisir saat mereka sedang stress? Apakah kita bisa mengintervensi lebih awal dan setidaknya memberi mereka kesempatan untuk secara natural beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut? Ini mungkin terdengar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">simple, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">namun ini bukan yang ditekankan. Di AS, jutaan biaya didistribusikan untuk mengatasi permasalahan kenaikan air laut atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">resiliency, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan sebagian besar diberikan untuk proyek-proyek yang berfokus pada komunitas tumbuhan lahan basah yang mengalami kerusakan serius. Apabila dilakukan dengan benar, itu mungkin akan memiliki peran, namun mengusahakan restorasi pada komunitas tumbuhan yang telah rusak merupakan isu restorasi dan teknik ekologi yang benar-benar sulit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penelitian saya menunjukkan bahwa mangrove yang sedang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dideteksi. Kita harus memiliki pola pikir untuk memutar-balikkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trend<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebelum komunitas itu benar-benar hilang. Mangrove dan rawa-rawa dapat membuat substrat mereka sendiri. Entah dengan menjebak sedimen anorganik atau mereka membuat sedimen organik dari pertumbuhan akar. Mereka membuat gambut. Di banyak tempat, seperti Louisiana, terdapat area luas yang didominasi oleh tanah gambut organik yang ditemukan hilang saat tumbuhan menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam beberapa kasus, kita melihat akumulasi gambut selama beberapa dekade atau ratusan tahun. Bahkan terdapat hutan mangrove yang berumur 8.000 tahun. Apabila kita membiarkan komunitas itu mati, dan membiarkan tanah organik itu untuk teroksidasi, lalu apa yang kita lakukan dengan restorasi? Kita tidak bisa mengembalikan akumulasi tanah ratusan atau ribuan tahun dalam semalam. Apabila kita telah kehilangan tanah ditambah dengan kenaikan air laut, ini bukanlah pendekatan yang logis.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Jadi berdasarkan 40 tahun pengalaman Anda dalam usaha restorasi habitat pesisir, Anda berkata bahwa sangat penting untuk memilih situs restorasi karena adanya titik kritis di mana kita tidak akan mendapat keuntungan (dan tentu bukan hanya secara finansial)?<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sederhanya pengeluaran kita harus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">worth it. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila kita ingin menginvestasi dana untuk melindungi garis pantai, di mana investasi terbaik? Saya menyarankan kita tidak melihat hal itu. Banyak orang tidak melihat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cost<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebenarnya dari sebuah restorasi pesisir. Data terbaru dari Corps of Engineers di New York dan New Jersey menunjukkan bahwa mereka telah menghabiskan setengah juta dollar per acre untuk restorasi rawa-rawa. Kita tidak mampu mencapai dana itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Google \u201cbiaya restorasi mangrove\u201d dan lihat apa yang akan kamu dapat. Kalian akan mendapat beberapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">paper<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saya, tapi tidak lebih. Ternyata itu bisa jadi sangat mahal, namun bisa menjadi lebih murah apabila kalian mengerjakan PR dan mencoba untuk mengintervensi ketika ada masalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pada tumbuhan (dibanding restorasi komunitas tumbuhan yang sudah hilang). Begitu kita melibatkan teknik yang berat, biaya akan naik.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">7 tahun setelah pekerjaan selesai. Kebanyakan adalah mangrove yang tumbuh secara alami.<\/span><\/i><\/p>\n<p><b>Apakah kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk mempraktikkan deteksi dini ini? Anda menyebutkan <\/b><b><i>paper<\/i><\/b><b> Anda, tapi apakah sudah ada penelitian yang cukup tentang <\/b><b><i>stress<\/i><\/b><b> pada ekosistem pesisir?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum. Agensi-agensi menghabiskan jutaan dolar untuk isu \u201ccoastal resiliency\u201d tapi mereka tidak melirik proyek-proyek untuk hal ini. Tidak ada cukup biaya dan cukup penelitian. Namun kami sedang mengembangkan proses dengan mangrove. Kami mempunyai beberapa situs dan semua itu tidak dibiayai, penelitian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ad hoc, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tapi kami akan mendapat informasi yang cukup tentang tumbuhan bakau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam setahun atau dua tahun. Ini masuk akal: mengantisipasi dan mengukur <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mengintervensi dini, dan memulihkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, secara paralel, apabila pemerintah ingin melakukan usaha restorasi, saya bukannya menyarankan jangan. Namun, proyek tersebut harus berjalan dan harus ada dokumentasi bahwa proyek ini berhasil. Di dalam setiap proyek harus ada semacam penilaian dan laporan kuantitatif. Ketika kita membahas tentang melaporkan apa yang bekerja dan tidak, semua seringkali gagal karena dalam banyak kasus, tidak ada dana yang cukup untuk sampai ke publikasi. Kita tidak belajar dari kesalahan.Kita menggunakan term manajemen adaptif setiap saat. Tapi apa arti sesungguhnya dalam kehidupan nyata usaha lahan basah? Dalam slogannya, \u201cbelajar dari kesalahan, publikasikan itu, dan beradaptasi supaya tidak mengulang kesalahan yang sama.\u201d Saya harus berkata bahwa hal itu terjadi dalam restorasi lahan basah pesisir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Anda telah mengkosultasikan, meneliti, atau bekerja dengan proyek restorasi habitat pesisir di seluruh dunia. Apakah negara lain melakukan pekerjaan yang lebih baik dari AS apabila kita membahas manajemen adaptif dalam usaha restorasi habitat pesisir?<\/b><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara Inggris sedang merencanakan program \u201cplanned retreat\u201d. Mereka melihat garis pantai mereka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breaching<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tanggul yang mungkin sudah ribuan tahun dan membiarkan ombak untuk kembali. Di AS, metode \u201cplanned retreat\u201d adalah tabu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Bekerja dalam negara-negara seperti Vietnam, Cuba, Thailand dan Nigeria, yang berbeda secara ekologis, kultural, politik, apakah Anda menemukan kesamaan dalam faktor yang bisa meningkatkan efektivitas restorasi habitat pesisir?<\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Expertise<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">training<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kita membawa expertise dari seorang profesional, lalu mengadakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">training <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">train the trainer)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk masyarakat lokal. Kita harus memikirkan generasi selanjutnya dari para pelaku restorasi.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Di dalam <\/b><b><i>skill <\/i><\/b><b>dan pengetahuan yang Anda targetkan untuk ditransfer dalam situasi tersebut, apa yang paling penting untuk inisiatif restorasi dalam jangka panjang?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemahaman akan autoekologi: ekologi dari setiap spesies. Kita harus mengerti keadaan biologis dan ekologis dari spesies target kita dan kita harus turun sampai level botani. Saya telah mengerjakan proyek di Filipina di mana saya bertanya, \u201cKomunitas tumbuhan apa yang akan kita restorasi?\u201d dan mereka berkata, \u201cKami tidak tahu. Kami hanya ingin merestorasi mangrove.\u201d <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Well, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ada 26 spesies di Filipina dan setiap spesies tersebut memiliki sebuah asosiasi dengan 10-20 spesies tumbuhan rawa-rawa lainnya. Apa kebutuhan hidrologis mereka? Di mana mereka tumbuh sepanjang garis pantai?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita juga harus mengetahui ekologi pesisir lokal sebelum mulai berpikir tentang restorasi. Ini mencakup dataran tinggi, margin antara dataran tinggi dan mangrove, pantai, dll. Peran esar dari ahli ekologi restorasi seringkali dilupakan.<\/span><\/p>\n<p><b>Apakah sebagai seorang ahli dalam restorasi lahan basah pesisir, Anda pernah datang ke sebuah negara dan belajar dari masyarakat lokal tentang pengetahuan ekosistem tradisional?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal itu terjadi di setiap tempat yang saya kunjungi. 22 negara, 22 pelajaran tentang ekologi mangrove dan rawa-rawa. Saya akan memberi Anda contoh. Salah satu spesies bakau yang tumbuh di Filipina dan area sekitarnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rhizophora mucronata, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki biji hampir sepanjang satu meter. Apabila mau, Anda bisa mengumpulkan biji-biji itu dan menanamnya di sembarang tempat, dan mereka akan tumbuh. Orang-orang telah menanamnya dan berhasil menumbuhkan mangrove di tempat-tempat yang saya kira tidak mungkin. Namun, mereka menanamya di area rumput laut sebab di daerah itu, mereka tidak pernah menghargai rumput laut. Jadi saya belajar bahwa kita bisa mengubah area rumput laut yang sehat menjadi hutan mangrove <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rhizophoamucronata.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Tapi apakah itu adalah hal yang baik?<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Saya ingin kembali ke jawaban Anda terhadap 2 pertanyaan pada suatu publikasi NOAA tentang <\/b><b><i>Restoring Coastal Habitats<\/i><\/b><b> padatahun 1998. Pertanyaan pertama: Seberapa efektif restorasi habitat dalam mengulas dampak manusia pada lingkungan pesisir? Dalam jawaban Anda di tahun 1998, Anda berkata bahwa \u201cRestorasi habitat pesisir, apabila dirancang dan dibangun dengan baik, akan sangat efektif dalam memulihkan tipe habitat tertentu seperti rawa pasang surut dan hutan bakau\u201d namun \u201cbanyak proyek restorasi habitat pesisir untuk semua tipe, kalau tidak berhasil hanya sebagian, akan gagal total. Seringkali kegagalan ini terjadi karena individual yang kurang berpengalaman berusaha merancang dan membangun proyek tanpa pelatihan yang cukup.\u201d Apakah jawaban Anda berubah sekarang?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jawaban saya masih kurang lebih sama. Usaha restorasi akan efektif apabila dilaksanakan dengan benar, dan hal ini telah dilakukan. Telah ada banyak proyek-proyek besar yang berhasil di AS. Namun proyek-proyek tersebut tidak direplikasi dan kita tidak belajar banyak. Kebanyakan kita tidak mendapatkan hasil yang sesuai dengan investasi kita dalam restorasi habitat pesisir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Pertanyaan kedua: Pengembangan apa yang paling penting sebelum restorasi habitat pesisir dapat menyelesaikan dampak manusia pada pesisir? Dalam jawaban Anda di 1998, Anda berkata, \u201cKesalahan rutin dalam perancangan dan konstruksi restorasi habitat pesisir terus diulang karena pengetahuan yang dikumpulkan oleh para profesional restorasi ekologi berpengalaman seringkali kalah dengan pertimbangan teknis.\u201d Bagaimana Anda akan menjawab pertanyaan itu sekarang?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam jawaban saya, saya juga berkata bahwa teknologi restorasi pesisir modern tidak secara formal diajarkan di universitas manapun, namun ditransfer kepada generasi baru dalam restorasi ekologi dari peneliti yang berani yang mengakui bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban, dan yang sering membuat kesalahan sebelum belajar melalui pengalaman.\u201d Kelompok kecil dari pelaku restorasi berpengalaman ini berusaha untuk membuat pengajaran akan restorasi masuk ke dalam pendidikan formal.\u201d Kami melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">progress<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di sini, namun kami belum dapat menjangkau mayoritas masyarakat yang ingin kami jangkau. Masih sangat sedikit sekali program pelatihan restorasi habitat pesisir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, satu tahun sekali, saya mengajar sebuah kursus singkat tentang restorasi lahan basah pesisir kepada U.S. Army Corps of Engineers. Apabila Anda berada di cabang ijin kerja, Anda harus me<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">review<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> aplikasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">permit. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa partisipan telah mempunyai 20 tahun pengalaman. Ketika saya bertanya, \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Training <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">seperti apa yang Anda dapatkan sebelum datang ke kelas ini tentang apa yang efektif dan tidak di restorasi lahan basah pesisir?\u201d Mereka menjawab, \u201cTidak ada.\u201d Mereka dilatih dalam legalitas, yang tentu saja penting, namun mereka tidak dilatih untuk menentukan apakah orang-orang yang mengirimkan aplikasi dalah profesional, atau setidaknya apakah mereka ada kemungkinan berhasil. Jadi tidak ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">downside<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari melakukan suatu proyek restorasi lahan basah yang tidak bagus. Proyek-proyek jarang ditinjau atau diperiksa kembali. Saya tidak berbicara untuk terdengar menghakimi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">namun apabila suatu proyek dirancang dengan salah atau berjalan ke arah yang salah, hal itu perlu diobservasi dan dilaporkan, dan koreksi di tengah jalan diperlukan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di saat-saat ini di mana ada pemotongan dana dan politik yang memegang kekuasaan di AS, ada beberapa orang yang akan berkata, \u201cKami sangat senang untuk melakukan mitigasi, namun apabila anda mulai datang dan menceramahi kami tentang apa yang akan bekerja dan tidak, kami akan mundur.\u201d Hal ini terjadi di North Carolina, dan ada satu artikel tentang itu di publikasi terbaru <\/span><a href=\"http:\/\/www.wetlandsnewsletter.org\/\"><b>National Wetlands Newsletter.<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0North Carolina menyadari bahwa mereka tidak mendapatkan hasil yang sepadan dengan dana yang dikeluarkan. Jadi mereka mendapat hibah, dan mereka melakukan penyelenggaraan dan monitoring yang disiplin. Tiba-tiba, tingkat kegagalan mereka mulai menurun. Namun dana mulai habis dan kedisiplinan berhenti. Mereka mundur. Saya rasa itu karena mereka tidak mendapat dorongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan salah paham. Mereka adalah profesional yang bekerja keras dan selalu berusaha untuk melakukan hal yang benar. Namun apabila pemegang kuasa di departemen Anda berkata, \u201cTentu, saya akan menaruh tanaman itu di tanah\u201d dan tidak ada penyelenggaraan atau monitoring disiplin, dan seseorang mengambil foto ketika tanaman itu ditanam, bingo. Anda bebas. Anda mendapat ijin Anda. Untuk apa orang mau bertahan dengan seorang ahli biologi lahan basah tua berumur 71 tahun seperti saya yang meminta biaya besar untuk melakukan hal yang benar?<\/span><\/p>\n<p><b>Siapa yang menurut Anda memiliki kemampuan untuk meningkatkan standar edukasi dan <\/b><b><i>profile <\/i><\/b><b>dari restorasi habitat pesisir?\u00a0<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya akan bilang NOAA, sebagai permulaan, sebab ada banyak badan pemerintah yang berurusan dengan manajemen dan ijin, [NOAA\u2019s Office for Coastal Management] mempunyai sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">training center <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di Charleston, SC. Namun itu pertanyaan yang bagus, dan saya penasaran ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh yang lain.<\/span><\/p>\n<p><b>Apa perubahan paling positif yang pernah Anda lihat di restorasi habitat pesisir selama 40 tahun terakhir?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Telah ada banyak minat akan hal ini, terutama dalam kalangan mahasiswa. Salah satu mantan murid saya sedang di Brazil sekarang dan dia bilang ingin menjadi \u201cRobin Lewis\u201d Brazil. Seorang rekan kerja yang saya latih sekarang tinggal di Indonesia dan mengambil PhD dan ingin menjadi \u201cRobin Lewis\u201d Indonesia. Ada banyak profesional muda berbakat datang, dan itu memberikan saya harapan. Mereka lebih cerdas dari saya. Minat sudah ada, dan apabila kita dapat menjangkau orang-orang dengan baik, kita benar-benar bisa membawa perubahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sumber :\u00a0<\/span><a href=\"http:\/\/www.biohabitats.com\/newsletters\/coastal-habitat-restoration\/expert-qa-roy-robin-lewis\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Biohabitats<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Roy R. \u201cRobin\u201d Lewis III telah mempelajari dan melakukan upaya restorasi ekosistem pesisir selama hampir setengah abad. Sebagai seorang ahli ekologi lahan basah dan presiden dari Lewis Environmental Services, Inc., spesialisasi beliau adalah dalam bidang ekologi, manajemen, restorasi dan pembentukan rawa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5325,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1151],"tags":[1586,1583,1587],"class_list":["post-4908","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dari-kami","tag-rehabilitasi-mangrove","tag-restorasi-mangrove-secara-ekologis","tag-robin-lewis-id"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4908","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4908"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4908\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5325"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4908"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4908"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4908"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}