{"id":4955,"date":"2014-04-20T14:50:02","date_gmt":"2014-04-20T06:50:02","guid":{"rendered":"https:\/\/blue-forests.org\/ruang-berita\/kabar-dari-kami\/dari-kerentanan-menuju-ketahanan\/"},"modified":"2026-06-13T11:18:22","modified_gmt":"2026-06-13T03:18:22","slug":"dari-kerentanan-menuju-ketahanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/dari-kerentanan-menuju-ketahanan\/ruang-berita\/kabar-dari-kami\/","title":{"rendered":"Dari kerentanan menuju ketahanan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ada banyak contoh keberhasilan program rehabilitasi ekosistem mangrove berskala besar (5.000-10.000 hektar) dari seluruh dunia, sayangnya usaha rehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia, baik skala besar maupun kecil, seringkali mengalami kegagalan. Mayoritas proyek-proyek tersebut (baik program pemerintah maupun non-pemerintah) terlalu menyederhanakan hal-hal teknis dari rehabilitasi mangrove. Mereka lebih suka menanam langsung sub-kelompok spesies mangrove terbatas (dari family Rhizophoracea) umumnya di bagian bawah sistem intertidal (dari level lautan rata-rata sampai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">atmospheric tide<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terbawah), di mana mangrove secara natural tidak tumbuh. Selain dari kurangnya evaluasi hal-hal teknis, rehabilitasi seringkali menargetkan rawa-rawa karena hutan mangrove yang benar-benar terdegradasi seringkali dikaitkan dengan isu tenurial yang membutuhkan usaha dan investasi lebih.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">telah diimplementasikan dan didokumentasikan selama beberapa dekade terakhir di sistem mangrove <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">New World<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan rehabilitasi ini dipilih sebagai alternatif terbaik untuk diadopsi dan dicoba di Indonesia. Ketika di Amerika Serikat, kelima proses difokuskan kepada evaluasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">biophysical<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan perbaikan eco-hidrologi, di Indonesia sendiri, EMR membutuhkan pendekatan dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">biophysical<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> biaya rendah dan perhatian yang lebih kepada pendekatan politik sosiokultural yang umum ditemukan pada program pengembangan berkelanjutan dan manajemen sumber daya pesisir.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adaptasi dari EMR pertama kali diuji cobakan dalam proyek-proyek kecil, sekitar 12-33 hektar di Pulau Sumatera dan Sulawesi. Adaptasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">biophysical<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> meliputi metode evaluasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">low-cost biophysical<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kebergantungan akan tenaga kerja manual, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">strategic breaching<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan tanggul kolam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aquaculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, konstruksi manual dari saluran pasang, dan penyebaran propagule yang dibantu manusia. Di sisi lain, adaptasi sosio-politik meliputi penetapan penguasaan lahan, peningkatan program pelatihan untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trainer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, penilaian gender dan sensitivitas, peningkatan pengorganisasian masyarakat, koordinasi dengan berbagai lembaga pemerintah dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">monitoring<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara partisipatif. Proyek pertama berhasil dalam mengrehabilitasi area mangrove dan keberagamannya, sambil mengkatalisis manajemen kolaborasi atau berbasis masyarakat. Proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Community based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terbaru dilaksanakan di <a href=\"\/en?p=4960\">Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan<\/a>, di mana 1.776 hektar ekosistem mangrove ditebang menjadi 576 hektar dalam dua dekade oleh karena adanya pengembangan 1.200 hektar kolam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aquaculture.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kurang lebih 800 hektar kolam di pulau tersebut dinon-aktifkan pada awal dari sebuah proyek berjangka 4 tahun untuk mengembalikan 400 hektar mangrove dengan biaya 590.000 USD dan menginisiasi manajemen adaptif kolaboratif. Penduduk lokal dari 6 desa dengan sukarela menyediakan kolam mereka untuk rehabilitasi karena mata pencaharian utama mereka telah beralih ke <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mariculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> rumput laut dan mereka menyadari kebutuhan mendesak untuk merestorasi ekosistem mangrove untuk meningkatkan usaha perikanan dan perlindungan dari badai. Area pertama yang berhasil dipulihkan (43 hektar) telah berhasil mencapai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">density <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">rata-rata 2.171 batang\/ hektar, 32 bulan setelah restorasi pertama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga situs lainnya telah berhasil menunjukkan pertumbuhan alami antara 767-1.450 bibit dalam waktu 7-10 bulan setelah restorasi. Masyrakat lokal telah mendirikan grup manajemen ekosistem mangrove dan peraturan untuk baik hutan mangrove yang tersisa dan area rehabilitasi yang telah diakui oleh pemerintah. Implementasi dari analisis gender, sensitivitas gender dan pengembangan grup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Womangrove<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terbukti sangat krusial untuk membentuk partisipasi seimbang dari wanita dalam proses manajemen dan rehabilitasi mangrove. Proses CBEMR dalam poin ini telah dipertimbangkan untuk ditingkatkan dan direplika, dan telah ditetapkan sebagai metode terbaik di Sulawesi Selatan maupun di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian National Mangrove Stategies. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Prosedur CBEMR telah direkomendasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia sebagai langkah utama dalam memulihkan 4.000 hektar ekosistem mangrove Konservasi Alam Tanjung Panjang di Gorontalo, yang secara ilegal dialih-fungsikan menjadi kolam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aquaculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> selama dua dekade. CBEMR dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">strategic breaching<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga telah dipertimbangkan untuk program restorasi hutan mangrove yang dikonversi, meliputi 60.000 hektar kolam udang yang sudah tidak terpakai dan tidak terurus di Mahakam Delta, Kalimantan Timur. Efektivitas dari CBEMR yang telah terbukti pada skala kecil dan menengah, bergantung pada kemampuannya untuk menyelesaikan isu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">biophysical <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0dan sosio-politik yang mendasari degradasi hutan mangrove di Indonesia. Apabila hal ini diaplikasikan ke proyek restorasi dalam skala besar, dipastikan bahwa perhatian berkelanjutan diperlukan untuk kedua pendekatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta dan Angka<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lokasi:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pulau Tanakeke terletak tidak jauh dari pulau utama di Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah atol koral, pulau ini memampangkan terumbu karang, rumput laut dan ekosistem hutan bakau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">overwash,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan proporsi wilayah terestial yang kecil. Mata pencaharian utama dari kebanyakan penduduk adalah pertanian rumput laut yang berlokasi di laguna <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sub-tidal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang luas. Memancing sepanjang karang dan lepas pantai dilakukan oleh seluruh masyarakat yang berjumlah 10.073 orang ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">A: Foto dari satelit ini diambil pada tahun 1976, menangkap\u00a0 1.776 hektar hutan bakau overwash. (Sumber: Landsat.org, Global Observatory for Ecosystem Services, Michigan State University, http:\/\/landsat.org.)<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama tahun1990an, 1.200 hektar dari 1.776 hektar hutan mangrove diubah menjadi kolam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aquaculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> udang dan ikan. Dari total lahan tersebut, 800 hektar merupakan milik masyarakat namun tidak digunakan, karena penduduk Tanakeke kesulitan membeli input eksternal, merawat dinding tanggul dan produktivitas, dan sebagian besar telah beralih ke<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> mariculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> rumput laut. Lebih dari 400 hektar hutan bakau yang telah dialih-fungsikan diberikan kepada Kementerian Transmigrasi dan belum dipastikan akan digunakan untuk rehabilitasi mangrove. Sisa 576 hektar hutan bakau telah dibersihkan untuk keperluan produksi arang, kayu bakar, tiang konstruksi, peralatan memancing dan dukungan struktural untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mariculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> rumput laut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari 800 hektar kolam milik masyarakat, 400 hektar telah disediakan untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ecological Mangrove Rehabilitation <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(EMR) untuk periode 4 tahun, di mana proses dan hasilnya didiskusikan seperti di bawah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengorganisasian sosial dan kerja fisik dimulai dan diimplementasikan oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mangrove Action Project \u2013 Indonesia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai bagian dari proyek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Restoring Coastal Livelihood (RCL) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">4.5 tahun berdana 7.7 juta USD yang didanai oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Canadian International Development Agency (CIDA)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan OXFAM-GB. Yayasan Konservasi Laut, sebuah partner LSM lokal berbasis di Makassar, menyediakan pengorganisasian sosial dan bantuan kebijakan. Sejumlah badan pemerintahan juga turut berpartisipasi dalam koordinasi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">training, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan pengembangan kebijakan dalam 4 level:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Level desa: Pemerintah Desa, Badan Perwakilan Daerah (BPD)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sub-area\/ Level area: Departemen Perikanan, Departemen Kehutanan, Departemen Perencanaan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social Agency, Technical Outreach and Extension Agency<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (PPL), Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Level provinsi: Departemen Perikanan, Departemen Kehutanan, Departemen Perencanaan, PPL, dan KKMD<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Level nasional: Kementerian Lingkungan, Kementerian Kehutanan, Balai Pengelolaan Hutan Mangrove (BPHM I) dan Kelompok Kerja Mangrove Nasional (KKMN)<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Universitas Hasannudin memberikan dukungan teknis, studi latar belakang, bimbingan dan 8 relawan S1 dan S2. Sebagai tambahan, dukungan teknis yang sedang berjalan difasilitasi oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">National University of Singapore \u2013 Fakultas Geografi (modeling, substrate elevation measurements) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Charles Darwin University \u2013 Research Institute for Environment and Livelihoods (carbon stock assessment, livelihood monitoring guidance).\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan utama:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peningkatan hidrologi dan mempromosikan revegetasi natural dalam 400 hektar lahan kolam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aquaculture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang sudah tidak digunakan dengan kebutuhan penanaman mangrove yang minim.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">1.250 \u2013 3.750 bibit (tidak ditanam) dapat tumbuh sehat (dibandingkan dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">benchmark) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">3 tahun setelah rehabilitasi hidrologi pertama.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Rehabilitasi biodiversitas natural dari fauna hutan bakau (spesies dan asosiasi komunitas) berdasarkan survey-survey dan wawancara dengan para tetua.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan dari regulasi manajemen mangrove berbasis masyarakat; terutama menggambarkan praktik dan zona penebangan kayu berkelanjutan serta hutan pangandriang.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peningkatan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat melalui pembentukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">forest management learning groups (FMLG) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Womangrove<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, pengembangan alternatif mata pencaharian berkelanjutan dan dukungan edukasi lingkungan untuk anak sekolah.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Formasi KKMD dalam level distrik jangka panjang untuk membimbing proses konversasi dan pemanfaatan ekosistem mangrove Pulau Tanakeke berkelanjutan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Legitimasi dari rencana pengelolaan masyarakat desa oleh KKMD.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Manfaat untuk masyarakat:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perlindungan dari badai. Desa-desa di bagian barat pulau telah mengalami banjir besar dan erosi tanah setelah peralihan ekosistem mangrove menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">aquaculture.<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memperkuat perikanan. Walaupun tidak secara ilmiah, masyarakat tengah mengawasi populasi kepiting, udang dan ikan di daerah anak sungai dua kali setahun melalui pemantauan partisipatif. Studi perikanan akan dibangun untuk proyek ke depannya, dengan tujuan untuk\u00a0 membangun kembali 75% perikanan fungsional yang setara dengan kawasan mangrove dalam restorasi selama 7 tahun.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peningkatan pertumbuhan biomassa pohon. Praktik tebang habis (siklus 6-8 tahun) dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dense regrowth <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0telah menghasilkan produksi biomassa yang rendah.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peningkatan ketahanan dari sistem mangrove oleh karena peningkatan biodiversitas; terutama pembangunan kembali spesies-spesies bakau di ketinggian intertidal rendah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sonneratia alba, Avicennia marina<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A. alba<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengembangan produk hutan non-kayu untuk penggunaan substansial dan pasar lokal.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari awal usaha rehabilitasi mangrove, masyarakat lokal dan para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stakeholder <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mengekspresikan kepedulian mereka bahwa peningkatan manajemen mangrove sangat penting untuk keberlangsungan ekosistem jangka panjang dan manfaat lainnya. Penggunaan dari kayu pohon bakau tidak bisa dihindari mengingat kurangnya lahan terestrial dan jarak ke pulau utama di mana BBM dijual. Meskipun demikian, kurangnya manajemen hasil kayu diidentifikasi akan menjadi ancaman terbesar bagi ekosistem mangrove di Tanakeke. Penebangan (atas) untuk produksi arang menempatkan desa-desa dalam risiko pasang, angin, dan banjir. Desa-desa sepanjang bagian barat pulau telah mengalami banjir besar oleh karena penebangan dari ekosistem mangrove di pesisir untuk produksi arang dan pengembangan kolam. Bawah: Penduduk Desa Lantang Peo, Pulau Tanakeke, berpartisipasi dalam perbandingan antara kompor masak hemat bahan bakar dan kompor masak tradisional. Aktivitas ini dijalankan sebagai bagian dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Forest Management Field School, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang bertujuan untuk mengembangkan sistem sosio-ekologis yang tangguh.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ini merupakan potongan dari C<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ASE STUDY: Community Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR) in Indonesia<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">From small (12-33 ha) to medium scales (400 ha) with pathways for adoption at larger scales (&gt;5000 ha) oleh<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ben Brown, Ratna Fadillah, Yusran Nurdin, Iona Soulsby dan Rio Ahmad.\u00a0<\/span><\/i><a href=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2020\/02\/Community-Based-Ecological-Mangrove-Rehabilitation-CBEMR-in-Indonesia-SAPIENS-Journal.pdf\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Download the full paper<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0and find it and many\u00a0more useful research resources \u2013\u00a0all\u00a0available copy-left \u2013\u00a0in our\u00a0<\/span><\/i><a href=\"\/en?knowledge-type=materi-publikasi\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">resources section<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/206.189.41.173\/\">ggdewa777<\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/68.183.236.111\/\">ggdewa777<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika ada banyak contoh keberhasilan program rehabilitasi ekosistem mangrove berskala besar (5.000-10.000 hektar) dari seluruh dunia, sayangnya usaha rehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia, baik skala besar maupun kecil, seringkali mengalami kegagalan. Mayoritas proyek-proyek tersebut (baik program pemerintah maupun non-pemerintah) terlalu menyederhanakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5335,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"default","ast-site-content-layout":"","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1151],"tags":[1375,1583,1585,1584],"class_list":["post-4955","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dari-kami","tag-pulau-tanakeke","tag-restorasi-mangrove-secara-ekologis","tag-restorasi-mangrove-secara-ekologis-berbasis-masyarakat","tag-sulawesi-selatan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4955"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4955\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7401,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4955\/revisions\/7401"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5335"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}