{"id":8460,"date":"2025-12-03T09:52:35","date_gmt":"2025-12-03T01:52:35","guid":{"rendered":"http:\/\/konsep-otomatis\/kabar-dari-kami\/"},"modified":"2026-06-13T11:23:56","modified_gmt":"2026-06-13T03:23:56","slug":"jeruju-daun-mnagrove-yang-menjadi-asa-baru-warga-pesisir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/jeruju-daun-mnagrove-yang-menjadi-asa-baru-warga-pesisir\/ruang-berita\/cerita-dari-lapangan\/","title":{"rendered":"Jeruju, Harapan Alternatif Ekonomi Biru"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/DSCF1103_1-scaled.jpg\" width=\"525\" height=\"350\" \/><span style=\"font-weight: 400;\">Gambar 1. Jeruju (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acanthus sp<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) jenis mangrove untuk pembuatan Teh Jeruju &#8211; (Blue Forests)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian masyarakat pesisir, mengandalkan hasil laut saja kini sudah tidak lagi cukup. Musim tangkapan yang semakin tidak menentu membuat penghasilan harian menjadi tidak stabil, sehingga mengharuskan masyarakat untuk bisa mencari alternatif mata pencaharian selain dari mengandalkan hasil laut. Belakangan ini, muncul inisiatif dari kelompok perempuan pesisir yang mulai mengolah, mengemas, dan memasarkan produk olahan daun jeruju (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Acanthus <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sp.). Tanaman mangrove yang ramai dianggap sekadar tumpukan semak belukar, kini dimanfaatkan menjadi teh herbal yang dikenal dengan nama Teh Jeruju.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-12.09.26-scaled.jpeg\" width=\"450\" height=\"338\" \/>Gambar 2. <span style=\"font-weight: 400;\">Ibu Palatiyah Pengolah Teh Jeruju &#8211; (Marini Binti Muliady)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jeruju merupakan salah satu jenis mangrove yang sudah sejak lama dikenal masyarakat sebagai tanaman obat. Daunnya dipercaya dapat membantu mengatasi masalah kesehatan seperti diabetes dan hipertensi. Potensi inilah yang kemudian diangkat menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir, terutama di wilayah yang memiliki akses besar terhadap sumber daya mangrove.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui pengolahan daun jeruju menjadi teh herbal, masyarakat tidak hanya memperoleh nilai tambah dari hasil alam, tetapi juga turut mengembangkan konsep ekonomi biru yang merupakan pendekatan pembangunan yang memadukan manfaat ekonomi dengan perlindungan ekosistem laut dan pesisir. Pendekatan ini menekankan pada pemanfaatan sumber daya pesisir secara berkelanjutan, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi. Inisiatif ini membuka peluang usaha baru sekaligus mendorong pelestarian ekosistem mangrove sebagai penopang utama kehidupan pesisir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di beberapa desa dampingan Yayasan Hutan Biru, pemanfaatan daun jeruju difasilitasi melalui kegiatan Sekolah Lapang, seperti di Kabupaten Muna dan Dusun Kuri Caddi, Kabupaten Maros. Peserta tidak hanya diajarkan memetik dan mengeringkan daun jeruju, tetapi juga dipandu hingga tahap akhir, mengemasnya menjadi produk teh siap seduh yang layak jual. Melalui proses ini, masyarakat memperoleh keterampilan baru sekaligus membuka jalan menuju usaha berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu praktik baik pengolahan jeruju datang dari Dusun Gunung Keruing, Desa Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. Wilayah ini memiliki ekosistem mangrove yang luas dan menjadi habitat alami tanaman jeruju. Sejak 2021, beberapa warga telah terbiasa memanfaatkan daun jeruju untuk dijadikan minuman herbal bagi kebutuhan rumah tangga.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat potensi tersebut, pada 2022, Yayasan Hutan Biru dengan dukungan Blue Action Fund dan Blue Ventures mendampingi pembentukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Teh Jeruju. Dari sinilah pengembangan produk teh jeruju mulai dikembangkan secara lebih terorganisir, dengan sentuhan inovasi dan manajemen modern. Daun Jeruju yang awalnya hanya diracik sebagai minuman rumahan, kemudian bertransformasi menjadi produk Teh Jeruju yang siap bersaing di pasar lokal, bahkan sudah pernah tampil di ajang pameran dan festival tingkat nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<em>Dulu itu promosi awalnya ya saya sendiri yang kerjakan, sambil antar jemput anak sekolah, sekalian saya tawarin ke tetangga-tetangga. Mereka bilang, katanya habis minum Teh Jeruju ini, buang air jadi lebih lancar<\/em>,&#8221; kata Ibu Palatiyah, pengolah Teh Jeruju.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/WhatsApp-Image-2025-12-03-at-12.09.27-scaled.jpeg\" width=\"478\" height=\"359\" \/>Gambar 3. <span style=\"font-weight: 400;\">Daun Jeruju yang dikeringkan &#8211; (Marini Binti Muliady)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok usaha ini terdiri dari para petani dan pengrajin lokal yang saling bekerja sama, mulai dari memanen jeruju, mengolah, hingga memasarkan produk. Dalam praktiknya, mereka tetap menjaga prinsip pengelolaan berkelanjutan, dengan cara memetik daun secara selektif agar tanaman jeruju tetap tumbuh dan ekosistem mangrove tetap terjaga. Kesadaran akan pentingnya kelestarian alam menjadi bagian dari nilai yang mereka junjung, karena jeruju hanyalah satu bagian kecil dari ekosistem mangrove yang memiliki peran penting dalam melindungi pesisir dari abrasi dan mendukung keanekaragaman hayati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses pengembangan produk ini bukan sekadar mengubah bentuk daun jeruju menjadi teh, melainkan juga sebuah upaya edukatif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nilai tambah dari sumber daya alam sekitar mereka. Melalui pendampingan, masyarakat dibekali pengetahuan mengenai standar pengolahan, pengemasan, dan strategi pemasaran yang efektif, sehingga cara pandang mereka terhadap tanaman mangrove pun berubah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/DSCF1201_1-scaled.jpg\" width=\"522\" height=\"348\" \/>Gambar 4. <span style=\"font-weight: 400;\">Pengemasan Teh Jeruju &#8211; (Blue Forests)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dampaknya terlihat jelas pada perkembangan jalur distribusi teh jeruju. Jika sebelumnya produk ini hanya dipasarkan dari rumah ke rumah atau melalui jaringan personal, kini pemasarannya telah merambah pasar lokal yang lebih luas. Bahkan, kini teh jeruju mulai menjangkau pasar yang lebih modern dengan disajikan sebagai salah satu menu minuman coffeeshop yang ada di Kota Pontianak. Pengembangan olahan teh jeruju ini menunjukkan bahwa produk lokal berbasis mangrove juga memiliki daya tarik komersial yang kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pouring coffee, salah satu coffeeshop di kota Pontianak yang dikenal dengan eksperimen rasa dan inovasi minumannya, turut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan teh jeruju. Melalui proses kurasi dan uji coba produk, lahirlah dua varian menu minuman berbasis teh jeruju: Noir dan Eclipse. Kreasi sajian ini merupakan perpaduan produk sumber daya lokal, antara teh jeruju bersama madu kelulut, dan\u00a0 madu mangrove.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peningkatan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brand awareness<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membuat kehadiran teh jeruju di tengah dominasi produk kopi meningkatkan kesadaran publik terhadap produk lokal lainnya. Hal ini tentu mengangkat citra mangrove dari sekadar hutan pesisir menjadi bahan baku produk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gourmet <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang bernilai. Selain itu, inisiatif ini juga membawa dampak sosial yang positif, dengan membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk berkarya sekaligus berkontribusi pada kesejahteraan rumah tangga.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/Selain-Eclips-kini-kami-juga-punya-menu-baru-Noir.Sedikit-berbeda-dengan-Eclips-yang-menghadir.jpg\" width=\"350\" height=\"437\" \/>Gambar 5. <span style=\"font-weight: 400;\">Noir salah satu menu dari varian Teh Jeruju di Pouring coffee<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> &#8211; (Instagram @pouringcoffee)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, usaha pengembangan teh jeruju juga tidak lepas dari tantangan. Ketersediaan daun jeruju sangat bergantung pada kondisi lingkungan dan perubahan cuaca. Musim kemarau panjang hingga perubahan iklim bisa memengaruhi pertumbuhan tanaman, sehingga berdampak langsung pada volume dan kualitas produksi teh. Ketidakpastian ini menuntut pelaku usaha untuk beradaptasi dan merencanakan strategi keberlanjutan, termasuk diversifikasi bahan baku serta penyesuaian pola panen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<em>Kami panennya biasanya tiap empat bulan sekali, karena lokasi ambil daun Jeruju ini kan lumayan jauh. Kalau lagi banyak pesanan, dan kami tidak sempat panen sendiri, ada yang bantu panen. Tapi memang jualan sudah jauh lebih lancar. Dulu sekilo itu bisa tiga bulan baru habis, sekarang satu bulan sudah habis<\/em>,&#8221; sambung Ibu Palatiyah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski demikian, tantangan tersebut justru memperkuat kesadaran bahwa menjaga kesehatan ekosistem mangrove adalah kunci utama keberlanjutan teh jeruju. Karena itu, upaya pelestarian mangrove, mulai dari perlindungan, pemanfaatan lestari, hingga edukasi kepada masyarakat, menjadi bagian penting dari proses usaha ini. Pendekatan ini bukan hanya memastikan produksi yang berkelanjutan, tetapi juga memberi manfaat jangka panjang bagi komunitas yang bergantung pada ekosistem pesisir.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<p>Ditulis oleh: Marini Binti Muliady<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gambar 1. Jeruju (Acanthus sp) jenis mangrove untuk pembuatan Teh Jeruju &#8211; (Blue Forests) Bagi sebagian masyarakat pesisir, mengandalkan hasil laut saja kini sudah tidak lagi cukup. Musim tangkapan yang semakin tidak menentu membuat penghasilan harian menjadi tidak stabil, sehingga mengharuskan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8461,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-8460","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-dari-lapangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8460","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8460"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8460\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8479,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8460\/revisions\/8479"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8461"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8460"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8460"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8460"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}