{"id":8562,"date":"2026-01-19T11:06:01","date_gmt":"2026-01-19T03:06:01","guid":{"rendered":"http:\/\/konsep-otomatis\/kabar-dari-kami\/"},"modified":"2026-06-13T11:24:07","modified_gmt":"2026-06-13T03:24:07","slug":"ketika-guru-menjadi-pelopor-lisa-kisah-saharudin-menggerakkan-perubahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/ketika-guru-menjadi-pelopor-lisa-kisah-saharudin-menggerakkan-perubahan\/ruang-berita\/cerita-dari-lapangan\/","title":{"rendered":"Ketika Guru Menjadi Pelopor LISA: Kisah Saharudin Menggerakkan Perubahan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pagi itu, seorang lelaki berbadan tegap, dan berpakaian rapi tampak berjaga di depan gerbang sekolah. Matanya tajam mengamati satu per satu murid yang masuk. Sesekali pandangannya tertuju pada halaman dan kelas, seolah tengah mencari sesuatu. Tiba-tiba mulutnya berucap lirih, &#8220;Ingat LISA. ingat LISA\u201d.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sosok itu adalah Saharudin, guru SD Negeri 3 Wakorumba Selatan, Muna, Sulawesi Tenggara. \u201cLISA itu singkatan dari lihat sampah ambil,\u201d jelasnya. LISA merupakan gerakan cinta lingkungan untuk menumbuhkan kebiasaan menjaga kebersihkan dan keindahan sekolah. Saharudin, guru kelahiran Pure, 9 Agustus 1987, ini berharap gerakan tersebut tidak hanya diterapkan murid di sekolah, tetapi juga di rumah, serta di mana pun dan kapan pun mereka berada.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lahir dalam keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan perikanan, membuat kesadaran akan pentingnya lingkungan begitu melekat di hati dan jiwa Saharudin. Ingatannya pun kembali ke masa kecil. Dalam benaknya, seolah tergambar kembali potongan-potongan film kehidupan orang tuanya\u00a0 membesarkan kedua anaknya. Masih sangat jelas terbayang wajah L. Mukmin D., sang ayah, yang sering bersimbah peluh saat memanggul hasil kebun di bawah\u00a0 terik matahari. Langkahnya selalu disusul Wa Ramsia,\u00a0 ibunya, yang siap menjajakan hasil kebun demi menyambung hidup keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBapak saya bertani, juga nelayan. Hasilnya dijual ibu ke pasar,\u201d kisahnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari pengalaman hidup itu, Saharudin belajar bahwa tanpa menjaga lingkungan, sulit rasanya manusia memperoleh keseimbangan alam sebagai tempat berpijak. Bayang-bayang bencana pun selalu menghantui, apalagi sekolah dan rumahnya berada dekat kawasan pesisir, hanya berjarak beberapa ratus meter hingga dua kilometer dari bibir Selat Buton. \u201cTaman sekolah yang kami buat pernah rusak disapu banjir,\u201d jelasnya dengan mimik serius.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taman sekolah itu dibuat dari botol-botol bekas air mineral. Melalui mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan, Saharudin menyisipkan pendidikan lingkungan hidup. Ia meminta murid-muridnya mengumpulkan botol plastik di sekolah.\u00a0 Mereka pun berlarian ke sana ke mari, kadang berebut sambil tertawa riang. &#8220;Setelah dikumpulkan, botol-botol ini mau diapakan? Ada yang bilang dibakar, ada yang bilang diisi tanah dan ada yang bilang dicat,&#8221; cerita Saharudin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah murid-murid diajak untuk bijak memperlakukan sampah. Daya nalar mereka dipancing melalui pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Mereka kemudian diberi tugas menciptakan kreasi menarik sekaligus bermanfaat dari\u00a0 botol-botol bekas tersebut.\u00a0 Hasilnya botol-botol plastik yang sulit\u00a0 terurai itu berubah menjadi dinding bedeng taman, hingga pot-pot tanaman beraneka warna, hingga dekorasi taman yang indah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Murid-murid pun gembira karena pelajaran yang biasanya hanya berlangsung di dalam kelas, kini terasa hidup, seru, dan menyenangkan. \u201cSenang sekali bisa bermain, diajar menghias dan mengecat botol untuk taman sambil membersihkan lingkungan agar terlihat indah,&#8221; tutur Dwi\u00a0 Wulan salah satu murid. Kini, bukti kerja keras Saharudin bersama murid-muridnya telah menghiasi pekarangan depan SDN 3 Wakorumba Selatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berhenti pada gerakan Lihat Sampah Ambil, lahan sekolah seluas sekitar 2.500 meter persegi yang sebelumnya terbengkalai membuat Saharudin berpikir untuk memanfaatkannya. Sebagai guru kelas, ia memadukan berbagai mata pelajaran dalam satu kegiatan: bercocok tanam. Kegiatan ini dipilih karena mengandung banyak aspek pengetahuan sekaligus menjadi media penilaian perilaku murid.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bersama murid-muridnya, Saharudin mulai membersihkan lokasi tanam pada Juli 2025. Semak belukar dan sampah yang sulit terurai disingkirkan.Tanah kemudian digemburkan untuk mendukung kehidupan mikroorganisme, meningkatkan penyerapan nutrisi dan mendukung pertumbuhan akar. Setelah itu, dibuatlah bedeng-bedeng sebagai media tanam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertumbuhan tanaman tentu tidak hanya bergantung pada tanah yang gembur, tetapi juga membutuhkan asupan pupuk. Masuknya program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Muna pada Mei 2025 semakin menguatkan pendekatan pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Setelah menikmati MBG, murid diarahkan untuk memilah limbah organik dan anorganik. Selama ini, limbah program MBG dibuang begitu saja. Kini, sisa nasi, sayuran, buah, ikan, dan daging\u00a0 dimasukkan ke dalam ember, sedangkan limbah plastik dibuang terpisah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ember berisi limbah organik\u00a0 sengaja disimpan di dalam kelas selama 14 hari,\u00a0 agar murid dapat mengamati perubahan yang terjadi: pemisahan bahan padat dengan dan cair, terbentuknya mikroorganisme lokal, serta perubahan warna juga bau.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Limbah ini kemudian dijadikan bahan baku pupuk kompos dan MOL untuk memperkaya unsur hara di bedeng tanaman<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sehari sebelum pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan, Saharudin meminta murid mengumpulkan daun gamal\u00a0 dan pelepah pisang yang melimpah di sekitar rumah mereka\u00a0 untuk dibawa ke sekolah. Permintaan ini sempat membingungkan murid dan orang tua karena dianggap tak berkaitan dengan olahraga. Namun sesampainya di sekolah, daun dan pelepah pisang dicincang sehalus, dicampur kotoran sapi, lalu ditutup karung plastik. &#8220;Ini kita buat pupuk organik,&#8221; jelas Saharudin. Senyuman dan anggukan murid pun muncil, menjawab rasa penasaran mereka.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKegiatan ini menggabungkan pendidikan jasmani dengan ilmu pengetahuan alam, bahkan ilmu sosial. Ada nilai kekompakan, interaksi antar kelompok, dan tanggung jawab. Dari sisi IPA, murid belajar mendaur lingkungan agar kembali bermanfaat bagi tanaman,\u201d jelas Saharudin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah kompos dan MOL siap, penanaman pun digiatkan. berbagai jenis sayur ditanam, mulai dari kangkung, sawi, kacang panjang, mentimun, wortel, tomat, hingga lombok.\u00a0 Waktu berlalu hingga akhirnya masa panen tiba pada Agustus 2025. Murid dan guru menyambutnya dengan penuh suka cita. Sayuran tampak segar, berwarna cerah, berbobot lebih berat, dan berukuran lebih besar dibanding yang biasa mereka beli.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil panen dibagikan bukan hanya kepada murid, guru, dan staf sekolah, tetapi juga kepada warga sekitar sekolah. &#8220;Enak rasanya, lebih bagus dari yang dibeli di pasar. Orang tua suka, dan minta supaya bisa panen lagi,&#8221; ungkap Dwi Wulan, disambut persetujuan teman-temannya.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20251219_084343-scaled.jpg\" width=\"510\" height=\"383\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Program Ketahanan Pangan Nasional yang diusung pemerintahan Prabowo-Gibran dalam setahun terakhir merambah sampai daerah, termasuk Kabupaten\u00a0 Muna, Sulawesi Tenggara. Pada September 2025, setiap sekolah diwajibkan memanfaatkan pekarangannya untuk kegiatan bercocok tanam. Pengetahuan dan pengalaman Saharudin dalam bertani kembali diuji.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangannya tidak ringan. Dari satu petak pekarangan berukuran 15 x 8 meter yang awalnya menjadi tanggung jawabnya bersama beberapa guru dan staf, kini bertambah dua petak lagi. Guru dan staf lain yang ditugaskan mengelola kesulitan karena jarak rumah mereka jauh dari sekolah. Ibarat mesin yang menggerakkan roda, Saharudin pun memimpin rekan-rekannya, dibantu para murid, membersihkan pekarangan belakang sekolah yang lebih luas namun tidak produktif. Bedeng-bedeng dibuat, disusul pembuatan kompos dan MOL.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kami diajar Pak Sahar membuat pupuk dari sisa buah dan sisa MBG (makanan bergizi gratis),&#8221; jelas Nining Karlina, staf teknis SDN 3 Wakorumba Selatan. Aneka jenis sayuran ditanam. Seiring dengan kegiatan di sekolah, ayah Khairil dan Mutiara ini juga memanfaatkan pekarangan rumahnya yang hanya seluas 2 x 4 meter untuk menanam sayuran seadanya<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu pun bergulir. September berlalu, disusul Oktober, hingga pertengahan November, dan tibalah masa panen.\u00a0 Hasilnya sangat menggembirakan. Pupuk organik yang diolah sendiri menghasilkan sayuran yang lebih segar, berwarna cerah dan berukuran lebih besar. Kegembiraan Saharudin semakin lengkap saat sayuran dari pekarangan sekolah dan rumahnya dimasak dan dinikmati.\u00a0 &#8220;Rasanya, hmmm\u2026 lebih gurih. Daunnya hijau sekali dan padat,&#8221;ujarnya berseri-seri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan panen ini menjadi inspirasi bagi guru maupun staf sekolah lainnya untuk memaksimalkan pekarangan rumah masing -masing. &#8220;Badan lebih segar setelah konsumsi sayur di sini. Jadi saya buat juga di rumah, meski tidak banyak macamnya. Ada tomat, lombok dan terong. Baru juga panen,&#8221; kata Nining Karlina dengan wajah bahagia.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20251219_085627.jpg\" width=\"500\" height=\"375\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ini karena saya belajar di Blue Forests. Apa yang saya pelajari, semuanya saya terapkan,&#8221; terang Saharudin. Rasa ingin tahunya yang besar, terutama terkait upaya menjaga lingkungan, menjadi pintu awal perkenalannya dengan Blue Forests. Lembaga ini berfokus pada pemulihan kerusakan dan pengembalian ekosistem\u00a0 mangrove dengan tetap mengedepankan hak masyarakat setempat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabar bahwa Blue Forests akan menggelar Training Of Trainer (TOT) Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) bagi para guru sampai ke telinga Saharudin. Sayangnya, pelatihan ini dikhususkan bagi sekolah-sekolah dampingan Blue Forests. Tidak ingin menyerah, ia kemudian menemui fasilitator Blue Forests dan menyampaikan keinginannya untuk ikut serta. Diskusi panjang tentang lingkungan pun mengalir, dan dari situ terlihat jelas kepedulian suami Mustika ini terhadap isu lingkungan. Akhirnya, permintaan Saharudin disetujui. Ia resmi menjadi salah satu dari 26 guru peserta TOT PLH yang dilaksanakan di Balai Desa Labunia pada 20-22 Januari 2025.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui pelatihan ini, Blue Forests berharap para guru dapat menerapkan model pembelajaran lingkungan hidup di sekolah masing-masing.\u00a0 Kegiatan dimulai dengan mengidentifikasi masalah dan dampak lingkungan pesisir serta sekolah. Metode pembelajaran dirancang interaktif melalui kunjungan lapangan, permainan edukatif dan diskusi. Peserta mempelajari ekosistem pesisir yang mencakup kawasan mangrove dan pemukiman penduduk. Pada praktik lapangan, mereka diperkenalkan pada ekosistem mangrove serta mengidentifikasi jenis-jenis mangrove yang ada di Muna. Selanjutnya peserta belajar metode pendidikan lingkungan yang menarik dan interaktif, hingga materi tentang sampah, dampaknya, lama penguraian, serta peluang pemanfaatannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak berhenti di situ, Pada Februari 2025 Saharudin kembali mendapat kesempatan mengikuti pelatihan ecoprint yang dibimbing langsung oleh Farechah, praktisi dari Darwin Australia. Ecoprint adalah teknik pewarnaan kain menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu secang dan dedaunan, termasuk daun mangrove, yang menghasilkan motif khas bernilai seni.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TOT PLH diakui Saharudin telah banyak meluaskan wawasan berpikirnya, memperluas jejaring kemitraan, serta membawa perubahan baik bagi dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. Terpilih sebagai Guru Penggerak dan digembleng selama sembilan bulan, Saharudin diharapkan menjadi sosok yang tergerak, bergerak dan menggerakkan. Tergerak berarti memiliki inisiatif sebagai pemimpin pembelajaran atau agen perubahan; bergerak berarti mampu memberikan motivasi; dan menggerakkan berarti mampu menjadi fasilitator bagi guru lainnya maupun murid.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20251219_085047-scaled.jpg\" width=\"479\" height=\"360\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTOT PLH sangat menambah wawasan saya untuk diterapkan dalam pendidikan di sekolah. Di TOT PLH kita juga diarahkan untuk memberikan kesenangan kepada anak. Belajar sambil bermain, belajar sambil mengenal, terutama dengan turun langsung ke lapangan. Kalau dulu anak-anak hanya mengkhayal hutan mangrove itu lebat dan akarnya seperti ini atau itu, sekarang mereka bisa melihat dan mempelajarinya,\u201d ungkap Saharudin dengan ceria.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurutnya, kecerdasan murid-muridnya kian meningkat. \u201cAlhamdulillah, anak-anak itu lebih senang, bahkan kekuatan pemahamannya itu lebih cepat. Karena mereka belajar dalam dua versi: melihat langsung kenyataan dilapangan lalu menuliskannya kembali atau merefleksikannya. Bahkan anak-anak selalu bertanya, kapan lagi kita ke sini, kapan lagi kita survey lingkungan?\u201d kata Saharudin girang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegembiraannya bertambah karena hobi bercocok tanamnya kini semakin berkembang setelah mengenal pupuk kompos dan MOL, yang manfaatnya juga ia tularkan kepada keluarga, juga murid dan rekan sejawatnya. \u201cSekarang tinggal petik\u00a0 di pekarangan. Sayurnya enak dan sehat,\u201d ujarnya yakin. Sayuran organik itu bukan hanya dikonsumsi sendiri, tapi juga bernilai ekonomi. \u201cSaya jual ke pasar,\u201d tuturnya.\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jiwa seni Saharudin pun tersalurkan melalui pemanfaatan warna-warna alami. terutama dari mangrove, lewat teknik ecoprint. Pengetahuan tentang mangrove yang terus bertambah membuatnya kerap dipercaya menjadi juri cerdas cermat hingga penilaian olahan makanan dan minuman berbahan mangrove.\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Capaian demi capaian positif Saharudin sebagai guru tidak hadir begitu saja. Semua diraih melalui proses panjang. \u201cSaya sebenarnya tidak pernah berpikir menjadi guru. Faktor nasib juga.\u00a0 Cita-cita saya dulu menjadi tentara,\u201d urainya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lulus SMA di tahun 2006, Saharudin muda mencoba mewujudkan mimpinya menjadi anggota TNI. Tahapan persiapan ia jalani dengan serius namun keberuntungan belum berpihak padanya. Ia kembali mencoba pada tahun berikutnya, tapi lagi-lagi gagal. Kesedihan dan kekecewaan pun membuncah. Pada 2008, Saharudin memutuskan meninggalkan kampung halamannya di Pure menuju Raha untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Terbuka. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biaya hidup dan pendidikan yang tinggi tidak mampu memadamkan tekadnya. Selain membayar kuliah, ia harus memenuhi biaya kos,\u00a0 kebutuhan sehari-hari, hingga cicilan motor. Berbagai pekerjaan pun ia jalani demi bertahan, selama itu ditempuh secara halal. Ia menarik nafas panjang, matanya berkaca-kaca saat mengenang masa sulit itu. \u201cSaya harus jadi kuli bangunan dan tukang ojek,\u201d ucapnya dengan suara tercekat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem perkuliahan daring memberi ruang bagi Saharudin untuk menambah penghasilan dengan mengajar sebagai guru olahraga di sebuah sekolah swasta. Namun harapannya tak berbanding lurus dengan kesejahteraan. \u201cSaya mengabdi sejak 2008, gajinya 100 ribu rupiah per-tiga bulan,\u201d kenangnya. Meski demikian, dari tempat itu ia mendapatkan kesempatan belajar dan pengalaman mengajar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 2013, Saharudin resmi menyandang gelar sarjana dan diwisuda langsung di Kampus Pusat Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Banten. Setahun setalahnya, ia kembali ke kampung halaman di Pure dan mengabdi sebagai guru honorer di SDN 3 Wakorumba Selatan, hingga akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil pada 2019. Dalam masa pengabdiannya, beragam prestasi akademik berhasil diraih, baik secara pribadi maupun oleh sekolah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibalik prestasi tersebut, Saharudin tetap memegang teguh komitmen menjaga lingkungan. &#8220;Lingkungan ini penting. Untuk siapa? Untuk kita semua. Sekarang dan masa depan. Ingat LISA,&#8221; tutupnya.<\/span><\/p>\n<p>Ditulis: Alwy Fauzy<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pagi itu, seorang lelaki berbadan tegap, dan berpakaian rapi tampak berjaga di depan gerbang sekolah. Matanya tajam mengamati satu per satu murid yang masuk. Sesekali pandangannya tertuju pada halaman dan kelas, seolah tengah mencari sesuatu. Tiba-tiba mulutnya berucap lirih, &#8220;Ingat LISA. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":8563,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-8562","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-dari-lapangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8562","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8562"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8562\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8957,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8562\/revisions\/8957"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8563"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8562"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8562"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8562"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}