{"id":8632,"date":"2026-02-19T11:09:47","date_gmt":"2026-02-19T03:09:47","guid":{"rendered":"http:\/\/konsep-otomatis\/kabar-dari-kami\/"},"modified":"2026-07-07T15:04:17","modified_gmt":"2026-07-07T07:04:17","slug":"belajar-tak-mengenal-usia-semangat-hading-di-sl-tambak-dan-sl-pertanian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/belajar-tak-mengenal-usia-semangat-hading-di-sl-tambak-dan-sl-pertanian\/ruang-berita\/cerita-dari-lapangan\/","title":{"rendered":"Belajar Tak Mengenal Usia: Semangat Hading di SL Tambak dan SL Pertanian"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari menjelang siang. Sinar mentari merangkak ke ubun-ubun, menyiramkan panas yang menempel di kulit. Namun, terik itu tak menggoyahkan seorang lelaki yang sedang mengolah tambaknya. Hading, 58 tahun, terus mengayun cangkul, memperkuat pematang dengan gerakan yang masih bertenaga. Dalam pikirannya hanya satu: bagaimana tambak itu kembali subur, menghasilkan udang dan ikan bandeng yang melimpah seperti dulu. Sejak 2021, hasil panennya terus merosot.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hading pun berkisah tentang hidupnya sebelum mengenal tambak. Selama 14 tahun melaut di perairan Papua, ia akhirnya pulang kampung untuk menikahi seorang gadis bernama Jasang pada tahun 1991. Kebahagiaan keduanya semakin lengkap setelah dikarunia seorang anak laki-laki yang diberi nama Safar.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/IMG_20251220_180909.jpg\" width=\"516\" height=\"387\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bagian dari suku Bajo, laut kembali menjadi sandaran hidup. Namun, seiring bertambahnya usia dan melihat peluang lain dari laut, Hading memutuskan berhenti menjadi nelayan. Dengan bermodal tabungan, ia membeli kapal dan membuka usaha jasa angkutan barang antar pulau. Dibantu oleh Safar, anaknya, usahanya berkembang dengan baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai suatu waktu, kapalnya mengalami masalah di Selat Bone, tepatnya di sekitar perairan Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kapal tersebut akhirnya hanyut bersama muatan kayu jati yang mereka bawa. Bahkan, ia dan Safar sempat terpisah dan terombang-ambing di tengah lautan. \u201cSaya hanya pasrah dan berpikir akan mati,\u201d kenangnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dini hari berganti pagi, pagi berganti siang, siang berganti sore, sore dan berganti malam. Hading akhirnya diselamatkan oleh nelayan setempat. Namun, hatinya dipenuhi kecemasan karena memikirkan nasib anaknya serta para anak buah kapal lainnya. Bersyukur karena mereka semua selamat dan dapat kembali ke kampung halaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peristiwa pada tahun 2015 itu seolah menjadi titik balik bagi Hading. Ia berusaha bangkit dengan mengolah lahan tambak seluas 60 are di Desa Lasama, Kecamatan Tiworo Kepulauan, Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara. Tanpa memiliki pengetahuan tentang pengolahan tambak, Hading mulai menebar bibit udang dan ikan bandeng.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBelum ada pengalaman. Empat puluh ribu ekor bibit\u00a0 udang dan ikan bandeng saya masukkan. Cuma sembilan ekor udang saja yang jadi. Ikan bandeng tidak bisa dijual dan hanya dibagikan ke tetangga,\u201d katanya sambil tersenyum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata kegagalan panen tersebut disebabkan banyaknya ikan pemangsa atau predator. Dari kegagalan pahit itu, perlahan Hading mulai belajar dari tetangganya yang lebih berpengalaman. \u201cMereka bilang tambak harus diracun dulu untuk membunuh ikan pemangsa bibit,\u201d ungkapnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/IMG_20251220_180944-scaled.jpg\" width=\"447\" height=\"335\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegagalan justru membuat semangat Hading semakin besar semangat hingga ia membeli tambak milik tetangganya. Total luasan tambaknya pun menjadi 1,4 hektar. Sebagai pemula, Hading terus mencari informasi ke berbagai pihak. Setiap pengetahuan yang diperoleh, satu per satu ia terapkan di tambaknya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tambak kemudian diberi berbagai perlakuan, mulai dari dikeringkan, dibersihkan. hingga disemprot saponim untuk membasmi ikan pemangsa. Setelah ikan pemangsa mati, tambak dinetralkan dengan air baru, kemudian dilanjutkan dengan pepmberian pupuk urea dan TSP. Pupuk tersebut diyakini dapat menjadi sumber pakan alami bagi buat bibit udang dan ikan bandeng. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cModal beli pupuk saat itu setengah mati juga, sekitar lima ratusan ribu rupiah,\u201d keluh Hading.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Puncaknya pada tahun 2017, tambak Hading mulai menghasilkan panen dengan berat udang dan ikan bandeng rata-rata mencapai 600 kilogram. Rasa haru bercampur bahagia menyelimuti dirinya. Harapan yang selama ini diperjuangkan akhirnya terwujud. Bahkan, dalam setahun ia bisa melakukan panen hingga dua kali. Setiap panen, ia mengaku mampu meraup keuntungan sekitar tujuh juta rupiah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menginjak tahun 2021, produksi tambaknya kembali mengalami penurunan. Hasil panen rata-rata hanya mencapai 100 kilogram.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau kondisi udang dan ikan bandeng tidak sehat. Istilahnya ambilkan gabus untuk panen paksa. Ya, sekadar untuk kembali modal saja,\u201d ujarnya sedih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hading kemudian mulai mengamati kondisi tambaknya. \u201dWarna airnya seperti air teh dan warna tanahnya agak kekuningan,\u201d jelasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Belajar Dari Sumber Daya Organik<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah kegundahan karena tambak yang tidak lagi membuahkan hasil optimal, Yayasan Hutan Biru (YHB) hadir dengan program Sekolah Lapang Tambak (SL Tambak) pada tahun 2024. Sebanyak 20 orang terpilih menjadi peserta. Melalui diskusi langsung di lapangan, dilakukan pengamatan terhadap kondisi ekologi tanah tambak. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi air dan tanah tambak tidak lagi sehat untuk pertumbuhan bibit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah kegundahan karena tambak yang tidak lagi membuahkan hasil optimal, Yayasan Hutan Biru (YHB) hadir dengan program Sekolah Lapang Tambak (SL Tambak) pada tahun 2024. Sebanyak 20 orang terpilih menjadi peserta. Melalui diskusi langsung di lapangan, dilakukan pengamatan terhadap kondisi ekologi tanah tambak. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi air dan tanah tambak tidak lagi sehat untuk pertumbuhan bibit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bentuk perbaikan, peserta diajarkan membuat pupuk kompos dan mikroorganismes lokal (MOL). \u201cMurah karena bahannya ada di sekitar kita, seperti daun gamal, batang pisang, atau sisa makanan. Paling saya keluar sedikit uang untuk meyuruh anak-anak mengumpulkan kotoran sapi. Pupuknya lebih banyak, bisa membuat sampai sepuluh karung\u201d kata Hading dengan gembira.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sambil menunggu pupuk kompos dan MOL siap digunakan. Tambak yang dijadikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">demonstration plot <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(demplot)<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">atau lokasi ujicoba dikeringkan dan dibersihkan dari pemangsa bibit, baik ikan maupun keong. Tanah kemudian digemburkan, dilanjutkan dengan pemberian pupuk kompos dan MOL. Setelah diratakan dan melalui proses fermentasi sekitar sebulan, air kemudian dimasukkan ke dalam tambak hingga mencapai kondisi stabil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWarna airnya biru gelap, sedangkan warna tanahnya berlumut kehitaman,\u201d terang Hading. Perubahan warna air dan tanah tersebut diyakini sebagai tanda membaiknya kondisi tambak dan siap digunakan kembali. Bibit udang atau benur kemudian ditebar, disertai pemberian MOL secara berkala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau hujan saya biasa bawa dua puluh liter MOL ke tambak. Langsung saya siram di empat sudutnya. MOL memang luar biasa, airnya langsung berubah. Tidak jadi makanan saja tapi bikin udang jadi tahan penyakit juga,\u201d tutur Hading serius. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak terasa waktu berlalu hingga memasuki bulan ketiga, masa panen pun tiba. Hasilnya sangat memuaskan para peserta SL Tambak.. \u201cKawan saya, Pak Aswan, bisa panen sampai satu ton,\u201d kata Hading sambil tersenyum. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan penggunaan pupuk kompos dan MOL dalam meningkatkan kualitas tambak juga diperluas melalui kegiatan Sekolah Lapang Pertanian (SL Pertanian) yang berfokus pada pemanfaatan pekarangan rumah. Para peserta diajarkan teknik bercocok tanam yang lebih baik dengan memanfaatkan pupuk kompos dan MOL. Lahan tanam dibersihkan, digemburkan, lalu dicampur dengan pupuk kompos sebelum ditanami berbagai jenis sayuran seperti kangkung, kacang panjang, dan terong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBisalah memenuhi kebutuhan rumah sehari-hari. Dibagi juga ke tetangga. Tidak kami jual,\u201d jelas Hading.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal serupa juga dirasakan oleh salah satu pendamping SL Tambak dan SL Pertanian, Corawati. \u201cKami lebih yakin\u00a0 mengkonsumsi sayuran yang kami tanam sendiri karena pupuknya alami,\u201d ujarnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usia tidak menjadi penghadang bagi Hading untuk terus belajar di SL Tambak dan SL Pertanian, terlebih ketika berhadapan dengan hal-hal baru yang sebelumnya belum ia kenal. \u201cBeliau peserta paling tua di antara kami. Tapi sangat konsisten dan semangat di tiap pertemuan. Pak Hading makin cakap dan berani berbicara dibanding sebelum mengikuti SL. Bahkan tidak segan menjelaskan manfaat kompos dan MOL hingga cara bercocok tanam kepada orang lain,\u201d ungkap Corawat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik SL Tambak maupun SL Pertanian telah mengubah pola pikir para pesertanya agar lebih peduli terhadap lingkungan dan memanfaatkannya dengan bijak. Penggunaan pupuk kimia seperti urea dan TSP yang mahal kini tidak lagi menjadi keharusan. Dengan pupuk kompos dan MOL, hasil tambak organik\u2013baik udang maupun ikan\u2013menjadi lebih berbobot dan berukuran lebih besar. Untuk kebutuhan sayuran sehari-hari pun para peserta tidak perlu lagi membeli ke luar desa sebab sudah tersedia di pekarangan rumah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua perubahan ini bermula dari manfaat pupuk kompos dan MOL, serta semangat belajar Hading yang tak pernah padam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/IMG_20251220_180317-scaled.jpg\" width=\"518\" height=\"389\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari menjelang siang. Sinar mentari merangkak ke ubun-ubun, menyiramkan panas yang menempel di kulit. Namun, terik itu tak menggoyahkan seorang lelaki yang sedang mengolah tambaknya. Hading, 58 tahun, terus mengayun cangkul, memperkuat pematang dengan gerakan yang masih bertenaga. Dalam pikirannya hanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":8635,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-8632","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-dari-lapangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8632","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8632"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8632\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9068,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8632\/revisions\/9068"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8632"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8632"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8632"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}