{"id":9049,"date":"2026-06-30T09:52:35","date_gmt":"2026-06-30T01:52:35","guid":{"rendered":"http:\/\/konsep-otomatis\/kabar-dari-kami\/"},"modified":"2026-06-30T10:04:04","modified_gmt":"2026-06-30T02:04:04","slug":"pangan-dari-pekarangan-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/pangan-dari-pekarangan-sendiri\/ruang-berita\/cerita-dari-lapangan\/","title":{"rendered":"Pangan dari Pekarangan Sendiri"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langit tampak gelap, pertanda hujan sedikit lagi akan turun. Angin laut mulai berhembus, menyapu persawahan di Dusun Dande-Dandere, Desa Maccini Baji, membuat batang padi muda bergoyang tak menentu. Di sebuah pondok sederhana di tepi sawah, sekelompok orang, mayoritas perempuan, tampak duduk melingkar. Mereka sedang menepi dari ancaman hujan deras. Bukan sekadar berteduh, melainkan belajar. Musim hujan yang bagi sebagian orang menjadi alasan menunda pekerjaan, di tempat ini justru menjadi ruang membaca tanda-tanda alam: warna daun, jejak hama, batang yang patah, dan tanah yang mulai berubah sifatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah Lapang Pesisir (SLP) Pertanian sedang berlangsung dalam beberapa seri pertemuan di Desa Maccini Baji, Kepulauan Tanakeke, Sulawesi Selatan. Di lahan seluas enam are, kelompok ini membangun demplot percontohan sawah organik. Letaknya berdampingan dengan sawah warga lain yang masih menggunakan pupuk kimia. Dua pendekatan itu berdiri di tanah yang berdampingan, menerima hujan yang sama, dan kelak akan dipanen di musim yang sama. Perbandingan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk belajar\u2014tentang apa yang bertahan, apa yang rapuh, dan apa yang perlu diperbaiki.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-03-14-at-17.22.54.jpeg\" width=\"581\" height=\"387\" \/><em>Panen padi peserta SL Desa Maccini Baji &#8211; (Muhammad Sahid)<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya sendiri juga petani. Sering ada hama di sawah. Ada padi yang patah leher,\u201d ujar Diana Dg. Sayang, salah satu peserta SLP Pertanian secara organik. Ia menyebut istilah \u201cpatah leher\u201d untuk menggambarkan batang padi yang roboh akibat serangan hama atau kondisi tanah yang tidak lagi kokoh. \u201cDi sini saya mau belajar, hama itu apa saja dan bagaimana mengatasinya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan Diana menggambarkan kegelisahan yang pelan-pelan muncul di Tanakeke. Selama bertahun-tahun, pupuk kimia dianggap jalan pintas yang menjanjikan hasil cepat. Panen meningkat, waktu tanam terasa efisien, dan sawah terlihat hijau merata. Namun, seiring waktu, produktivitas mulai menurun. Tanah terasa lebih keras. Serangan hama tak kunjung usai. Biaya produksi meningkat, sementara hasil tidak lagi sebanding. Di pulau kecil yang berjarak sekitar satu jam perjalanan laut dari daratan Kabupaten Takalar, ketergantungan pada input dari luar perlahan menjadi beban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan Sekolah Lapang Pesisir yang difasilitasi Blue Forests mencoba menggeser cara pandang itu. Warga tidak hanya diajak mengurangi pupuk kimia, tetapi juga memahami kembali sawah sebagai ekosistem yang utuh. Tanah, air, organisme mikro, serangga, hingga manusia yang mengelola\u2014semuanya saling terkait. Di dalam pertemuan-pertemuan yang terjadwal, peserta mempraktikkan pembuatan pupuk organik, mengenali jenis hama, dan mendiskusikan cara pengendalian alami. Peserta SLP juga diajak untuk mengenali tanaman padi secara lebih mendalam melalui pendekatan sains sederhana yang sebelumnya jarang dipelajari oleh masyarakat. Pembelajaran ini mencakup pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi utama tanaman padi, seperti nitrogen dan unsur hara lainnya, serta bagaimana kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari sumber-sumber alami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/WhatsApp-Image-2026-03-14-at-17.18.03.jpeg\" width=\"549\" height=\"309\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka tidak hanya menerima materi, melainkan mengamati langsung perubahan di demplot percontohan. Setiap helai daun menjadi bahan diskusi, setiap serangan hama menjadi pelajaran bersama. Pengetahuan tersebut kemudian diimplementasikan secara langsung dalam praktik pembuatan dan penggunaan pupuk organik, seperti kompos, pupuk organik cair (POC), dan mikroorganisme lokal (MOL), sehingga peserta dapat memahami hubungan antara kebutuhan tanaman, sumber nutrisi, dan teknik pengelolaan tanah yang lebih ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tahun sebelumnya, di dusun yang sama juga telah berjalan SLP Permakultur. Jika SLP Pertanian berfokus pada sawah, SLP Permakultur menggeser perhatian ke ruang yang lebih dekat dengan dapur: pekarangan rumah. Sekitar dua puluh anggota terlibat, didominasi oleh perempuan desa. Mereka memulai pembelajaran dari demplot berukuran 10 x 6 meter, membangun bedengan, menanam sayur-sayuran, dan mendirikan kandang ayam sederhana. Kegiatan itu dirancang terintegrasi\u2014kebun dan ternak berada dalam satu sistem. Limbah dapur dimanfaatkan sebagai pakan ayam, yang kemudian secara alami diolah oleh ayam melalui aktivitas mencakar dan proses pencernaan sehingga menghasilkan kotoran ayam. Proses ini membantu mempercepat penguraian bahan organik. Kotoran ayam yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman. Selain itu, sebagian limbah dapur juga diolah menjadi kompos dan MOL (mikroorganisme lokal), sehingga seluruh sisa bahan organik dapat dimanfaatkan kembali dalam sistem pertanian yang lebih sirkular dan ramah lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kolaborasi dilakukan bersama BUMDes Maccini Baji yang memiliki unit usaha peternakan ayam. Skemanya sederhana dan saling menguatkan: BUMDes memelihara ayam, peserta SL mengelola kebun, dan kompos dari kandang digunakan untuk menyuburkan tanaman. \u201cBUMDes yang pelihara ayamnya, peserta SL yang menanam tanamannya. Komposnya kita pakai untuk (pertumbuhan) sayuran,\u201d kata Alimuddin Dg. Ngunjung, salah satu peserta SL Permakultur. Integrasi itu bukan sekadar efisiensi biaya, melainkan upaya memaksimalkan sumber daya yang sudah ada di desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanaman yang dicoba beragam: sayur-sayuran\u2014kangkung, paria, lombok, tomat, timun, kacang tanah, dan jenis kacang-kacangan lain. Tidak semua berhasil. Beberapa tumbuh subur, sebagian berbuah sedikit. \u201cYang bagus, seperti kangkung dan kacang-kacangan itu bagus. Lombok dan tomat tumbuh, tapi buahnya kurang. Sepertinya kurang cocok dengan tanah dan musimnya,\u201d ujar Alimuddin. Dari kegagalan itulah pembelajaran tumbuh. Peserta mencatat, membandingkan, lalu mengganti jenis tanaman yang lebih sesuai dengan karakter tanah dan musim di Tanakeke. Dari proses pembelajaran tersebut, peserta dan masyarakat mulai memahami pentingnya rotasi tanaman sebagai salah satu cara untuk memulihkan kembali kesuburan dan fungsi tanah perkebunan. Rotasi tanaman membantu menjaga keseimbangan unsur hara di dalam tanah, memutus siklus hama dan penyakit, serta meningkatkan kesehatan tanah secara alami, sehingga lahan dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siklus belajar berlangsung selama dua bulan, dari Agustus hingga Oktober 2025. Di antara pelajaran yang paling membekas adalah pembuatan kompos. Awalnya mereka mencacah bahan organik secara manual menggunakan parang. Kini tersedia mesin pencacah sederhana yang mempercepat proses. Daun kering, sisa sayuran, dan limbah tumbuhan dihancurkan lalu dicampur dengan kotoran sapi untuk menjadi kompos alami. Mereka juga belajar membuat pupuk cair dari sisa makanan yang difermentasi. Proses yang dulu terasa rumit kini menjadi bagian dari rutinitas rumah tangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">SL Permakultur menjadi ruang refleksi atas dampak panjang penggunaan bahan kimia. Alimuddin Dg. Ngunjung menceritakan bahwa di Tanakeke, beberapa tambak yang dahulu mengandalkan bahan kimia sempat menghasilkan panen melimpah. Namun, bertahun-tahun kemudian, banyak yang kehilangan produktivitas. Tanah menjadi asam, air tak lagi mendukung budidaya, dan sebagian tambak terbengkalai. Pengalaman itu menjadi cermin bagi sawah. \u201cSudah tiga sampai empat tahun menurun hasilnya. Kelihatan sekali bedanya,\u201d kata Alimuddin tentang sawah yang terus dipupuk kimia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan pangan di Kepulauan Tanakeke tidak semata-mata berkaitan dengan seberapa banyak pangan laut yang dihasilkan, tetapi juga tentang kualitas dan keberagaman gizi yang dikonsumsi masyarakat. Hasil penelitian Ratnawaty Fadilah, Penasihat Teknis Bidang Sosial Ekonomi Blue Forests, pada 2025, menunjukkan bahwa pola konsumsi masyarakat di Tanakeke masih didominasi oleh nasi sebagai sumber karbohidrat utama dan protein yang sebagian besar berasal dari hasil perikanan. Sementara asupan vitamin, mineral dan serat dari sayur dan buah masih sangat terbatas. Kondisi ini bukan semata-mata karena preferensi konsumsi masyarakat, melainkan lebih dipengaruhi oleh keterbatasan akses terhadap bahan pangan tersebut. Sebagian besar sayuran yang dikonsumsi masyarakat harus didatangkan dari wilayah daratan, terutama dari Kabupaten Takalar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jarak geografis pulau yang terpisah dari daratan serta biaya transportasi yang tidak kecil membuat pasokan sayuran tidak selalu tersedia secara stabil. Pada waktu-waktu tertentu, terutama saat cuaca buruk atau transportasi laut terganggu, ketersediaan sayur dan buah menjadi semakin terbatas. Situasi ini menggambarkan bahwa ketahanan pangan di Pulau Tanakeke tidak hanya ditentukan oleh produksi pangan lokal, tetapi juga oleh aksesibilitas, distribusi, dan keberagaman sumber pangan yang tersedia bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika bedengan mulai bermunculan di halaman rumah, perubahan pelan-pelan terasa. Setelah menyelesaikan siklus belajar, sebagian peserta mempraktikkan ilmunya di pekarangan masing-masing. Kandang ayam kecil berdiri di samping rumah. Kompos dibuat secara mandiri. MOL diracik dari sisa makanan. Kangkung, kacang tanah, dan sayuran lain dipanen secara rutin, meski dalam jumlah terbatas. Hasilnya belum cukup untuk dijual ke luar desa, tetapi sudah mencukupi kebutuhan keluarga dan kadang dibagikan kepada tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini beberapa keluarga tidak lagi membeli sayur setiap hari. Cabai dan tomat tersedia di halaman sendiri. Protein tetap diperoleh dari laut, sementara serat dan vitamin tumbuh dari tanah yang mereka kelola sendiri. Pengeluaran rumah tangga berkurang, sekaligus variasi gizi meningkat. Di pulau kecil yang selama ini bergantung pada pasokan dari luar, pekarangan menjadi sumber kemandirian yang nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatan yang dibangun di Tanakeke bukanlah proyek besar dengan teknologi canggih. Ia tumbuh dari pondok sederhana di tepi sawah dan dari bedengan kecil di halaman rumah. Ia bertumpu pada pengetahuan lokal yang dipadukan dengan praktik budidaya berkelanjutan. Ia memberi ruang bagi perempuan desa untuk menjadi motor perubahan di tingkat rumah tangga. Di tengah hujan dan angin laut yang kerap datang tiba-tiba, mereka belajar membaca tanah, merawat tanaman, dan menyusun ulang relasi dengan alam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanakeke mungkin hanya gugusan pulau kecil di pesisir Sulawesi Selatan. Namun, dari pekarangannya yang sederhana, muncul pelajaran penting tentang ketahanan pangan, kesehatan tanah, dan keberlanjutan hidup. Di sana, perubahan tidak datang dengan gegap gempita. Ia tumbuh pelan, dari kompos yang diaduk bersama, dari kandang ayam yang dibersihkan setiap bulan, dari padi yang dipantau pertumbuhannya musim demi musim. Dari pekarangan sendiri, harapan itu perlahan menemukan akarnya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Langit tampak gelap, pertanda hujan sedikit lagi akan turun. Angin laut mulai berhembus, menyapu persawahan di Dusun Dande-Dandere, Desa Maccini Baji, membuat batang padi muda bergoyang tak menentu. Di sebuah pondok sederhana di tepi sawah, sekelompok orang, mayoritas perempuan, tampak duduk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":9051,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-9049","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-dari-lapangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9049","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9049"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9049\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9056,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9049\/revisions\/9056"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9051"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9049"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9049"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9049"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}