{"id":9060,"date":"2026-07-07T10:26:45","date_gmt":"2026-07-07T02:26:45","guid":{"rendered":"http:\/\/konsep-otomatis\/kabar-dari-kami\/"},"modified":"2026-07-10T11:46:38","modified_gmt":"2026-07-10T03:46:38","slug":"perempuan-bajo-laut-yang-berubah-dan-harapan-dari-kkd-selat-buton","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/perempuan-bajo-laut-yang-berubah-dan-harapan-dari-kkd-selat-buton\/ruang-berita\/cerita-dari-lapangan\/","title":{"rendered":"Perempuan Bajo, Laut yang Berubah, dan Harapan dari KKD Selat Buton"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/WhatsApp-Image-2026-04-14-at-21.11.39.jpeg\" \/><br \/>\nGambar 1. Nurila bersiap untuk melaut dengan perahu<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terik matahari dan aroma laut berpadu menyambut langkah kaki di Pulau Towea, sebuah wilayah administratif di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Pulau yang dikelilingi lautan luas ini tumbuh bersama berbagai kisah hidup yang melingkupinya. Sebagaimana daerah pesisir pada umumnya, masyarakat Suku Bajo telah hidup turun-temurun di bibir pantai Pulau Towea.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nurila, yang akrab disapa Ila Bajo, merupakan seorang ibu satu anak yang kesehariannya lebih banyak dihabiskan di hamparan air asin. Sebelum melaut, ia memanfaatkan sela waktu untuk beristirahat atau mempersiapkan kebutuhan kerjanya. Aktivitas Ila Bajo sangat bergantung pada pasang surut air. \u201cJam kerja\u201d-nya mengikuti ritme laut. Saat air tengah surut atau yang oleh masyarakat setempat disebut meti, itulah waktu baginya bersama para pencari rezeki laut lainnya untuk mulai beraktivitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita pergi menyuluh (melaut) menyesuaikan dengan keadaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">meti (surut) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">besar. Maret lebih lama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">meti<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> malam daripada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">meti<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> siang. Nanti bulan 10 atau bulan 11 sampai bulan 2 baru <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">meti<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> besar siang,\u201d papar Nurila pada awal percakapan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan siklus meti yang kini lebih sering terjadi di malam hari memaksa Nurila dan rekan-rekannya bekerja saat sebagian besar orang beristirahat. Mereka melaut berjam-jam dalam gelap, berbekal peralatan sederhana dan ketahanan fisik yang terbentuk dari pengalaman panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau menyuluh malam, kadang jam 3 sore berangkat ke laut, pulang jam 10 paling cepat,\u00a0 kadang juga jam 12 atau jam 1 malam.\u00a0 Kalau pergi jam 4, jam 2 pulang. Kadang juga kita turun jam 9 atau jam 10 malam, tiba di rumah jam 4 atau setengah 5 subuh. Pernah satu kali pas sandar sudah kelihatan matahari,\u201d dengan penuh semangat Ila Bajo membeberkan rutinitas hariannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehidupan Nurila dan kawan-kawan seolah menjadi pengecualian bagi lirik lagu Rhoma Irama tentang begadang. Umumnya, tubuh yang sering terjaga hingga larut dan terpapar angin malam rentan terhadap berbagai penyakit, salah satunya kurang darah atau anemia. Namun, Ila Bajo dan rekan-rekannya tak sekadar menantang angin malam; mereka bahkan sanggup berendam berjam-jam di dalam air laut. Seiring waktu, tubuh mereka seakan telah membentuk pertahanan alami sendiri. Guna menghalau kantuk, kopi hitam pekat jadi teman setia di tengah gulitanya malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daerah jelajah Ila Bajo dalam mencari rezeki meliputi sekeliling Pulau Tobea (Towea), Pulau Renda, hingga ke sekitar perairan Latawe. Sosoknya yang tegap, berisi, serta potongan rambut pendek membuatnya tampak maskulin. Kelihaiannya di laut tak perlu diragukan lagi. Sebagai orang yang menggantungkan hidup pada aktivitas laut, ibu satu anak ini mewarisi berbagai kemampuan mencari hasil laut, mulai dari menangkap ikan, menyuluh, menyelam, hingga mencari ulat cacing di hamparan mangrove.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada spesies tertentu yang menjadi target buruan utama. Apa pun yang terlintas di depan mata berpotensi menjadi sumber pundi-pundi rupiah. \u201cTangkapan itu tergantung apa yang ada di depan mata. Kalau ada teripang, kita ambil teripang. Kepiting, kerang, ikan, kita libas semua,\u201d ungkapnya sembari berkelakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kondisi laut yang ia kenal sejak kecil telah berubah drastis. Praktik destructive fishing seperti bom ikan terus merusak ekosistem, mengurangi hasil tangkapan, dan memperpanjang jarak melaut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ekspresi Ila Bajo berubah saat menceritakan perbedaan kondisi laut dulu dan sekarang. Ia bercerita tentang ancaman bom ikan yang kerap meluluhlantakkan biota laut dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Ikan dan berbagai hasil laut yang dahulu melimpah kini semakin sulit ditemukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSiang malam mereka beraksi (pakai) bom. Mau ditegur, tapi mereka ada orangnya (backingannya). Sampai sekarang juga masih begitu. Kasihan kami di sini yang tidak dapat hasil,\u201d ungkapnya getir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ila Bajo, yang telah puluhan tahun melaut, merasakan perubahan signifikan pada hasil tangkapan. Dahulu, ia cukup mencari ikan di perairan dekat Pulau Towea, namun kini ia harus berlayar jauh lebih ke tengah. Dengan mimik sendu, ia mengenang masa kejayaan orang tuanya yang memiliki\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bodi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0(perahu motor) dan pukat ikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu hasil laut melimpah saat bapakku masih memukat. Kadang dapat setengah\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bodi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Karena dulu belum ada penampung, kita belah ikan dari malam sampai pagi saking banyaknya. Tapi sekarang, ya Allah, susah sekali cari ikan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah tekanan ekonomi dan kerusakan ekosistem, Nurila juga menghadapi keterbatasan akses terhadap bantuan pemerintah. Banyak nelayan perempuan lain yang harus melaut karena terdesak tuntutan ekonomi, atau para perempuan kepala rumah tangga yang mengambil alih peran pencari nafkah belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Dari penuturan Ila Bajo, terindikasi bahwa nelayan perempuan masih belum diprioritaskan dalam program bantuan pemerintah, bahkan ketika kartu KUSUKA (Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan) sudah di tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPadahal saya punya kartu KUSUKA. Yang lain dapat, mungkin karena saya perempuan sehingga tidak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dikasih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masuk (sebagai penerima). Kayaknya faktor utamanya memang karena saya perempuan,\u201d ungkapnya dengan raut wajah masygul, mencoba mencari tahu mengapa bantuan tak kunjung menyapa nelayan perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemasygulan Nurila terkait bantuan pemerintah beririsan langsung dengan rusaknya ekosistem laut. Baginya, bantuan apa pun yang diberikan pemerintah tidak akan maksimal jika kondisi lautnya sudah hancur. Tak banyak harapan yang ia titipkan; ia hanya ingin hasil tangkapan bisa melimpah seperti dulu lagi. Sebuah pesan sederhana, namun menuntut solusi yang kompleks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSekarang karangnya banyak yang rusak, hasilnya juga kurang. Jadi, saya berharap konservasi secepatnya dilaksanakan supaya hasil laut kembali melimpah ruah seperti dulu. Percuma saja kalau ada bantuan pukat atau semacamnya, tapi laut dan ekosistemnya rusak; hasilnya pasti akan tetap sedikit,\u201d paparnya dengan nada sendu.<\/span><\/p>\n<p><b>Dari Pengalaman Nelayan ke Arah Kebijakan Konservasi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang dialami Nurila bukanlah kasus tunggal, melainkan gambaran nyata keterkaitan antara kondisi ekosistem dan keberlanjutan penghidupan masyarakat pesisir. Situasi ini juga menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam mendorong upaya konservasi melalui penetapan Kawasan Konservasi Daerah (KKD) Selat Buton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah Kabupaten Muna telah melakukan segelintir upaya untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Laode Ramadhan selaku Kepala Balai Benih Ikan Dinas Perikanan Kabupaten Muna. Saat ditemui di rumahnya, Laode Ramadhan menjelaskan tentang regulasi yang mencadangkan wilayah pesisir dan lautan di Selat Buton, Kabupaten Muna sebagai Kawasan Konservasi Daerah (KKD).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laode Ramadhan selaku Tim Teknis Pencadangan KKD Sulawesi Tenggara menjabarkan tentang perubahan tersebut, \u201cDulu KKPD, sekarang KKD. Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 23, pengelolaannya berada di kabupaten. 0-4 mil adalah kepunyaan daerah. Nah, setelah Undang-Undang Nomor 23 lahir, kewenangan pengelolaan wilayah laut itu bergeser. 0-12 mil itu masuk ke provinsi. KKPD Muna berubah jadi KKD Selat Buton.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan regulasi memang sempat memperlambat proses, namun inisiatif konservasi tetap berlanjut melalui pendekatan partisipatif yang difasilitasi oleh Blue Forests dengan dukungan COAST Facility Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saat sosialisasi dan FGD itu masyarakat dilibatkan. Kita mengambil keterwakilan dari seluruh kawasan. Di daerah pulau sana, ada Towea yang wakili. Kemudian di daerah sini, Napabalano dengan Lohia. Diseberang diwakili oleh Wakorumba Selatan dan Pasikolaga. Dalam FGD masyarakat memberikan masukan termasuk memberikan koreksi terhadap rancangan kawasan konservasi. Katakanlah, misalnya kita sudah menjelaskan bahwa di daerah Bapak Ibu akan dijadikan kawasan konservasi, apakah Bapak Ibu setuju? Ketika mereka tidak setuju, apa tawarannya,\u201d pungkas Laode Ramadhan, menggambarkan krusialnya suara masyarakat lokal dalam mengawal pencadangan KKD di Sulawesi Tenggara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan panjang penetapan KKD Selat Buton ini membuktikan bahwa perlindungan laut bukan sekadar urusan regulasi dan birokrasi, melainkan wujud sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya, dan masyarakat. Dengan tuntasnya proses pencadangan ini nantinya, Selat Buton akan menjadi benteng ekologis yang tangguh bagi Sulawesi Tenggara umumnya dan Kabupaten Muna pada khususnya. Penetapan KKD Selat Buton menjadi harapan bagi terjaganya ekosistem dan jaminan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat di pesisir Muna.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/DSCF8686-scaled.jpg\" \/><em>Gambar 2. Nurila <span style=\"font-weight: 400;\">memaparkan hasil diskusi kelompok dalam agenda Pemetaan Partisipatif KKD Selat Buton\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<h6><b>Nurila: Dari Nelayan Menjadi Suara Konservasi<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keterlibatan Nurila dalam proses ini bermula dari sosialisasi yang ia ikuti mengenai KKD. Dari sana, ia mulai memahami hubungan antara kesehatan ekosistem dan keberlanjutan hasil tangkapan. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAwalnya saya bertemu dengan Blue Forests saat mereka datang untuk sosialisasi di Desa Moasi pada bulan Januari. Mereka memberikan pemahaman tentang konservasi kawasan dan ekosistem laut. Sekarang saya jadi tahu banyak tentang dampak kawasan konservasi bagi laut kita. Pokoknya, kalau dulu pemahaman saya seperti anak TK, sekarang sudah naik kelas jadi anak SD atau SMP.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemahaman tersebut mendorongnya untuk aktif terlibat dalam forum konsultasi publik KKD Selat Buton. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaat kegiatan, saya memberi masukan dan menjelaskan tentang ekosistem laut, karena saya sangat paham kondisi pesisir Pulau Towea ini. Saya memberi masukan tentang padang lamun serta karang-karang yang bagus untuk perkembangbiakan teripang, ikan, kepiting, hingga kerang-kerangan. Saya aktif bersuara menceritakan kondisi pesisir dan bahaya penggunaan bom ikan.\u201d<\/span><\/p>\n<h6><b>Menjembatani Pengalaman dan Kebijakan<br \/>\n<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Nurila menunjukkan bahwa konservasi bukan sekadar agenda pemerintah, tetapi kebutuhan nyata masyarakat pesisir. Pengalaman sehari-hari nelayan seperti dirinya menjadi bukti langsung bahwa kerusakan ekosistem berdampak pada penghidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, sebagaimana dijelaskan oleh Laode Ramadhan, pendekatan partisipatif dalam pencadangan KKD Selat Buton membuka ruang bagi pengalaman tersebut untuk masuk ke dalam proses kebijakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, KKD Selat Buton bukan hanya instrumen perlindungan ekosistem, tetapi juga jembatan antara pengetahuan lokal dan kebijakan formal. Harapannya, upaya ini dapat memulihkan ekosistem laut sekaligus memastikan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat pesisir seperti Nurila.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gambar 1. Nurila bersiap untuk melaut dengan perahu Terik matahari dan aroma laut berpadu menyambut langkah kaki di Pulau Towea, sebuah wilayah administratif di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Pulau yang dikelilingi lautan luas ini tumbuh bersama berbagai kisah hidup yang melingkupinya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":9061,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-9060","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-dari-lapangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9060","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9060"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9060\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9076,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9060\/revisions\/9076"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9061"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9060"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9060"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9060"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}