{"id":9756,"date":"2026-10-16T10:12:43","date_gmt":"2026-10-16T02:12:43","guid":{"rendered":"http:\/\/konsep-otomatis\/kabar-dari-kami\/"},"modified":"2026-10-16T17:11:05","modified_gmt":"2026-10-16T09:11:05","slug":"dari-pekarangan-kecil-membangun-harapan-kemandirian-pangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/dari-pekarangan-kecil-membangun-harapan-kemandirian-pangan\/ruang-berita\/cerita-dari-lapangan\/","title":{"rendered":"Dari Pekarangan Kecil, Membangun Harapan Kemandirian Pangan"},"content":{"rendered":"<p>Musim kemarau panjang bukan sekadar soal terik matahari bagi masyarakat pesisir. Di tengah suhu yang menyengat, sumber-sumber air bersih mulai menyusut. Sumur yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari perlahan mengering, sehingga memaksa warga mencari cara lain untuk mendapatkan air. Fenomena El Nino yang memperparah kekeringan membuat situasi kian sulit. Bagi masyarakat pesisir, tantangannya bukan hanya bagaimana memastikan ketersediaan air, tetapi juga menjaga agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi di tengah sumber daya yang semakin terbatas.<\/p>\n<p>Namun, di tengah kemarau yang menguji ketahanan hidup masyarakat pesisir, pemandangan berbeda tersaji di pekarangan sebuah rumah di Desa Bonto Manai, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Di atas bedengan-bedengan sederhana, beragam jenis sayuran tumbuh menghijau. menghadirkan kesegaran di tengah cuaca yang terik. Kebun kecil itu dirawat oleh Hj. Kurnia, seorang ibu rumah tangga yang menjadikan pekarangannya lebih dari sekadar tempat bercocok tanam. Baginya, kebun tersebut adalah ruang belajar, sumber pangan keluarga, sekaligus tempat menemukan ketenangan di tengah rutinitas sehari-hari.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC03930-scaled.jpg\" width=\"619\" height=\"413\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik kebun kecil yang menghijau itu, Hj. Kurnia memikul tanggung jawab besar sebagai seorang ibu tunggal. Sejak suaminya meninggal dunia dua tahun lalu, ia harus membesarkan ketiga anaknya sembari memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi. Dalam satu rumah, ia tinggal bersama sang ibu, ketiga anaknya, dan seorang kakak laki-laki yang memiliki disabilitas pendengaran dan komunikasi verbal. Di tengah tanggung jawab merawat keluarga, urusan dapur menjadi salah satu hal yang tidak bisa ditawar. Setiap hari, ia harus memastikan ada pangan yang cukup untuk seluruh anggota keluarga. Bagi Hj. Kurnia, menjaga ketahanan pangan bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari perjuangan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><b>Belajar Menanam di Tengah Keterbatasan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Desa Bonto Manai, upaya membangun kemandirian pangan mulai tumbuh dari pekarangan rumah. Sejumlah perempuan, terutama ibu rumah tangga, bergabung dalam Sekolah Lapang Permakultur, sebuah ruang belajar bersama yang mengajak masyarakat mengenali dan memanfaatkan potensi sumber daya di sekitar mereka.\u00a0 Melalui pendekatan ini, para peserta belajar mengolah pekarangan menjadi kebun produktif dengan memanfaatkan sumber daya lokal. tidak sekadar menanam sayuran, sekolah lapang ini juga mendorong perempuan pesisir membangun sistem pangan yang lebih mandiri, tangguh dan berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui pendekatan permakultur, para peserta Sekolah Lapang belajar bahwa pekarangan pekarangan yang sempit sekalipun menyimpan potensi untuk menjadi sumber pangan keluarga. Mereka tidak sekadar diajak menanam sayuran, tetapi juga memahami cara merawat kesuburan tanah, mengolah sisa bahan organik dari dapur menjadi sumber nutrisi tanaman, hingga menggunakan air secara lebih hemat. Teknik bercocok tanam pun disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat, terutama di tengah keterbatasan air saat musim kemarau. Dari proses belajar ini, pekarangan rumah perlahan menjadi ruang untuk mempraktikkan cara bertani yang lebih adaptif, hemat sumber daya, dan berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hj. Kurnia menjadi salah satu warga yang memperoleh manfaat dari proses berbagi pengetahuan tersebut. Meski tidak mengikuti Sekolah Lapang Permakultur secara langsung, ia mulai belajar berkebun melalui pendampingan salah seorang peserta sekolah lapang. Dari proses belajar bersama ini, Hj. Kurnia perlahan mengembangkan kebun kecil di pekarangan rumahnya. Mulai dari menyiapkan lahan, memilih tanaman, hingga mempelajari cara merawatnya, ia banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari peserta sekolah lapang yang mendampinginya. Pengetahuan yang diperolehnya perlahan mulai ia praktikkan di pekarangan rumah. Meski belum lama menekuni kegiatan berkebun, semangatnya untuk belajar tidak surut. Ia terus mencoba berbagai cara merawat tanaman, menyesuaikan teknik budidaya dengan kondisi lingkungan, dan menjaga agar kebun kecilnya tetap menghijau. Baginya, keterbatasan pengalaman bukan penghalang untuk terus belajar dan mencoba hal-hal baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menjaga kebun tetap menghijau bukan perkara mudah bagi Hj. Kurnia. Ketersediaan air menjadi tantangan terbesarnya. Kemarau panjang membuat sumur yang selama ini menjadi andalan keluarga ikut mengering.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kondisi serba terbatas itu, setiap tetes air menjadi berharga. Hj. Kurnia harus cermat mengatur penggunaannya, antara memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan menjaga tanaman di pekarangannya agar tetap tumbuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi sebagian orang, keterbatasan air mungkin cukup menjadi alasan untuk berhenti berkebun, setidaknya hingga musim hujan tiba. Namun, Ibu Hj. Kurnia tidak ingin menyerah pada keadaan. Alih-alih membiarkan tanamannya mengering, ia memilih mencari cara agar kebun di pekarangannya tetap tumbuh, meski harus berhadapan dengan keterbatasan air setiap hari..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bersama anak-anak dan kakak laki-lakinya, Hj. Kurnia mulai menyulap pekarangan rumahnya menjadi kebun sayuran. Langkah sederhana. Ia memanfaatkan paranet bekas untuk melindungi tanaman dari sengatan matahari. tidak berhenti di situ, ia juga membenahi bedengan-bedengan kecil tempat sayuran tumbuh. Bentuknya diperbaiki agar air penyiraman tidak mudah terbuang dan pupuk kandang dapat dimanfaatkan lebih optimal. Di tengah keterbatasan sumber daya, Hj. Kurnia mengandalkan apa yang tersedia di sekitarnya untuk menjaga kebunnya tetap produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kayu-kayu bekas dimanfaatkan sebagai pembatas bedengan untuk menahan air agar tidak mudah mengalir keluar dari area tanam. Cara sederhana ini membantu menjaga kelembaban tanah lebih lama, sekaligus memberi kesempatan bagi air untuk meresap ke dalam tanah dan dimanfaatkan oleh akar tanaman. Di tengah kemarau panjang, langkah kecil tersebut menjadi salah satu siasat Hj. Kurnia untuk menghemat penggunaan air tanpa mengabaikan kebutuhan tanaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan antusias, Hj. Kurnia bercerita tentang caranya menata bedengan agar penggunaan air dan pupuk menjadi lebih efisien.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ku kasi kayu-kayu supaya tidak merembes airnya kalau ku siram ki dan bisa ku tambai terus pupuk kandang. Kalau begini toh, kalau disiram ki tidak lari airnya baru sedikit ji na pake kompos, ka disitu-situji sedikit dikasikangi,\u201d tuturnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Hj. Kurnia, manfaat kebun itu rupanya tidak berhenti pada urusan pangan. Ada ketenangan yang ia temukan di antara bedengan dan tanaman sayurannya. \u201cPokoknya setiap hari ka duduk liat kebunku, ka na kasi hilangi stresku\u201d, katanya.<\/span><\/p>\n<p><b>Dari Pekarangan Rumah Menuju Kemandirian Pangan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perubahan di pekarangan rumah Hj. Kurnia mulai terlihat dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pada akhir Juli, ia menerima dukungan berupa bibit tanaman, waring, dan paranet sebagai bekal awal mengembangkan kebun pekarangannya. Bantuan tersebut menjadi titik mula bagi Hj. Kurnia untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dari Sekolah Lapang Permakultur, mengubah pekarangan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal menjadi ruang tanam yang lebih produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">tidak perlu menunggu lama untuk melihat hasil jerih payahnya. Pada pertengahan Agustus, hanya beberapa pekan setelah mulai mengelola kebun, Hj. Kurnia sudah bisa memetik hasil panen pertamanya. Sayuran yang selama ini ia rawat dengan penuh ketelatenan akhirnya memberikan hasil, menjadi bukti bahwa pekarangan sederhana pun dapat menjadi sumber pangan bagi keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil panen itu mungkin tidak seberapa jika dilihat dari jumlahnya. Namun bagi keluarga Hj. Kurnia, manfaatnya terasa nyata. Sayuran yang sebelumnya harus dibeli di pasar atau dari pedagang keliling, kini dapat dipetik langsung dari pekarangan rumah. Sejak kebunnya mulai menghasilkan, ia mengaku tidak lagi perlu membeli sayuran hijau untuk kebutuhan konsumsi harian keluarganya. Dari bedengan-bedengan kecil itu, Hj. Kurnia perlahan membangun kemandirian pangan keluarganya, sekaligus mengurangi pengeluaran dapur.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC03865-scaled.jpg\" width=\"663\" height=\"442\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman Hj. Kurnia menunjukkan bahwa membangun ketahanan pangan rumah tangga tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Dari pekarangan sederhana, ia membuktikan bahwa pengetahuan yang tepat, kemampuan memanfaatkan sumber daya yang tersedia, serta kemauan untuk terus belajar, dapat membawa perubahan nyata. Bedengan-bedengan kecil yang semula hanya menjadi tempat menanam sayuran, kini turut menjadi sumber pangan yang membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Hj. Kurnia juga memperlihatkan bahwa proses belajar tidak berhenti pada pengetahuan yang diperoleh di ruang pelatihan. Melalui Sekolah Lapang Permakultur, para peserta didorong untuk mencoba, mengamati, dan menemukan cara yang paling sesuai dengan kondisi lingkungan mereka. Tidak sekadar mempelajari teknik bercocok tanam, mereka juga diberi ruang untuk bereksperimen dan mengembangkan solusi atas persoalan yang dihadapi sehari-hari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah Hj. Kurnia memanfaatkan kayu bekas sebagai pembatas bedengan menjadi salah satu contohnya. Di tengah keterbatasan air, ia menemukan cara sederhana untuk menjaga agar air siraman tidak mudah terbuang. Cara ini mungkin tampak sepele, tetapi menunjukkan bagaimana pengetahuan dari Sekolah Lapang dapat dipadukan dengan kreativitas dan pemahaman lokal. Dari bahan-bahan yang tersedia di sekitarnya, Hj. Kurnia mampu mengembangkan cara berkebun yang lebih hemat sumber daya dan sesuai dengan kondisi pekarangannya.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketangguhan Perempuan Pesisir, Tumbuh Bersama Setiap Tanaman<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Hj. Kurnia memperlihatkan bagaimana perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan keluarga. Di tengah berbagai tekanan lingkungan dan perubahan iklim yang dihadapi masyarakat pesisir, mereka tidak hanya berperan dalam memastikan kebutuhan pangan sehari-hari terpenuhi, tetapi juga mampu menemukan cara untuk beradaptasi.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/blue-forests.org\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/DSC03903-scaled.jpg\" width=\"627\" height=\"418\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam situasi yang tidak mudah, Hj. Kurnia tidak hanya berupaya menyediakan makanan bagi keluarganya. Ia juga membangun keterampilan baru, belajar memanfaatkan sumber daya yang terbatas, dan mengajak anggota keluarga terlibat dalam merawat kebun. Dari pekarangan kecil itu, tumbuh bukan hanya sayuran, tetapi juga pengetahuan, kerja sama, dan kemampuan keluarga untuk menghadapi tantangan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi perempuan seperti Hj. Kurnia, Sekolah Lapang Permakultur bukan sekadar tempat belajar bercocok tanam. Kegiatan ini membuka ruang bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, dan menentukan sendiri cara terbaik mengelola sumber pangan keluarga. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, melainkan menjadi bekal untuk mencoba hal-hal baru, mengambil keputusan, dan menghadapi tantangan di pekarangan rumah masing-masing.<\/p>\n<p><strong>Ditulis: Marini Binti Muliady<\/strong><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Musim kemarau panjang bukan sekadar soal terik matahari bagi masyarakat pesisir. Di tengah suhu yang menyengat, sumber-sumber air bersih mulai menyusut. Sumur yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan sehari-hari perlahan mengering, sehingga memaksa warga mencari cara lain untuk mendapatkan air. Fenomena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":9764,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","_seopress_robots_follow":"","_seopress_robots_imageindex":"","_seopress_robots_snippet":"","_seopress_robots_primary_cat":"","_seopress_robots_breadcrumbs":"","_seopress_robots_freeze_modified_date":"","_seopress_robots_custom_modified_date":"","_seopress_robots_canonical":"","_seopress_social_fb_title":"","_seopress_social_fb_desc":"","_seopress_social_fb_img":"","_seopress_social_fb_img_attachment_id":0,"_seopress_social_fb_img_width":0,"_seopress_social_fb_img_height":0,"_seopress_social_twitter_title":"","_seopress_social_twitter_desc":"","_seopress_social_twitter_img":"","_seopress_social_twitter_img_attachment_id":0,"_seopress_social_twitter_img_width":0,"_seopress_social_twitter_img_height":0,"_seopress_redirections_value":"","_seopress_redirections_enabled":"","_seopress_redirections_enabled_regex":"","_seopress_redirections_logged_status":"","_seopress_redirections_param":"","_seopress_redirections_type":0,"_seopress_analysis_target_kw":"","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"default","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1167],"tags":[],"class_list":["post-9756","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-dari-lapangan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9756","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9756"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9756\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9770,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9756\/revisions\/9770"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9764"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9756"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9756"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/blue-forests.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9756"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}