Merayakan Hari Kemerdekaan di Pulau Tanakeke

Home > All News > Merayakan Hari Kemerdekaan di Pulau Tanakeke

Ada hal yang unik saat merayakan hari kemerdekaan Indonesia di Pulau Tanakeke. Banyak permainan tradisional yang menguji kemampuan fisik peserta dan pengetahuan mereka tentang lingkungan di desa. Anak-anak, wanita, remaja dan orang tua berkumpul untuk memaknai kemerdekaan dengan caranya sendiri. Permainan tradisional yang tidak biasa ini dimainkan pada 16 Agustus 2016 namun Blue Forests memadukannya dengan pendidikan Lingkungan. Kami menamakannya dengan Lomba Balap Karung Ekosistem Perdesaan dan Lomba Balap Kelereng Kehidupan Laut 

Lomba Balap Karung Ekosistem Desa membutuhkan banyak energi fisik dan pengetahuan dasar tentang lingkungan

Memainkan permainan ini tidak semudah yang terlihat. Dalam lomba balap karung ekosistem desa, mereka harus memakai karung, lari beberapa meter, mengambil gambar biota dan lari kembali sampai garis finish. Jadi, bukan seseorang tercepat yang bisa memenangkannya. Sama halnya dengan balap kelereng kehidupan laut. Perbedaannya peserta hanya berjalan sampai garis finish tetapi harus mengapit sendok dengan kaleng di atasnya

Beberapa anak perempuan bermain Lomba Balap Karung Kehidupan Laut

Perlombaan ini diikuti oleh 30 masyarakat di Bungung Lompoa, Desa Balangdatu, Pulau Tanakeke. Tema dari perayaan ini adalah menjaga lingkungan sebik – baiknya untuk kehidupan yang mandiri

 * * *

Sehari sebelum hari kemerdekaan, Blue Forests meneliti kondisi rumput laut di Pulau Karang Tanakeke. Aktivitas ini rutin dilakukan setiap 6 bulan sekali. Tujuannya memastikan kondisi rumput laut tidak berbahaya dan rusak. Sehingga bisa melihat ikan yang tinggal di dasar rumput laut, mangrove dan terumbu karang di sepanjang pulau  

Memantau rumput laut dengan menggunakan kuadran.

Bagi masyarakat Tanakeke, kemerdekaan bermakna mereka mempunyai akses untuk mendapatkan makanan dari pertanian di area tertentu di sekitar mereka, ikan dan kehidupan laut yang bisa menghidupi mereka. 

Sejak tiga tahun yang lalu, mereka mulai memperbolehkan menanam padi di sawah yang sebelumnya ditinggal. Diperkirakan 100 ha sawah dikelola oleh masyarakat. Mereka berharap bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Tanakeke, jadi mereka tidak hanya bergantung dari persediaan yang ada di pulau.

Blue Forests dan Masyarakat Tanakeke berkumpul setelah permainan selesai 

***

Penulis: Yusran Nurdin Massa / Rieski Kurniasari R.

Foto: Laila Adila

Diterjemahkan oleh: Alisya Putri (Universitas Pancasila)