Resilience thinking digunakan dalam mendorong kehidupan di masyarakat. Blue Forests menyadari bahwa livelihood harus didasarkan pada potensi, daya dukung dan kemampuan mengadaptasi perubahan. Juga memastikan bahwa keseimbangan, kesetaraan dan keadilan bisa terpenuhi. Blue Forests meyakini bahwa dengan beragamnya penghidupan dan pilihan mata pencaharian di komunitas bisa mendorong sistem lebih resilience.
Prinsip ini yang menggerakkan pengembangan livelihood di tingkat tapak didekati melalui riset aksi partisipatif. Bentuknya berupa metode belajar melalui Sekolah Lapang Pesisir.
Blue Forests menjalankan program Sekolah Lapang Pesisir dan Sekolah Bisnis Peisisir, untuk mengembangkan mata pencaharian yang berkelanjutan, Sekolah Lapang Pesisir didasari oleh filosofi Sekolah Lapang Tani yang diarahkan untuk mengembangkan pola pikir yang kritis dalam praktik mata pencaharian saat ini. Sampai saat ini terdapat 12 jenis Sekolah Lapang Pesisir yang telah berjalan dengan peningkatan pengelolaan komoditas pesisir yakni:
- Sekolah Lapang Petambak
- Beras Toleran Air Asin
- Sayuran Bio Intensif
- Rumput Laut Carageenan
- Bambu pesisir.
- Peningkatan pembuatan arang
- Silviculture mangrove
- Rehabilitasi mangrove
- Hasil hutan mangrove non-kayu
- Penggemukan kepiting bakau
- Produksi kompos pesisir
- Sorghum
Sekolah Bisnis Pesisir adalah program baru dari Blue Forests; dimana alumni Sekolah Lapang Pesisir mengembangkan keterampilan bisnis dan kewirausahaan mereka melalui serangkaian kegiatan, yaitu; Analisis Pasar, Jaminan Kualitas, Pengembangan Rencana Bisnis, Pengembangan Produk, Pengemasan, Pemasaran, Pembukuan dan Akses Terhadap Dukungan Eksternal.
Blue Forests bekerja sama dengan Charles Darwin University untuk memantau dan mengevaluasi dampak dari program mata pencaharian ini menggunakan kerangka kerja mata Pencaharian Berkelanjutan, Matriks Kesejahteraan dan indeks dari Women’s Empowerment in Agriculture Index (WEAI).
Riset Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan