Kemunculan pesut di Kuala Mandah, Desa Bolak Raya, Kawasan Konservasi Perairan Daerah Indragiri Hilir (30/07/2026)
Di tengah hamparan hutan mangrove dan muara sungai Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, masih hidup salah satu mamalia laut paling langka di Indonesia: pesut atau Irrawaddy dolphin (Orcaella brevirostris). Satwa yang berstatus terancam punah (IUCN, 2021) selama ini dikenal menghuni perairan pesisir dan estuari di Asia Tenggara atau di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Namun, informasi mengenai lokasi kemunculan dan habitat pentingnya di Indragiri Hilir masih sangat terbatas. Padahal, keberadaan pesut menjadi indikator penting bahwa ekosistem pesisir masih berfungsi dengan baik.
Pada 2024, BRIN, Blue Forests, DKP Riau, Universitas Riau, dan KKP melaksanakan penelitian kolaboratif untuk mengatasi keterbatasan data tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan yang tidak biasa, yaitu memadukan metode ilmiah dengan pengetahuan masyarakat lokal (Mujiyanto et al., 2024). Tim peneliti melakukan pengamatan langsung di lapangan sekaligus menggali informasi dari nelayan yang sehari-hari beraktivitas di kawasan pesisir Indragiri Hilir. Hasilnya menunjukkan bahwa kolaborasi antara sains dan pengalaman masyarakat mampu menghasilkan informasi yang lebih kaya untuk mendukung upaya konservasi.
Penelitian dilakukan di kawasan konservasi perairan daerah (KKD/marine protected area-MPA) Indragiri Hilir pada Agustus 2024. Tim melakukan survei visual di 31 titik pengamatan yang tersebar di wilayah pesisir dan muara sungai. Selain itu, wawancara dilakukan terhadap 57 responden (mayoritas nelayan) dari sembilan desa pesisir yang memiliki pengalaman panjang beraktivitas di laut dan kawasan estuari.
Dari pengamatan langsung, tim peneliti menemukan tiga lokasi kemunculan pesut yang berada di kawasan muara dan pesisir yang berdampingan dengan ekosistem mangrove. Kemunculan satwa ini paling sering tercatat pada pagi hari dan menjelang sore. Pola waktu tersebut sejalan dengan aktivitas harian pesut yang umumnya memanfaatkan perairan estuari untuk mencari makan dan bergerak mengikuti dinamika pasang surut.
Temuan menarik lainnya berasal dari pemetaan partisipatif yang melibatkan nelayan. Mayoritas responden menyebut bahwa pesut paling sering dijumpai di wilayah muara sungai dan perairan pesisir yang berbatasan langsung dengan hutan mangrove. Kesaksian para nelayan ini ternyata konsisten dengan hasil pengamatan lapangan. Kesamaan informasi dari dua sumber yang berbeda tersebut memperkuat keyakinan bahwa kawasan estuari bermangrove merupakan habitat penting bagi pesut di Indragiri Hilir.
Konsistensi informasi dari masyarakat bukanlah hal yang mengejutkan. Sebagian besar responden merupakan nelayan tradisional yang telah melaut selama lebih dari 15 tahun. Pengalaman panjang mereka membuat para nelayan memiliki pengetahuan ekologis lokal yang sangat berharga, termasuk mengenai lokasi kemunculan satwa, perubahan habitat, hingga pola pergerakan biota di wilayah tangkap mereka.
Area penampakan pesut berdasarkan pengamatan visual

Area penampakan pesut berdasarkan pemetaan partisipatif
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa keberadaan pesut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kawasan di Kecamatan Mandah misalnya, tercatat memiliki indeks kehadiran pesut tertinggi. Wilayah ini memiliki tutupan mangrove yang lebat, kedalaman perairan yang relatif dangkal, dan jarak yang dekat dengan muara sungai. Sebaliknya, lokasi dengan tutupan mangrove yang lebih rendah dan berada lebih jauh dari muara menunjukkan tingkat kemunculan pesut yang lebih rendah.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya ekosistem mangrove bagi kelangsungan hidup pesut. Mangrove Indragiri Hilir seluas 128.001 hektar (Peta Mangrove Nasional, 2023) tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pantai, tetapi juga menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, dan krustasea yang merupakan sumber makanan utama pesut. Dengan kata lain, keberadaan pesut sangat bergantung pada kesehatan ekosistem pesisir secara keseluruhan.
Di sisi lain, berbagai ancaman masih membayangi keberlangsungan spesies ini. Kasus kematian pesut akibat terjerat alat tangkap nelayan di beberapa wilayah Indonesia menunjukkan bahwa interaksi antara aktivitas manusia dan satwa laut masih menjadi persoalan serius. Hilangnya habitat akibat degradasi mangrove dan perubahan kualitas lingkungan juga berpotensi memperburuk kondisi populasi pesut di masa depan.
Melanjutkan pendataan, Menguatkan Pengelolaan KKD Indragiri Hilir
Pada Juli 2026, tim kolaboratif ini melanjutkan kegiatan pendataan biofisik serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat di KKD Indragiri Hilir. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang telah dilakukan pada 2024 untuk memperkuat ketersediaan data sebagai dasar pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif, berbasis bukti, dan sesuai dengan kondisi masyarakat pesisir.
Pendataan biofisik dilakukan melalui pengamatan visual (visual sighting) pada 31 titik yang tersebar di dalam kawasan konservasi. Pengamatan tersebut bertujuan untuk mencatat kondisi habitat perairan, tutupan mangrove, karakteristik lokasi, serta kemunculan satwa yang menjadi target konservasi, khususnya pesut. Sementara itu, pendataan sosial-ekonomi dilaksanakan di 10 desa pesisir yang berada di empat kecamatan, yaitu Mandah, Concong, Kuala Indragiri, dan Tanah Merah.
Pendataan biofisik dan pengamatan visual yang dilakukan di dalam Kawasan Konservasi Indragiri Hilir
Berdasarkan hasil pengamatan visual, Blue Forests bersama DKP Provinsi Riau merekam kemunculan pesut pada tujuh titik pengamatan. Temuan ini memperkuat hasil penelitian pada 2024 yang menunjukkan bahwa kemunculan pesut cenderung dijumpai pada wilayah dengan tutupan mangrove yang masih lebat, kedalaman perairan yang relatif dangkal, berdekatan dengan muara, juga berada di dalam jaringan daerah aliran sungai.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterhubungan antara ekosistem mangrove, muara, sungai, dan perairan pesisir sebagai habitat pesut. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung wilayah pesisir, tetapi juga mendukung produktivitas perairan dengan menyediakan tempat mencari makan, berlindung, dan berkembang bagi berbagai jenis ikan, udang, dan biota lainnya. Keberadaan sumber daya perikanan tersebut mendukung ketersediaan pakan bagi pesut.
Pada aspek sosial-ekonomi, pendataan dilakukan terhadap 93 responden yang sebagian besar merupakan nelayan skala kecil. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya perikanan di dalam KKD Indragiri Hilir masih menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat pesisir. Beberapa komoditas penting yang dimanfaatkan masyarakat antara lain udang nenek (Harpiosquilla raphidea) dan ikan tirusan atau ikan tawar (Otolithoides pama). Kedua jenis perikanan tersebut juga menjadi target konservasi di KKD Indragiri Hilir bersama dengan pesut.
Pendataan sosial-ekonomi di desa pesisir dalam KKD Indragiri Hilir
Meskipun demikian, hasil wawancara juga mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam pemanfaatan sumber daya perikanan di dalam KKD Indragiri Hilir. Tantangan utama yang disampaikan masyarakat adalah masih terjadinya praktik peracunan ikan serta penggunaan alat tangkap yang bersifat merusak. Praktik tersebut berpotensi menurunkan kualitas habitat, mengurangi populasi ikan dan udang, serta mengancam keberlanjutan sumber daya yang selama ini menjadi sumber pendapatan dan pangan masyarakat.
Masyarakat nelayan skala kecil berharap pengelolaan KKD Indragiri Hilir dapat mendorong praktik pemanfaatan sumber daya yang lebih lestari, adil, dan tidak merusak sumber penghidupan masyarakat pesisir. Pengelolaan kawasan juga diharapkan melibatkan masyarakat secara aktif dalam pengawasan, penyusunan aturan, perlindungan habitat, dan pengembangan praktik perikanan yang berkelanjutan.
Aksi Kolaborasi dan Pemanfaatan Pengetahuan Lokal dalam Penguatan Pengelolaan KKD Indragiri Hilir
Aksi kolaboratif antara lembaga penelitian, pemerintah, NGO, dan masyarakat pesisir menjadi langkah penting dalam memperkuat pengelolaan KKD Indragiri Hilir. Upaya ini memberikan satu pembelajaran baik: melalui penggabungan data ilmiah, pengalaman lapangan, dan pengetahuan lokal mampu menghadirkan data pengelolaan yang sangat dibutuhkan. Karena itu, penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengelolaan kawasan konservasi di Indragiri Hilir. Upaya perlindungan pesut tidak cukup hanya mengandalkan data ilmiah atau kebijakan formal semata. Pengetahuan masyarakat pesisir yang telah hidup berdampingan dengan ekosistem mangrove selama puluhan tahun perlu ditempatkan sebagai sumber informasi yang sama pentingnya.
Integrasi antara pengamatan ilmiah dan pengetahuan lokal terbukti mampu mengidentifikasi habitat prioritas secara lebih akurat. Pendekatan ini juga membuka ruang partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan konservasi. Ketika masyarakat merasa dilibatkan, peluang keberhasilan perlindungan satwa dan habitatnya akan semakin besar.
Menjaga pesut berarti menjaga kesehatan ekosistem estuari dan mangrove Indragiri Hilir. Kehadiran mamalia laut ini bukan sekadar penanda kekayaan biodiversitas, tetapi juga cerminan kondisi lingkungan pesisir yang masih mampu menopang kehidupan. Selama pesut masih dapat dijumpai di perairan Indragiri Hilir, masih ada harapan bahwa ekosistem pesisir di kawasan ini tetap bertahan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Ditulis: Wahyudin Opu
