Dari Tambak Menuju Harapan: Kisah Pandega Muda dari Banjar Kemuning

Bagas sedang melakukan pemberian pakan kepiting bakau di tambak

Air laut tiba-tiba masuk lalu merusak pematang yang seharusnya menjadi batas pemisah dengan tambak. Mangrove yang kian berkurang jumlahnya sudah tidak bisa lagi menjadi pelindung. Tambak yang selama ini dijaga sepenuh hati berubah menjadi genangan sia-sia. Bandeng tak bisa dipanen, populasi udang menghilang, dan tambak tenggelam. 

Kondisi ini meruntuhkan harapan dan seolah menghapus jejak kerja keras. Bagi sebagian pandega, ini adalah tanda untuk menyerah. Namun, bagi seorang anak muda bernama Bagas Purnama (26), tambak adalah peluang dan jalan hidup. 

Lahir di Desa Banjar Kemuning, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, pada 6 Maret 2000. Bagas adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sejak kecil, kehidupannya lekat dengan wilayah pesisir. Ia mulai mengenal tambak sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketika pulang dari sekolah, ia ikut mencari kepiting di mangrove dan tambak. Kebiasaan tersebut berlanjut hingga remaja, termasuk ikut ayahnya melaut saat ikan melimpah. 

Desa Banjar Kemuning merupakan salah satu sentra tambak, khususnya ikan bandeng. Namun, di balik potensinya, desa ini menghadapi tantangan besar. Mulai dari perubahan lingkungan hingga banjir rob yang setiap tahun semakin tinggi dan berdampak pada tambak. Di tengah kondisi tersebut, tak banyak anak muda yang memilih bertahan. Namun, Bagas justru memilih jalan yang tak banyak dilirik teman-teman sebayanya.

Perjalanan Bagas Menjadi Pandega

Kecintaannya pada tambak tidak datang tiba-tiba. Sejak kelas 3 SD, Bagas kecil ikut mencari kepiting sepulang sekolah. Ia mengaku lebih senang menghabiskan waktu di tambak. Mulai dari mencari kepiting, memancing, hingga ikut panen ikan.

“Dari kecil memang sudah suka di tambak. Jadi sampai sekarang ya masih senang,” ujarnya.

Ketertarikan tersebut berkembang menjadi pilihan hidup. Saat berusia 19 tahun, Bagas mulai belajar budidaya tambak. Ia belajar dari seorang teman satu desa. Setahun kemudian, ia bertemu dengan Agus, seorang penyewa tambak sekaligus pembudidaya bandeng. Agus menjadi rujukan utamanya dalam memahami teknik budidaya ikan bandeng. 

Dari proses belajar tersebut, Bagas mulai memahami bahwa pengelolaan tambak tidak sekadar rutinitas, melainkan membutuhkan pengetahuan teknis yang cukup. Ia mempelajari tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penebaran benih, hingga perawatan tambak. Sebagai pandega, perannya berada di garis depan operasional tambak. Ia memastikan tanggul tetap kuat, mengatur keluar-masuk air, serta memberi pakan ikan secara berkala. “Tugasnya menjaga supaya tambak tetap aman dan ikan bisa tumbuh dengan baik,” kata Bagas.

Peran ini berbeda dengan pemilik lahan yang menyewakan tambak maupun penyewa yang lebih berfokus pada hasil produksi. Meski demikian, pekerjaan sebagai pandega kerap dipandang sederhana. Bagas tidak menampik anggapan tersebut, namun ia menegaskan bahwa pekerjaannya juga memiliki tantangan tersendiri.

“Ada yang menganggap ini pekerjaan biasa. Tapi sebenarnya butuh ketelatenan. Kita harus paham kondisi air, tanah, sampai perilaku ikan,” ujarnya.

Rutinitas kerjanya mengikuti siklus alam. Saat air pasang, ia bisa datang ke tambak setiap hari. Sementara saat air surut, kunjungannya lebih jarang dan difokuskan pada pemantauan kondisi. Di sela waktu, ia juga mencari kepiting pada malam hari sebagai tambahan aktivitas.

Belajar dari Coastal Field School (CFS)

Sesi CFS mengenai agroekosistem mangrove dan tambak

Perubahan signifikan dalam cara pandang Bagas terjadi ketika ia mengikuti program Coastal Field School (CFS), program yang mengajarkan tentang pemberdayaan masyarakat pesisir mengenai tambak organik, yang diinisiasi oleh Blue Forests, dengan dukungan dari COAST Facility Indonesia. 

Sebelum mengikuti pelatihan, Bagas mengaku masih menggunakan cara-cara tradisional seperti cara menebarkan benih ikan di tambak.  Dalam cara tradisional, proses menebarkan benih ikan bisa dilakukan di pagi hari, siang hari, bahkan sore hari.  Kantong yang berisi benih ikan tidak langsung dilepaskan. Melainkan terlebih dahulu diletakkan di pinggir tambak selama 30 menit. 

Melalui CFS, ia jadi lebih memahami pentingnya menetralkan air antara wadah benih dan tambak, memilih waktu tebar yang tepat, serta menyiapkan kondisi lahan sebelum budidaya dimulai. Pengetahuan ini berdampak langsung pada tingkat keberhasilan budidaya.

“Sekarang lebih paham kalau semua ada hitungannya. Tidak bisa asal,” ujar Bagas.

Ia juga belajar tentang pentingnya kepadatan tebar. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa jumlah benih yang berlebihan dapat berdampak pada pertumbuhan ikan. “Pernah tebar terlalu banyak, akhirnya tambak tidak kuat dan panen harus lebih cepat,” ungkapnya.

Selain aspek teknis, CFS juga membuka wawasan tentang pengelolaan lingkungan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah peran mangrove dalam memperkuat pematang tambak dan mengurangi risiko abrasi. 

Bagas menuturkan bahwa sebelumnya ia hanya mengetahui cara budidaya di tambak tanpa melihat keterkaitannya dengan mangrove. Lalu mangrove yang dahulu mendominasi wilayah pesisir. Perlahan beralih fungsi menjadi tambak. Akibatnya, luas  mangrove semakin berkurang. Sementara banjir rob kian meningkat dari tahun ke tahun hingga memasuki tambak. 

Sejak mengikuti pertemuan CFS, Bagas menjadi paham tentang pentingnya mangrove untuk keberlangsungan tambak ke depannya.

“Dulu tidak tahu fungsi mangrove. Sekarang jadi paham kalau itu penting untuk menjaga tambak,” kata Bagas.

Menjaga Harapan di Tengah Tantangan


Bagas dengan alat tangkap bubu yang digunakan untuk menangkap kepiting bakau

Pemahaman ini menjadi krusial di tengah meningkatnya ancaman banjir rob. Dalam beberapa tahun terakhir, intensitas dan ketinggian rob di Banjar Kemuning terus meningkat, menyebabkan kerusakan pada pematang dan hilangnya sebagian lahan tambak.

“Kalau rob datang, banyak pematang jebol. Air masuk tidak terkendali, tambak bisa rusak,” ujarnya.

Selain itu, perubahan kualitas air yang semakin asam juga membatasi jenis komoditas yang dapat dibudidayakan. Udang vaname yang sebelumnya menjadi salah satu andalan kini sulit dikembangkan. Namun, di CFS, ia belajar juga tentang cara budidaya udang vaname di tengah perubahan kondisi lingkungan. 

Pengalaman yang paling membekas bagi Bagas justru datang dari kegagalannya saat praktik budidaya udang vaname. Ia mengingat prosesnya mulai dari pemilihan dan penebaran bibit. Kemudian pemberian pakan, pengelolaan air, hingga memasuki fase menjelang panen. Namun, hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan. “Waktu panen isinya cuma air. Banyak udang yang mati,” kenangnya.

Ia mengaku sempat merasa kecewa dengan hasilnya. Tetapi dari pengalaman tersebut ia belajar bahwa budidaya memiliki risiko dan harus memahami ilmunya. 

Meski menghadapi berbagai tantangan, Bagas tetap optimis. Ia melihat pengalaman yang diperoleh sebagai investasi jangka panjang. “Saya ingin terus belajar. Harapannya nanti bisa punya tambak sendiri dan mengelola secara mandiri,” ujarnya.

Di tengah minimnya minat generasi muda terhadap sektor tambak, Bagas menjadi salah satu yang bertahan. Ia menyebut sebagian besar teman sebayanya memilih bekerja di kota karena dorongan orang tua.

“Banyak yang bilang kerja di kota lebih pasti. Tapi menurut saya, di tambak juga ada peluang kalau ditekuni,” katanya.

Ia berharap kedepan akan lebih banyak program pelatihan yang menyasar anak muda agar sektor tambak tetap berlanjut. Selain itu, ia juga mendorong adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah terhadap persoalan banjir rob dan permasalahan lingkungan sehingga warga di Desa Banjar Kemuning juga bisa kembali melakukan budidaya udang vaname.

“Kalau tidak ada solusi, lama-lama tambak di sini bisa hilang,” ujarnya.

Bagi Bagas, masa muda bukan hanya soal mencari pekerjaan cepat. Tetapi juga tentang menanam pengetahuan untuk masa depan. Dari tambak sederhana di Banjar Kemuning, ia membuktikan bahwa menjadi pandega bukan sekadar pekerjaan. Melainkan pilihan hidup yang penuh harapan.

Ditulis: Via Irmar

Scroll to Top