Wa Ode Sitti Murni tumbuh dalam hidup yang terus diuji. Sejak kecil ia sudah belajar bertahan, merantau ke Ternate pada 1989 dengan bekal tenaga dan tekad. Di kantin pabrik kayu lapis, ia mengais rezeki hingga bertemu jodohnya, La Ode Arwan. Rumah tangga yang dibangun perlahan runtuh ketika pabrik bangkrut pada 2007. Harapan ekonomi terhenti, lalu duka datang berlapis. Anak sulung mereka, Sartia, jatuh sakit dan akhirnya meninggal pada 2012 setelah upaya pengobatan panjang yang menguras tabungan dan perhiasan keluarga. Kehilangan itu membuat Murni kembali terperosok, tepat ketika hidup menuntutnya tetap berdiri.
Balik kampung ke Muna pada 2008 menjadi awal babak baru yang tak kalah berat. Dengan suami yang harus merantau dan tiga anak di pundak, Murni memilih bertani di lahan pinjaman keluarga. Ia menanam kelapa, lalu menyerah setelah tanaman berkali-kali dirusak babi. Beralih ke jambu mete, jagung, hingga sayuran dan buah, ia sempat mengecap hasil, meski harus berpindah-pindah lahan karena tanah cepat kehilangan kesuburan. Ladang berpindah dijalani selama bertahun-tahun, di tengah kabar pahit suami yang ditahan di Malaysia akibat bekerja secara ilegal. Kesendirian, kelelahan, dan kecemasan menjadi keseharian yang sunyi.
Tahun 2019 keluarga itu kembali utuh, tepat sebelum pandemi melanda. Upaya menanam jagung tak lagi menjanjikan karena hama dan tanah yang rusak. Beternak ayam dan sapi pun dicoba, meski memunculkan persoalan baru. Ternak yang dilepasliarkan kerap merusak tanaman warga, sementara pertumbuhannya sendiri tidak optimal karena keterbatasan pengetahuan dan kualitas pakan.

Harapan dari Sekolah Lapang Pesisir
Awal 2024, Yayasan Hutan Biru hadir di Desa Baluara membawa tawaran pembelajaran yang berbeda. Sekolah Lapang Pesisir (SLP) Pertanian Terintegrasi dikenalkan sebagai metode belajar nonformal yang membumi. Warga tak hanya diajak duduk mendengarkan materi presentasi, melainkan juga turun langsung ke lapangan, mengamati, berdiskusi, lalu memecahkan persoalan berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dari pemetaan desa, analisis kebutuhan, hingga membuat kalender musim, warga mulai mengenali ekosistemnya sendiri dan menyusun rencana aksi.
Bagi Wa Ode Sitti Murni, proses ini membuka mata. Masalah yang selama ini dihadapi sendirian ternyata bisa dibahas bersama. “Ternyata saya tidak perlu jauh-jauh menanam,” ujarnya dengan wajah berbinar.

Selama ini, masyarakat Baluara mengandalkan sistem ladang berpindah. Hutan dibuka, semak dibersihkan, pohon ditebang, bahkan dibakar, lalu ditanami satu jenis tanaman. Ketika tanah dianggap tak lagi subur, lahan ditinggalkan dan warga membuka kawasan baru. Pola ini melelahkan dan berisiko mendorong deforestasi. “Capek buka ladang terus-terusan. Lokasinya jauh, susah diawasi dari babi dan sapi,” kata Murni. Melalui SLP Pertanian Terintegrasi, ia belajar bahwa pekarangan rumah dan lahan terbengkalai bisa diubah menjadi ruang produksi pangan. Bersama 19 anggota kelompok, ia membersihkan lahan seluas 40 x 60 meter dan membangun demplot petak percontohan untuk menguji dan mengevaluasi praktik pertanian terintegrasi.

Integrasi tak berhenti di tanaman. Di demplot itu pula dibangun kandang ayam dan sapi. Limbah sayur dan sisa rumah tangga menjadi pakan ayam, sementara kotorannya bercampur alami menjadi kompos. Sapi dipelihara dalam kandang, pakan diambil dari rumput gajah dan daun gamal. “Saya tidak cemas lagi. Ayam dan sapi tidak merusak tanaman orang,” ujar Murni lega.
Dari kotoran sapi yang melimpah, peserta membangun sistem biogas sederhana. Tabung dipasang tepat di belakang kandang. Lebih dari sepekan kemudian, api biru menyala dari kompor. “Seperti mimpi,” kata Murni, teringat pengalaman studi banding yang kini menjadi nyata di pekarangannya sendiri.
Kolam ikan pun dibangun dari terpal sederhana. Ikan nila dipelihara dengan pakan azolla, tumbuhan air yang cepat tumbuh dan kaya nutrisi. Bagi warga pesisir Baluara yang sejak kecil akrab dengan laut, budidaya ikan air tawar menjadi pengalaman baru yang menantang sekaligus membuka rasa ingin tahu. Mereka belajar mengenali siklus hidup ikan, mengatur pakan, serta menjaga kualitas air kolam. Proses belajar itu tak selalu mulus, tetapi dilakukan dengan sabar dan penuh rasa kebersamaan. Sedikit demi sedikit, kolam terpal menjadi bukti bahwa sumber pangan tidak harus datang dari laut atau ladang yang jauh, melainkan bisa dihadirkan di halaman rumah sendiri.

Bagi Wa Ode Sitti Murni, SLP Pertanian Terintegrasi bukan sekadar rangkaian kegiatan bertani, beternak, atau memelihara ikan. Program ini mengubah cara pandangnya terhadap hidup dan ruang. Ia tak lagi harus berpindah-pindah membuka ladang, menempuh jarak jauh, atau terus cemas kehilangan tanaman akibat hama dan ternak. Semua terkelola dalam satu sistem yang saling terhubung di pekarangan rumah: sayur, ternak, ikan, pupuk, hingga energi. Dari proses belajar bersama itu tumbuh keyakinan baru bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil dan dekat. Dari pekarangan sederhana di Desa Baluara, asa tentang kehidupan yang lebih mandiri dan berkelanjutan perlahan menyala.

Ditulis: Alwy Fauzy
