Bekerja Bersama Alam, Harapan Memulihkan Ekosistem Mangrove

Pagi di kawasan mangrove selalu dimulai dengan air yang perlahan bergerak mengikuti pasang surut. Kawasan pesisir di Desa Kubu, Kubu Raya, Kalimantan Barat, memantulkan cahaya matahari yang baru terbit. Sementara akar-akar mangrove yang tersingkap tampak kokoh menahan lumpur di bawahnya. Di sela aroma asin dan lumpur yang lengket di kaki, tim Yayasan Hutan Biru (YHB) yang didukung Blue Action Fund (BAF) bersama PT KLIA dan masyarakat setempat memulai pekerjaan yang tidak sederhana. Mereka datang bukan untuk melakukan penanaman besar-besaran, melainkan untuk memulihkan ekosistem mangrove yang telah lama terdegradasi dengan cara mengembalikan keseimbangan alaminya.

Gambar 1. Proses pemilihan ukuran kayu untuk dijadikan tumpukan LWD – Achmad/Blue Forests

Pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, rehabilitasi mangrove berbasis Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) dilaksanakan sebagai pendekatan utama. EMR berangkat dari satu pemahaman mendasar: mangrove pada dasarnya mampu pulih secara alami. Alam memiliki mekanisme regenerasi yang kuat, selama faktor-faktor gangguan yang menghambatnya dapat diidentifikasi dan ditangani terlebih dahulu. Pendekatan ini menempatkan pemulihan proses ekologis sebagai prioritas, bukan sekadar penambahan jumlah bibit di atas permukaan lumpur.

Di lapangan, tantangan paling nyata datang dari akumulasi woody debris – kayu-kayu mati yang menumpuk di saluran air dan cabang-cabang sungai kecil. Kayu-kayu tersebut menghambat aliran pasang surut air dan mengubah pola distribusi sedimen. Selain itu, vegetasi piyai (Acrostichum sp.) tumbuh dominan di beberapa area terbuka, menekan ruang tumbuh bagi propagul mangrove. Bagi sebagian orang, tumpukan kayu mati mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi ekosistem mangrove, hambatan kecil pada aliran air bisa berdampak besar terhadap sedimentasi, kadar salinitas dan kelancaran proses regenerasi alami.

Gambar 2. Penanganan gundukan dan Piyai – Aprilia Maulina

Gambar 3. Tumpukan Large Woody Debris (LWD) – Achmad/Blue Forests

Selama berminggu-minggu, tim lapangan bekerja mengikuti ritme alam. Jadwal kegiatan menyesuaikan dengan pasang surut air. Ketika air naik, akses ke dalam kawasan menjadi lebih mudah. Saat surut, area kerja terbuka lebih luas. Kayu-kayu yang menghambat aliran tidak sepenuhnya dibersihkan dan dibuang. Sebaliknya, kayu tersebut ditata dan disusun menjadi tumpukan large woody debris (LWD), ditempatkan secara strategis agar tidak lagi menyumbat arus utama, namun tetap berfungsi sebagai struktur ekologis. 

Penataan LWD ini dilakukan dengan pertimbangan hidrologi. Tumpukan kayu diarahkan agar mendukung dinamika alami perairan dan berpotensi menjadi habitat bagi biota. Dalam banyak ekosistem pesisir, LWD justru menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi ikan, udang, dan kepiting. Dengan demikian, intervensi yang dilakukan tidak memutus siklus alami, melainkan memperbaiki tata kelola dan fungsinya.

Pada saat yang sama, pengendalian vegetasi piyai dilakukan secara selektif. Hanya area yang menghambat regenerasi mangrove saja yang dibersihkan secara terbatas agar memberi ruang tumbuh berbagai jenis mangrove lainnya. Pendekatan EMR membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Setiap lokasi diperlakukan secara berbeda, menyesuaikan dengan kontur lahan, karakter substrat, serta pola pasang surut setempat. Tidak ada solusi instan atau pendekatan seragam. Yang ada adalah proses membaca lanskap, memahami hubungan antara air, tanah, dan vegetasi, lalu bertindak. 

Bagi tim YHB dan PT KLIA, pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi target luasan atau menyelesaikan laporan kegiatan. Ada rasa tanggung jawab untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan benar-benar memberi ruang bagi pemulihan jangka panjang. Hingga akhir periode kegiatan, faktor gangguan utama berhasil ditangani pada area kurang lebih 100 hektar. Angka ini menjadi indikator capaian teknis sekaligus simbol ruang baru yang kembali terbuka bagi mangrove untuk tumbuh mandiri.

Gambar 4. Pembuatan LWD pada kondisi air pasang – Achmad/Blue Forests

Perubahan itu mulai terlihat secara perlahan. Aliran air yang sebelumnya tersumbat kini kembali lancar. Sedimen yang semula terakumulasi tidak merata mulai stabil mengikuti dinamika pasang surut. Area yang terbuka menunjukkan tanda-tanda regenerasi alami. Propagul yang terbawa arus memiliki peluang lebih besar untuk menetap dan berkembang.

Dampak pemulihan ini tidak hanya dirasakan oleh ekosistem, tetapi juga oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada kawasan mangrove. Yusup, seorang nelayan kepiting dari Desa Kubu, merasakan langsung perubahan tersebut. “Saluran yang sudah kite bersihkan dari kayu-kayu besar bisa memudahkan nelayan kepiting, termasuk saye untuk masuk pakai jukong (perahu kecil). Jadi lokasi tangkap dan jelajah memasang bubu bise lebih jauh dijangkau daripada hanya memasang di cabang sungai.”

Selama ini, banyak nelayan kesulitan memasuki areal mangrove tersebut karena kayu-kayu besar melintang di tengah saluran. Akses terbatas membuat mereka hanya dapat memasang bubu (alat jerat kepiting) di lokasi-lokasi yang mudah dijangkau. Dengan perbaikan aliran air, jangkauan penangkapan menjadi lebih luas. Jukong yang mereka gunakan dapat bergerak lebih jauh ke dalam kawasan.

Menurut Yusup, manfaat rehabilitasi tidak berhenti pada akses yang lebih baik. Ia melihat potensi ekologis dari tumpukan LWD yang telah ditata. “Kayu yang sudah kite tumpuk-tumpukkan jadi LWD pasti akan jadi tempatnya ikan, udang, dan kepiting beranak pinak,” ujarnya. Struktur kayu tersebut dipercaya menjadi habitat baru bagi biota perairan, menyediakan tempat berlindung sekaligus lokasi berkembang biak.

Sambil tersenyum, ia menambahkan, “Bagi kawan-kawan yang sudah terlibat pengerjaan ini, tinggal kita hapalkan jak lokasi tumpukan LWD-nya. Tiga-empat bulan ke depan pas mau memasang bubu kepiting, kita tahu di mana yang berpotensi banyak hasil.” Ucapan tersebut mencerminkan optimisme bahwa perbaikan ekosistem akan beriringan dengan peningkatan peluang penghidupan.

Rehabilitasi berbasis EMR ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar intervensi ekologis. Ia adalah upaya membangun kembali keseimbangan antara manusia dan alam. Di balik lumpur, panas matahari, dan kerja fisik yang melelahkan, tersimpan harapan akan ekosistem pesisir yang lebih sehat dan tangguh. Mangrove yang pulih tidak hanya melindungi garis pantai dari abrasi, tetapi juga menopang keberlanjutan perikanan dan kehidupan masyarakat.

Melalui pendekatan yang mengutamakan proses ekologis dan menghormati dinamika alami, rehabilitasi ini memberi ruang bagi alam untuk memperbaiki dirinya sendiri. Ketika faktor-faktor gangguan ditangani dengan tepat, mangrove kembali menjalankan fungsinya. Pada akhirnya, pemulihan mangrove berarti memulihkan hubungan—antara air dan tanah, antara akar dan sedimen, serta antara manusia dan ekosistem yang menjadi sumber kehidupannya.

Ditulis: Noviansyah Putra & Achmad Juwardi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top