Lokakarya Integrasi Tata Guna Lahan Pesisir Menggunakan Pendekatan ROAM (Restoration Opportunity Assessment Method)

Lokakarya ini diselenggarakan sebagai ruang bersama untuk membahas tantangan alih fungsi lahan pesisir di Sulawesi Selatan serta kebutuhan integrasi antara wilayah seascape dan landscape. Perubahan tata guna lahan di wilayah hulu yang berdampak pada wilayah hilir menjadi perhatian utama, sehingga diperlukan pendekatan yang mampu menjembatani perencanaan lintas wilayah dan lintas sektor secara lebih terhubung dan adaptif.

Pendekatan ROAM, yang dikembangkan oleh IUCN sejak tahun 2012 dan mulai diadaptasi oleh Blue Forest untuk konteks pesisir dan seascape, tidak hanya sebagai metode teknis, melainkan sebagai ruang kolaborasi, dialog, dan penyepakatan bersama. Melalui ROAM, para pemangku kepentingan diharapkan dapat menyusun prioritas rehabilitasi yang realistis, dapat dijalankan bersama, serta selaras dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan yang berlaku.

Lokakarya ini juga menjadi sarana pembelajaran bersama untuk mengidentifikasi peluang rehabilitasi mangrove dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan kelembagaan. Proses ROAM diharapkan mampu memastikan bahwa rencana rehabilitasi tidak bertentangan dengan kepentingan masyarakat, sekaligus selaras dengan kebijakan nasional dan agenda global, khususnya terkait mitigasi perubahan iklim melalui pendekatan blue carbon. Dalam konteks ini, hasil ROAM diharapkan dapat menjadi rujukan teknis bagi KKMD dalam menyusun strategi rehabilitasi mangrove jangka menengah dan jangka panjang di Sulawesi Selatan.

Dalam kerangka ROAM, terdapat tiga skenario utama yang digunakan sebagai dasar analisis, yaitu skenario konservatif, restorasi, dan rehabilitasi. Ketiga skenario ini digunakan untuk menganalisis kondisi dan ambang batas intervensi di wilayah pesisir, yang selanjutnya akan dikaji lebih mendalam pada sesi-sesi lanjutan.

ROAM dipahami sebagai metode kolaboratif dalam merencanakan restorasi wilayah pesisir yang mencakup pemulihan ekosistem, perlindungan, serta pemanfaatan berkelanjutan. Intervensi rehabilitasi dan restorasi dilakukan berdasarkan kondisi lingkungan dan iklim setempat, termasuk pada sistem yang telah mengalami degradasi berat dan memerlukan intervensi untuk mengembalikan fungsinya, maupun pada sistem yang mengalami perubahan akibat aktivitas manusia secara sengaja.

Melalui diskusi kelompok, peserta mengidentifikasi sejumlah permasalahan utama yang dapat diatasi melalui pendekatan ROAM. Permasalahan tersebut meliputi tumpang tindih kewenangan dari tingkat desa hingga nasional, ketidakjelasan status wilayah mangrove di tingkat desa, termasuk yang masih berada dalam sengketa, serta perlunya integrasi kewenangan antar desa dalam rehabilitasi mangrove yang selaras dengan misi SDGs. Selain itu, isu tata kelola ruang, pemulihan mangrove terdegradasi, kejelasan status hukum kepemilikan lahan, pemetaan peran dan pelibatan multipihak terutama partisipasi masyarakat serta integrasi dengan kegiatan desa yang telah berjalan juga menjadi perhatian utama.

Peserta lokakarya juga menyampaikan sejumlah kebutuhan pembelajaran lebih lanjut. Lima hal utama yang ingin diperdalam meliputi pemahaman tahapan implementasi pendekatan ROAM, teknik rehabilitasi mangrove, tahapan membangun kolaborasi multisektor, pemahaman kewenangan dan kebijakan terkait rehabilitasi dan restorasi mangrove, serta penguatan praktik kolaborasi antar pihak.

Secara garis besar, tahapan ROAM yang dipaparkan dalam lokakarya meliputi kajian dan analisis awal oleh tim ROAM, assessment lapangan, analisis data lapangan yang mencakup pemetaan geospasial berbasis GIS, analisis biaya dan manfaat, pemodelan karbon, serta analisis keuangan dan pendanaan. Tahapan selanjutnya adalah lokakarya pemetaan peluang (opportunity mapping), kajian dan analisis lanjutan oleh tim ROAM, serta validasi melalui culminative workshop.

Lokakarya memberi penegasan bahwa proses ROAM merupakan proses pembelajaran bersama yang bersifat adaptif dan kolaboratif. Harapannya, proses ini tidak hanya menghasilkan kajian dan analisis, tetapi juga prototipe pembelajaran yang dapat menjadi rujukan ke depan. Seluruh peserta menitipkan harapan agar kolaborasi ini dapat berlanjut dan diperdalam dalam workshop ROAM selanjutnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top