“Saya Ingin Mangrove dan Laut Seperti Dulu Lagi”

Semilir angin senja di Selat Tiworo kerap membawa Ronaldin kembali ke masa kecilnya. Ia masih berusia sepuluh tahun ketika pertama kali ikut melaut bersama ayahnya, Hermanto. Di atas perahu kayu bermesin kecil, bocah Bajo dari Desa Latawe, Kecamatan Napano Kusambi, Muna Barat, Sulawesi Tenggara,  itu belajar bahwa laut bukan sekadar ruang bermain, melainkan sumber penghidupan. Dari ayahnya penopang keluarga dengan enam anak, Ronaldin menyerap tanggung jawab sebagai anak sulung, peran yang lazim dijalani anak-anak di kampung pesisir itu.

Hari demi hari, laut membentuk Ronaldin. Jari-jemarinya kian mahir  membersihkan dan menarik jaring. Ritme melaut melekat di ingatannya. “Kami pergi melaut jam empat sore dan pulang jam delapan atau  paling lama sembilan malam,” kenangnya. Sasaran mereka adalah ikan-ikan dasar yang biasa hidup di antara karang, seperti kerapu, baronang, katamba dan ikan  putih di selat Tiworo, jalur air yang membelah daratan utama Sulawesi dan Pulau Muna.

Saat beranjak remaja, tenaga Ronaldin menguat. Pada hari libur sekolah, ia mulai melaut sejak subuh. Namun laut yang dulu murah hati perlahan berubah. Ikan-ikan yang sebelumnya mudah didapat kini mulai menjauh. Awalnya delapan sampai sepuluh mil laut dari kampung. Bahkan saat laki-laki kelahiran 9 Oktober 1999 ini mengenyam bangku SMA, jarak tangkap membengkak hingga 15 mil laut, atau lebih dari 27 kilometer. Perubahan itu langsung memengaruhi hasil tangkapan warga nelayan. 

Selepas SMA Ronaldin memilih merantau ke Kota Kendari, cita-citanya bergeser menjadi guru. Ia diterima di Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo. Dunia baru membukakan cakrawalanya. “Saya kuliah karena ingin ubah pola pikir, kenal orang baru, dapat pengalaman dan relasi. Saya ini pemalu dulunya dan jarang keluar rumah,” tuturnya. 

Hidup di kota besar tak mudah. Awal kuliah, ia menumpang di rumah bibi, kemudian pindah ke rumah kontrakan sepupu. Untuk bertahan, Ronaldin bekerja serabutan. Ia sempat ikut mengangkut pasir, mengaduk adonan, hingga mencetak satu per satu batako hingga larut malam.  “Pakaianku paling banyak hanya lima pasang, jadi bisa masuk tas. Jadi bisa pindah-pindah,” ucapnya sambil tersenyum. Dari pekerjaan itu, ia bisa mengantongi hingga seratus lima puluh ribu rupiah sehari ketika pesanan ramai. Aktivitas itu ia jalani sejak kuliah semester dua sampai akhirnya diwisuda pada 2022.

Namun selepas lulus dan sempat bekerja di perusahaan ritel di Konawe Utara, pikirannya terus tertuju pada kampung. Orang tuanya mulai sakit-sakitan. Ia pun pulang. Kepulangan itu membuka kegundahan baru.

Mangrove di bibir pantai Latawe, gerbang alami kampung sudah gundul. Sebagian berubah menjadi tambak yang tak lagi produktif, sebagian ditebang untuk kayu bakar. Terumbu karang rusak. Ingatan Ronaldin melayang pada dentuman ledakan di laut.  “Dulu itu masih marak perilaku illegal fishing dari orang tua kita terdahulu, menggunakan bom ikan,” katanya pelan. “Sekarang masih ada, tapi beberapa sudah mulai berkurang, karena persoalan ikannya kurang dan terumbu karangnya rusak.”

Dampaknya nyata. Nelayan termasuk ayahnya harus melaut hingga sekitar 50 mil laut atau lebih dari 90 kilometer, melintasi perairan Kabaena, Bombana, Konawe Kepulauan hingga Buton Utara. “Nelayan sekarang hanya bisa berharap dari ikan-ikan yang berimigrasi seperti ikan kembung dan cakalang. Alat tangkap berubah dari jaring dasar menjadi pukat terapung,” keluhnya.

Peta Mangrove Nasional (PMN) 2023 mencatat luas mangrove Sulawesi Tenggara mencapai 93.564,98 hektar. Namun dalam dua dekade terakhir, Kabupaten Muna dan Muna Barat kehilangan lebih dari 4.000 hektar mangrove. Kerusakan ini menggerus daya dukung ekosistem pesisir tempat bergantungnya kehidupan masyarakat.

Awal 2023, organisasi nirlaba Blue Forests masuk ke Desa Latawe. melalui analisis citra satelit dan survei lapangan, menunjukka luasan mangrove Muna seluas 10.883 hektar pada 2002 menurun menjadi 8.076 hektar saat ini. Sedangkan Muna Barat dari 8.803 hektar menurun menjadi 7.476 hektar. Artinya dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, Kabupaten Muna dan Muna Barat telah kehilangan 4.134 hektar mangrove.

Blue Forests menilai kerusakan mangrove akan menghilangkan daya dukung ekosistem terhadap kehidupan manusia dan lingkungannya. Awal tahun 2023 Blue Forests menyasar Desa Latawe, Muna Barat menjadi lokasi penelitian. Penelitian yang melibatkan masyarakat dan pemerintah setempat menunjukkan kerusakan mangrove, penurunan hasil perikanan, lemahnya kesadaran lingkungan, serta minimnya aturan lokal. Guna mengatasi lahan mangrove yang terdegradasi, Blue Forests mendorong pemulihan dengan pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR) pemulihan mangrove secara ekologis alami.

Ronaldin mejadi salah satu peserta Training of Trainers (ToT) EMR. “Awalnya saya mengikuti ToT EMR. Di situ saya pahami tentang beragam jenis mangrove dan fungsinya. Bahwasanya memang sangat penting menjaga mangrove ini,” katanya. Bersama warga, ia terlibat mengidentifikasi lahan rusak, pemilik lahan, serta faktor penghambat tumbuhnya mangrove. Prinsipnya jelas, rehabilitasi dilakukan secara ekologis dan partisipatif tanpa mengubah status kepemilikan lahan.

Kunci EMR adalah pemulihan hidrologi. Pada September 2024, pematang dibobol dan saluran air dibuka untuk mengembalikan sistem pasang surut untuk suplai bibit secara alami. 62 warga, perempuan dan laki-laki, bahu membahu menggali saluran sepanjang hampir 300 meter di kawasan rehabilitasi seluas lebih dari 24 hektar. Di sana dibangun demonstration plot untuk menguji jenis mangrove yang cocok dan mempelajari hambatan ekologis.

Menariknya, sebagian warga yang terlibat adalah mantan penebangan mangrove. Perlahan cara pandang mereka berubah. “Saya lihat mulai tertanam di pikiran para penebang kayu manfaat mangrove. Mereka dulu malas pusing. Sekarang setiap kali selesai menebang, mereka dapat indukan lalu ditanam kembali,” terang Ronaldin.

Rehabilitasi dilengkapi monitoring rutin untuk memantau pertumbuhan mangrove dan kembalinya biota. Patroli kawasan juga digelar bersama UPTD Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) Unit VI Pulau Muna, DKP dan DLH Muna Barat, TNI, Polri, serta Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Jika ada pelanggaran, pendekatan persuasif dikedepankan, peringatan, penyuluhan, hingga surat pernyataan tidak mengulangi aksi yang bisa menyeretnya ke meja hijau.

Meski sempat dicemooh, hadirnya TOT EMR dilanjutkan kegiatan rehabilitasi, monitoring dan patroli mengantar masyarakat Desa Latawe menjadi lebih terbuka dan peka terhadap kondisi lingkungannya. Setiap pertemuan kegiatan sarat akan diskusi, secara tidak langsung menguatkan daya nalar, kemampuan berbicara dan keberanian para peserta untuk lebih bersuara. ”Tidak saya saja yang dulu pemalu, warga juga demikian. Sekarang saya dan mereka, tidak lagi canggung berhadapan atau berbicara dengan siapapun,” cerita Ronaldin senang.

Perubahan sikap warga juga diakui Dedi, relawan Blue Forests. “Saya rasa public speaking ku meningkat. Saya makin paham peran mangrove sehingga minta para pelaku tidak serampangan menebang tapi wajib menanam mangrove,” Ujarnya. Kesadaran itu, kata Dedi, ikut memengaruhi cara ia bersikap dan berpikir. “Saya juga tidak sembarang bergaul dan berpikir lebih dewasa.”

Pengetahuan tentang mangrove juga bertambah bagi Ronaldin dan warga lainnya. “Baru tahu kalau mangrove ini banyak jenis dan zona tumbuhnya. Manfaatnya juga macam-macam, seperti jeruju yang bisa dijadikan teh menyehatkan,” kata Ronaldin sambil tersenyum. 

Seiring pemulihan ekologi yang berjalan alami, aktivitas penebang mangrove perlahan menurun. Bagi Ronaldin, strategi yang dijalankan Blue Forests terbilang lengkap. Tak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga membuka jalan penghidupan alternatif melalui Sekolah Lapang. “Makanya saya bersyukur dengan adanya pendampingan bisnis dari Blue Forests, seperti produk olahan pembuatan sambal bete-bete dan abon ikan yang dibuat warga, karena di antara mereka ada pelaku penebang kayu. Sehingga kegiatan menebang ikut berkurang,” ujarnya.

Perkembangan positif pada lingkungan dan masyarakat itu menumbuhkan optimisme Ronaldin, yang kini menjabat Sekretaris Desa Latawe. Matanya berbinar, seolah ingatannya kembali ke masa bermain di rimbunnya mangrove dan menyusuri laut yang dulu dekat dan murah hati. “Saya ingin mangrove dan lautku seperti dulu lagi,” katanya lirih. 

 

Ditulis: Alwy Fauzy

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top