Pulau Tanakeke Dulu dan Kini

Home > All News > Pulau Tanakeke Dulu dan Kini
Kurang lebih setelah 1 jam perjalanan dengan perahu dari Kota Takalar (populasi 10.000) di Sulawesi Selatan, kami mulai melihat botol-botol plastik kosong terapung di permukaan laut, bukan hanya satu-dua, tapi ribuan. Mereka bukanlah bagian dari armada sampah yang konon terhanyut menuju tengah-tengah Samudera Pasifik. Botol-botol ini terapung dalam barisan yang rapi, seperti memang disusun secara sengaja. Sampah seseorang adalah harta bagi orang lain. Botol-botol kosong ini, setelah dengan begitu saja dibuang, merupakan modal usaha dari banyak penduduk di Pulau Tanakeke. 
 
Tali plastik tebal yang dipasang tepat di bawah permukaan laut mengikat semua botol-botol tersebut. Dan oleh karena teriknya matahari iklim tropis yang menembus hingga kedalaman air, rumput-rumput laut tumbuh sepanjang tali. Botol-botol bekas dan tali-tali yang kuat merupakan modal yang diperlukan untuk mendirikan pertanian rumput laut di daerah Indonesia ini. Setiap keluarga memiliki kapal kecil, dan walaupun harga BBM telah naik 40% pada tahun 2013, minimalitas pengeluaran operasional dari sebuah pertanian rumput laut masih dapat bertahan. Pembeli rumput laut grosiran bahkan mendatangi desa-desa di Tanakeke sekitar dua kali seminggu sehingga para petani tidak perlu menanggung biaya BBM untuk mengirim hasil panen ke Kota Takalar. Rumput laut dapat dipanen setelah 20 hari, dan karaginan (tepung yang terbuat dari rumput laut) dijual Rp. 15.000,- per kilonya di Tanakeke atau Rp. 20.000,- per kilo di Makassar. Para petani di desa Lantang Peo dilaporkan dapat menjual kurang lebih 1 ton per bulan. Hal ini berarti setiap keluarga bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 800.000,- per bulan.  
 
Para petani ini beralih ke laut karena tidak adanya lahan. Rumah-rumah mereka didirikan di atas tonggak-tonggak dengan ruang tidur di atas dan dapur di bawah. Rumah-rumah itu didirikan dari fondasi semen yang dipasang di atas tumpukan batu dan potongan-potongan karang mati. Setelah kapal kecil kami mencapai tambatannya, saya melihat bahwa 'jalan' di antara rumah-rumah dengan jarak yang sempit itu diaspal dengan konglomerasi debu, karang mati dan sampah yang tidak dapat terurai seperti plastik dan pembungkus PVC dari produk makanan. Jalur-jalur ini benar-benar jalan untuk pejalan kaki, tidak ada mobil, tidak ada sepeda motor, bahkan tidak ada sepeda.
 
Ketika tiba di rumah host kami, kami disuguhi teh manis dan bola tepung yang berisi kacang manis, di mana nyonya pemilik rumah, Daeng Ngagi, suguhkan dengan bangga di atas lantai rumahnya yang bersih dengan dapur yang teratur. Mangkuk-mangkuk plastik bewarna-warni dalam berbagai ukuran yang berbentuk pelangi terpajang di dinding. Suami ibu tersebut adalah Pak Arif Rani, berumur 35 tahun, yang merupakan koordinator dari 20 supervisor yang menangani proyek pemulihan mangrove di Tanakeke. Setelah cemilan, seorang penggerak masyarakat atau Community Organizer (CO) bernama Rehana, berumur 24 tahun, mengantar kami ke daearah laut untuk melihat langsung proses restorasi mangrove. Kami mengarungi laut dengan kedalaman selutut dan menyeberangi lumpur sepergelangan kaki pelan-pelan. Saat kami mencapai pinggir hutan mangrove, kedalaman mencapai paha kami, dan lebih dari 100 penduduk setempat mengumpulkan lumpur-lumpur dari bawah dengan ember, dan menuangkan itu ke tumpukan yang dipagari oleh tongkat-tongkat. Kebanyakan, sekitar 95%, dari penduduk yang berkumpul adalah wanita. Mereka berusaha melindungi diri dari teriknya matahari siang dengan menutupi tubuh dari kepala hingga kaki, bahkan terkadang sampai wajah mereka. Semua usaha mereka lakukan guna mendukung reproduksi mangrove di gunung lumpur yang telah dikumpulkan.
 
Lebih dari 1.200 hektar dari 1.776 hektar hutan mangrove yang secara natural memenuhi pulau telah dirusak 20-30 tahun yang lalu oleh gerakan menuju aquaculture yang berkembang di banyak masyarakat pesisir di Indonesia yang dikenal dengan julukan “Blue Revolution”. Masyarakat pesisir di Indonesia, Thailand, Vietnam dan Bangladesh didorong untuk mengganti hutan mangrove dengan tambak ikan dan udang. Untuk 5-10 tahun pertama, ekspor produk-produk tersebut membawa keuntungan besar, namun setelah itu para penduduk mengalami penurunan penghasilan karena biaya untuk mengimpor pakan dan penyubur. Oleh karena pemakaian bahan kimia yang intens, lama-lama kualitas kolam ikan dan udang menjadi menurun dan tidak produktif lagi. 
 
Daeng Ngitung, berumur 35 tahun, adalah seorang pengusaha tambak ikan yang masih berusaha untuk meneruskan usaha ini di Tanakeke. Dia menceritakan bahwa merebaknya suatu virus  menyapu panen udang beberapa tahun lalu. Ini merupakan cerita umum dalam kalangan pengusaha udang yang saya temui di Sulawesi Selatan. Seperti pertanian di tanah, pengusaha udang juga menggunakan antibiotik secara luas untuk meningkatkan jumlah ternak per area. Lama kelamaan, produk-produk mereka menjadi kurang terjamin kesehatannya baik dari ketahanan ternak terhadap penyakit maupun kualitas produk dalam supermarket. 
 
Rani menghimbau penduduk Lantang Peo untuk merehabilitasi hutan mangrove yang sempat hancur. Beliau menerima pelatihan dan bimbingan dari Mangrove Action Project (MAP) Indonesia. MAP adalah LSM internasional berpusat di Amerika yang didirikan pada tahun 1990an untuk meningkatkan kesadaran dan menganjurkan rehabilitasi dan perlindungan hutan mangrove. Ratusan penduduk Tanakeke berkumpul di bawah Community-Based Ecological Mangrove Rehabilitation (CBEMR), proses multi-stage untuk merehabilitasi hutan mangrove yang diinisiasi oleh R. R. Lewis dari Florida. Beberapa strategi unik yang membuat CBEMR berhasil antara lain penilaian meluas akan masyarakat dan kondisi ekologi sebelum perencanaan dan implementasi dari rencana rehabilitasi, dan pengawasan pasca-proyek yang melibatkan masyarakat lokal. Langkah-langkah penting pertama meliputi resolusi hak penguasaan dan pemanfaatan lahan dalam hubungannya dengan penilaian ekologi dan hidrologi untuk memastikan bahwa hanya habitat yang cocok untuk mangrove yang akan dipilih untuk proses restorasi. 
 
Masyarakat di sini mengapresiasi mangrove sebagai penyangga cuaca dan perawatan ikan, udang dan kepiting. Saat kami mengarungi laut di antara pohon-pohon mangrove dewasa, kami didekati oleh seorang wanita muda dengan kacamata hitam dan hijab. Beliau adalah Ibu Murni, berumur 35 tahun, seorang guru local yang menyuarakan pentingnya hutan mangrove bagi lingkungan dan penduduk lokal. Berasal dari Kota Takalar, beliau telah tinggal di Desa Rewatayya selama 9 tahun dan berusaha menumbuhkan rasa cinta akan mangrove pada murid-muridnya. Beliau mengatakan bahwa apabila kesadaran dan kepedulian pada lingkungan dapat tumbuh sedari kecil, maka mereka akan terus bertumbuh dengan mencintai dan peduli pada lingkungan sekitar. Beliau menjelaskan bagaimana area-area hutan mangrove yang kami lihat sekarang belum ada ketika beliau pertama datang 9 tahun lalu. Akibatnya, desa seringkali terekspos angin kencang dari laut. Beliau telah mendorong murid-murid SD dan SMP untuk turut serta dalam kegiatan penanaman kembali mangrove. Ibu Murni menyanyikan sebuah lagu yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya tentang mangrove kepada kamera sebelum kami berperahu kembali ke Rewatayya. 
 
Menjelang petang, ketika kegelapan mulai menyelimuti Tanakeke, listrik mulai dinyalakan. Kebanyakan desa menikmati listrik selama 4 jam per hari mulai dari pukul 18.00 hingga 22.00 melalui pembangkit tenaga surya. Pencahayaan ini membantu kami melaksanakan pertemuan sebelum makan malam bagi para pemimpin kelompok untuk mereview proyek rehabilitasi pada hari ini dan rencana untuk besok. Tim memutuskan untuk kembali bekerja besok hari pukul 6.00. 
 
Hari itu merupakan pertengahan Desember dan karena Tanakeke terletak di bagian selatan dari ekuator, pada saat itu kami mendapat waktu sinar matahari terpanjang dalam setahun. Saat itu merupakan waktu yang sangat tepat untuk mengunjungi Tanakeke karena hujan yang turun secara regular memenuhi tadah dengan air bersih untuk keperluan mandi dan memasak, namun hujan tersebut juga belumlah besar dan sering seperti yang terjadi pada bulan Januari sampai April. Pada bulan-bulan hujan tersebut, penduduk melaporkan bahwa tinggi permukaan laut meningkat beberapa kali dalam sebulan selama 3-4 hari berturut-turut ketika pasang datang bersamaan dengan hujan lebat. Air membanjiri lantai rumah, sekolah, dan masjid pada sore dan malam hari, kemudian surut.  Bagaimana cara penduduk mengatasi masalah ini? Semua barang dipindahkan dari lantai dasar ke lantai atas sebelum Januari.
 
Cara mengatasi jangka panjang adalah dengan rehabilitasi mangrove. Pohon mangrove dewasa dapat menjadi penahan angin dan arus laut kencang yang dapat membanjiri desa-desa dekat laut, terutama saat musim hujan. Ketika hutan mangrove masih dalam kondisi sehat sebelum gerakan Blue Revloution, penduduk mengatakan bahwa pasang laut tidak mencapai rumah mereka. Entah apakah pasang laut akan terus meningkat tanpa terelakkan atau hutan mangrove yang telah direhabilitasi akan dapat membantu membendung pasang, satu hal yang pasti, suatu pembendung antara laut dan daratan tentu saja bukanlah hal yang buruk. 
 
Kebanyakan dari pengusaha udang dan ikan dari gerakan Blue Revolution adalah generasi bapak dan kakek penduduk di Tanakeke. Mereka menebang dan membakar pohon mangrove untuk menyediakan ruangan bagi kolam udang dan ikan karena melihat tetangga mereka melakukan hal yang serupa dan mendapatkan penghasilan yang baik. Kolam aquaculture yang dibangun di bekas area hutan mangrove produktif selama 10 tahun, namun mengalami penurunan setelahnya oleh karena penggunaan bahan kimia dalam pakan, penyubur dan antibiotik. Hasil panen terus menurun karena harga juga terus menurun selama tahun 1990-an dan bisnis pertambakan berada dalam kesulitan. Kemudian, virus mulai menyerang ternak-ternak yang tersisa.
 
Haeruddin Daeng Ngenjeng, berumur 57 tahun, bertahan dengan usaha ikan dan udang selama dua dekade sebelum akhirnya beralih ke pertanian rumput laut setelah kerugian yang disebabkan oleh virus. Beliau berkata bahwa usaha rumput laut memberikan harga yang lebih baik dan tidak memerlukan banyak pekerja dengan tali sebagai penunjang utama. Beberapa kolam ikan yang dia gunakan sebelumnya masih tersisa di dekat rumahnya di Lantang Peo karena beliau masih berusaha mencari sumber pendapatan lainnya. Sejak 2001, setelah beralih dari tambak ke budidaya laut, Daeng Ngenjeng mengatakan bahwa dalam setahun 20 penduduk dapat berangkat naik haji, suatu pencapaian yang belum pernah dicapai oleh penduduk Lantang Peo sebelumnya, bahkan saat tahun panen udang yang baik. 
 
Memulai tambak udang membutuhkan lebih dari usaha pembersihan hutan mangrove. Kebanyakan penduduk harus meminjam dana untuk membangun tanggul yang layak lalu mendatangkan pakan dan penyubur. Dengan perlunya perawatan tanggul dan penurunan tanah dan hidrologi, biaya yang diperlukan semakin meningkat sedangkan profit semakin menurun. Setelah membayar hutang untuk modal pertama dan investasi berikutnya, para pengusaha hanya memiliki sedikit sisa untuk membiayai keluarga.  Belum lagi oleh karena naiknya ketinggian permukaan air laut, para pengusaha yang tetap bertahan dengan kolam udang harus menghadapi persoalan tambahan yaitu air laut yang menerobos tanggul dan menyapu ternak mereka. 
 
Daeng Ngitung, berumur 35 tahun, telah menjalani pertambakan selama lebih dari satu dekade di Kampung Bugis. Beliau lebih memilih campuran tambak udang dan ikan untuk simbiosis yang sehat, walaupun beliau telah mengorbankan kurang lebih 10% lahan oleh karena menurunnya kondisi tanah. Tanah di sana sudah tidak lagi sehat dan kolam tidak lagi bisa produktif. Walaupun beliau telah mengalami serangan virus dan bahaya pasang, Daeng Ngitung berencana untuk tetap bertahan dengan tambak udang dan ikan. Tidak seperti pengusaha tambak lainnya, beliau mempunyai kolam sendiri. Setelah mendapat saran dari perwakilan MAP Indonesia, beliau telah beralih ke penyubur dengan kadar kimia yang lebih rendah dan bahan organik yang lebih tinggi untuk meningkatkan kondisi tanah. Dengan kondisi tanah yang telah menurun, pergantian ini harus dilakukan secara bertahap untuk menunjang hasil produksi. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk beralih ke kolam yang 100% organik? Daeng Ngitung mengatakan bahwa beliau tidak memikirkan hal tersebut, namun hanya fokus kepada anak-anaknya yang merupakan motivasi beliau untuk mengubah cara usahanya. Beliau juga berharap dapat menjadi pemimpin di komunitasnya supaya dapat mendorong perubahan meluas untuk mendukung generasi berikutnya.
 
Pengusaha tetangga, Usma Daeng, berumur 34 tahun, juga telah menggeluti usaha tambak campuran selama 10 tahun tapi belum mempunyai tanah sendiri. Dia menyewa tanah dari seorang tuan tanah kenalannya dan harus membayar Rp 1.5 juta per tahun untuk tanah seluas dua hektar. Beliau membutuhkan banyak penyubur untuk mendapatkan hasil yang cukup untuk membayar biaya pengeluaran, mencakup uang sewa dan biaya perawatan, dan tetap bisa mendapat untung. MAP Indonesia tidak menyarankan penduduk Tanakeke untuk bertahan di usaha tambak menurut Rio Ahmad, berumur 26 tahun, seorang ahli ekologi CBEMR. Walaupun MAP Indonesia juga menyelenggarakan pelatihan tambak ikan dan udang organik di area-area lain di Sulawesi Selatan (contoh: Maros, Barru), Tanakeke sendiri dilihat lebih cocok untuk beralih ke usaha pertanian rumput laut.
 
“Pengusaha ikan di Tanakeke berada pada posisi yang tidak menguntungkan kalau dibandingkan rekan-rekan mereka,” kata Direktur MAP Indonesia, Ben Brown. “Biaya lebih mahal, penjualan juga lebih mahal, dan mereka juga kekurangan persediaan air bersih dan bahan-bahan alami untuk penyubur. 
 
“Namun usaha rumput laut berada dalam posisi menguntungkan karena adanya salinitas air laut yang stabil, persediaan air bersih dan pasang surut yang memadai. Nilai relatif ekosistem mangrove di pulau ini sangat tinggi. Sebagai dataran rendah, mereka membutuhkan fungsi perlindungan dari pohon mangrove, dan juga fungsinya sebagai penggerak dari usaha perikanan dekat pantai. Karena tidak seperti penduduk pulau utama, penduduk Tanakeke tidak memiliki opsi ekonomi lain selain perikanan.”
 
“Mangrove menjadi kunci di sini,” kata Rio ketika saya bertanya tentang solusi jangka panjang. Penduduk yang mengandalkan ekosistem yang sehat sebagai landasan makanan pokok dan juga perlindungan dari elemen-elemen harus merawat hutan mangrove. Ketika pertambakan jelas berada dalam lingkup pengelolaan perikanan, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab atas ekosistem mangrove. Apakah mereka bagian dari kementerian perikanan, kehutanan atau lingkungan? Dengan adanya isu-isu lain yang lebih diutamakan dan ketidakjelasan tentang mandat manajemen, mangrove seringkali menjadi terlupakan. 
 
Mawar Asni, berumur 36, tidak lagi bisa mengandalkan pemasukan dari usaha ikan suaminya untuk memberi makan keluarganya yang berjumlah 4 orang. Beliau telah menjadi salah satu CO MAP-Indonesia sejak berpartisipasi dalam pelatihan tentang perkebunan organik. Beliau belajar cara membuat penyubur organik dan mengembangkan perkebunan sayur organik. Beliau juga mempelajari fungsi dari ekosistem mangrove dekat desanya, Dende Dandere, salah satu dari sedikit desa di Tanakeke yang mempunyai lahan cocok untuk pertanian. Beliau dan 24 rekannya dalam pelatihan, sekarang menanam sayuran organik seperti kacang panjang, terong, cabai dan kangkung, untuk memberi makan keluarga mereka dan tidak lagi perlu membeli sayuran di pasar di Kota Takalar. Dengan adanya pasang dan serangan virus, pendapatan suami Mawar tidak stabil dalam beberapa tahun terakhir. Harapan beliau ke depannya adalah dapat memperluas lahan untuk kebun sayurnya dan mendapatkan ekosistem mangrove yang sehat. Dia mengandalkan ekosistem mangrove untuk ikan dan kepiting, di mana yang kecil akan dimakan dan yang besar akan dijual. 
 
Jumriani, berumur 32 tahun, adalah seorang guru SD lokal. Beliau juga seorang anggota dari Womangrove, sebuah perkumpulan wanita di Tanakeke yang belajar tentang pentingnya hutan mangrove bagi lingkungan dan bagaimana merawatnya. Beliau menghargai fungsi perlindungan dari mangrove, di mana mangrove dapat memberikan lebih banyak ikan dan kepiting, dan juga perlindungan dari ancaman cuaca. Dari Womangrove, beliau menghargai adanya suasana keakraban dan pemberdayaan yang tidak beliau punya sebelumya. Sebelumnya, beliau dan teman-temanya lebih sering menghabiskan waktu di rumah, biasanya di dapur, namun sekarang mereka berkumpul secara reguler dan bahkan berkomunikasi dengan pemerintah lokal dan regional. Pada tahun 2012, Jumriani berpartisipasi pada suatu pertukaran edukasional di mana MAP Indonesia memberi beliau kesempatan untuk mengunjungi Maros, Barru untuk menjalin komunikasi dengan partisipan dari pelatihan yang serupa. Pengalaman yang paling tidak terlupakan adalah adanya interaksi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam membagikan kesadaran akan pentingnya hutan mangrove. Partisipasi wanita yang berkualitas dalam manajemen mangrove merupakan salah satu fokus dan inovasi dari program MAP Indonesia di Tanakeke. Melalui Womangrove yang telah menggandeng 40 wanita dari dua desa di Tanakeke, para wanita dapat belajar tentang manajemen kehutanan, manajemen waktu, industri rumah tangga, budidaya rumput laut, dan kemampuan literasi.  
 
Apa yang akan terjadi jika permukaan air terus meningkat di Tanakeke?

 

Tidak ada yang tahu, namun penduduk pulau telah mengambil langkah untuk mengatasi persoalan tersebut. Yang paling terlihat jelas adalah peralihan dari pertambakan ke budidaya laut dan rehabilitasi mangrove. Pemerintah lokal juga telah berkontribusi dengan memberikan peralatan-peralatan seperti mesin desalinasi di Lantang Peo untuk menyediakan air bersih dan rencana pelaithan tentang perubahan iklim. Beberapa harapan ke depannya meliputi listrik 24 jam, sesuatu yang dianggap kemewahan dan hanya bisa ditemukan di desa Dende Dandere dan Kampung Bugis. Mungkin suatu hari nanti juga bisa ada kehadiran dokter, suster dan bidan. 

Inisiasi masyarakat dalam merehabilitasi ekosistem mangrove di Tanakeke mungkin terlihat kecil dalam konteks Bonn Challenge, suatu gerakan global untuk mengembalikan 150 juta hektar hutan sebelum 2020, namun perubahan yang sesungguhnya memerlukan peran lokal. EMR menawarkan pendekatan holistik – menyelesaikan isu hak kepemilikan dan pemanfaatan tanah, menggandeng masyarakat (termasuk wanita) dalam pembuatan kebijakan, mempertimbangkan ekologi dan hidrologi, dan restorasi ekosistem mangrove untuk manajemen hutan yang berkelangsungan.

*

Penulis: Melinda Chickering

Diterjemahkan oleh: Sharon Novita Herlambang (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)